Tren Ikut-ikutan, Kejutan Ulang Tahun Nyawa Melayang

Oleh: Astuti Rahayu Putri
datariau.com
532 view
Tren Ikut-ikutan, Kejutan Ulang Tahun Nyawa Melayang
Ilustrasi.

DATARIAU.COM - Tak bisa dipungkiri, bahwa remaja kerap kali mengikuti tren yang sedang berkembang dilingkungannya. Termasuk tren memberikan kejutan ulang tahun bagi temannya. Sebenarnya sudah sejak lama tren ini dilakukan oleh para remaja. Namun, momen yang seharusnya bahagia ini bisa berujung pada petaka. Hingga menelan korban meninggal dunia.

Seperti yang baru-baru ini terjadi di SMAN 1 Cawas, Klaten. Korban merupakan siswa yang menjabat sebagai Ketua OSIS di SMA tersebut berinisial FN berusia 18 tahun. Ia meninggal dunia akibat tersengat listrik setelah diceburkan oleh teman-temannya ke kolam di sekolah saat perayaan ulang tahunnya pada Senin, 8 Juli 2024 ( sumber: nasional.tempo.co, 10-07-2024)

Tentu, ini menjadi bahan renungan bagi kita. Bagaimana agar fenomena tren ini tak berulang kembali menimbulkan petaka?

Ekspresi Eksistensi Diri Remaja

Memberikan kejutan ulang tahun di kalangan remaja bisa jadi merupakan bentuk eksistensi diri. Namun, perilaku remaja yang masih spontan akibat pemikiran yang belum matang dan mendalam serta abainya terhadap risiko yang mungkin terjadi. Sehingga mengakibatkan dalam mewujudkan eksistensi diri yang tidak tepat. Tak heran jika remaja kini marak terlibat perilaku yang berbahaya, seperti tawuran, merokok, genk motor, perundungan, dan pergaulan benbas.

Ditambah lagi masuknya arus liberalisasi yang semaki kuat. Membuat remaja makin mudah goyah, karena benteng agama sudah diperlemah. Imbasnya, batasan agama kerap kali diacuhkan demi mencari kesenangan duniawi. Perbuatan dilakukan sekedar untuk bersenang-senang dan jauh dari kata produktif.

Di sisi lain dalam sistem pendidikan pun, faktanya anak tak dilatih untuk berpikir secara mendalam dan matang mengenai risiko dan konsekuensi dari setiap perbuatan yang ia lakukan. Sekolah hanya fokus bagaimana menyelesaikan target kurikulum yang diberikan kepada siswa. Tak heran jika hari ini generasi terjebak dalam kegiatan yang tidak produktif dan bahaya.

Solusi dari Islam

Islam memiliki solusi dari berbagai problematika yang terjadi dalam kehidupan ini. Termasuk problematika dalam dunia pendidikan. Dalam Islam sistem pendidikan yang diterapkan berbasis pada akidah Islam. Sehingga anak tidak hanya diajarkan ilmu pengetahuan saja, akan tetapi anak juga akan dibentuk pola pikir (aqliyah) dan jiwa (nafsiyah) yang Islami. Sehingga akan terbentuk kepribadian Islam yang kuat pada diri setiap anak. Melalui kepribadian Islam yang kuat maka kecil kemungkinannya anak akan melakukan perilaku yang bisa membahayakan orang lain. Karena ia sadar betul bahwa itu adalah perbuatan dosa.

Selain itu, sistem pendidikan Islam mengajarkan anak bagaimana memiliki kaidah berpikir yang benar. Sehingga akan menghasilkan amal produktif yang dihasilkan dari berpikir mendalam. Anak yang lahir dari sistem pendidikan Islam akan senantiasa berpikir mendalam dulu sebelum berbuat. Apakah perbuatannya tersebut bermanfaat atau berbahaya bagi dirinya maupun orang lain? Ketika perbuatan itu bisa membahayakan dirinya maupun orang lain tentu ia tidak akan melakukannya. Rasulullah pun tegas melarang umatnya untuk menimbulkan bahya bagi diri maupun orang lain.

Dari Abû Sa’îd Sa’d bin Mâlik bin Sinân al-Khudri, Rasûlullâh ﷺ bersabda, “Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh membahayakan orang lain.”

Maka dari itu, sejatinya kemuliaan generasi bisa diraih dengan menerapkan sistem Islam di tengah-tengah kehidupan saat ini. Karena sejarah pun membuktikan bagaimana generasi-generasi hebat seperti Muhammad Al-Fatih dan Salahudin Ayyubi lahir dari peradaban yang menerapkan Islam secara keseluruhan. Wallahu a'lam bish-showaf. ***

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)