PEKANBARU, datariau.com - Terkait maraknya pemberitaan beberapa tempat prostitusi di Kota Pekanbaru yang membuat masyarakat resah, juga ditanggapi kalangan politisi Partai Politik (Parpol) di Provinsi Riau. Politisi meminta pemerintah segera mencari solusi agar tidak menimbulkan persoalan.
"Kalau langsung ditutup ya bisa saja. Tapi alangkah baiknya pemerintah dan wakil rakyat mencari solusi terlebih dahulu, bukan malah langsung menghukum dan menutup tempat tersebut tanpa ada solusi," ujar Sekjen Garda Pemuda NasDem Riau, Yulia Sari kepada datariau.com, Selasa (14/4/2015).
Dijelaskan Yulia, solusi yang dimaksudkannya disini, tidak melulu harus ada pengorbanan dari implementasi penyakit masyarakat terhadap perekenomian berkehidupan. Artinya, jika pemerintah menggumbar-gumbarkan akan menutup total tempat prostitusi itu, dikhawatirkan berimplikasi timbulnya peningkatan aksi kejahatan dan persoalan baru nantinya di tengah masyarakat.
"Beri mereka pembinaan terlebih dahulu. Sediakan finance dan tempat pembinaan sebelum pemerintah menutup tempat itu. Bercontohlah ke Pemerintah Surabaya, Ibu Walikota Risma berhasil menyelesaikan masalah prostitusi dengan mengalihkan Pekerja Seks Komersial (PSK) itu ke arah perekonomian yang terstruktur dan terencana," paparnya.
Lebih lanjut diterangkan Yulia yang juga menjabat sebagai Direktur Klinik Pekanbaru Sehat Madani (PSM) ini, dengan merazia atau membubarkan tempat prostitusi itu tidak menjamin praktek tersebut sepenuhnya akan terhenti. Bisa saja mereka para PSK muncul lagi jika tidak benar-benar diberikan solusi yang baik.
"Itu sudah tugas pemerintah nantinya yang menaungi mereka ke perekomian yang lebih baik. Misalnya, jadikan mereka asisten rumah tangga, cleaning servis dan bermacam keahlian yang mereka miliki. Sediakan wadahnya dalam pembinaan," pintanya.
Disinggung mengenai dampak negatif, baik dari sudut pandang kesehatan maupun lainnya atas praktek prostitusi yang belum terselesaikan ini, menurut Yulia sebaiknya masyarakat luas mewanti-wanti munculnya pengaruh buruk yang akan timbul seiring kencangnya jarum bom waktu yang berputar.
Praktek prostitusi dapat mempengaruhi dan mengganggu perkembangan psikologis anak yang berdomisili di sekitar area. Selain itu, praktek prostitusi yang menjadi hal yang tak lagi tabu di Kota Metropolitan seperti Pekanbaru ini juga berdampak dengan tingginya peningkatan kasus penyakit kelamin di tengah masyarakat.
Sebab, kata Yulia, penanganan kasus penyakit kelamin ini banyak didasari dari perbuatan seks bebas yang tak bisa dipertanggungjawabkan atau sering bergonta-ganti pasangan seks.
"Ya, selain dampak negatif diatas, praktek prostitusi tidak dimustahilkan akan berkorelasi dengan kriminalitas, kecanduan miras dan obat-obat terlarang. Sudahilah," himbaunya. (kur)