Sudan: Negeri Muslim yang Dijajah

Oleh: Trisia Harmita
datariau.com
889 view
Sudan: Negeri Muslim yang Dijajah
Ilustrasi. (Foto: int)

DATARIAU.COM - Bila Gaza adalah anak kembar, maka saudara kembar identiknya adalah Sudan. Meski kedua bangsa ini memiliki perbedaan etnis, namun derita yang mereka sandang sangat pas untuk menggambarkan keidentikan mereka. Dijajah. Itulah satu kata yang menjadikan dua bangsa tersebut yang kemudian di sepanjang peradaban kapitalisme yang tegak hari ini, berada dalam irisan yang sama.

Jika Gaza dijajah oleh Israel, yang memang merupakaan otak dan pelaku utama penjajahan di Palestina, Sudan dijajah oleh bangsanya sendiri. Mereka yang rela menjadi komprador Amerika, Inggris, UAE, dan Israel sanggup membunuh, mengebom, dan menembaki saudara seakidah dan sebangsa. Ya, pemerintahan Sudan dan pelaku kudeta adalah sama-sama boneka dari negara-negara besar dan berpengaruh.

Sudan memiliki posisi strategis di bagian Afrika Utara yang membentuk jalur alami ke Mesir. Luasnya wilayah geografis Sudan memberinya keluasan SDA, iklim dan berbagai kekayaan yang melimpah. Sudan paling banyak menghasilkan produk-produk pertanian dan peternakan. Keberadaan Sungai Nil menambah suburnya tanah Sudan serta menjadikannya mampu menyediakan cadangan makanan pokok bagi seluruh negeri di dunia Islam, sehingga bisa mencukupi kebutuhan pangan kaum Muslim.

Islam masuk ke Sudan pada masa awal tahun hijriyah, yakni 13 H melalui tangan Abdullah bin Ubay as Sarh pada masa Khalifah Utsman bin Affan radhiyallahu anhu di wilayah Mesir.

Perut buminya juga kaya dengan emas, krom, dan mika, ditambah lagi dengan derasnya semburan sumur-sumur minyak bumi di wilayah pedalamannya. Potensi inilah yang menjadikan Sudan begitu berkilau di mata para penjajah.

Tahun 1922, Inggris membagi Sudan menjadi 2 bagian, Utara dan Selatan dengan tujuan menempatkan institusi orang Arab muslim di Utara dan institusi Kristen di Selatan. Di bagian Utara Sudan didominasi oleh Muslim, sementara bagian Selatan yang diisolasi Inggris membantu para misionaris melakukan upaya kristenisasi besar-besaran sebebas mungkin. Inggris sama sekali melarang dakwah Islam di bagian Selatan.

Sebelum Inggris meninggalkan Sudan tahun 1956 M, Inggris terlebih dahulu menyulut pemberontakan di Sudan Selatan tahun 1955 M. Sejak saat itu, pemerintahan Sudan selalu disibukkan dengan pemberontakan hingga hari ini.

Tahun 1969 M, Ja'far Numeiri yang merupakan kaki tangan Amerika memimpin kudeta militer dan berhasil mencapai puncak kekuasaan yang panjang. Dengan demikian secara tidak langsung, Amerika juga mengokohkan hegemoninya dalam tubuh militer Sudan. Sementara penguasa Muslim sendiri semuanya sepakat untuk membagi Sudan menjadi dua bagian mengikuti keinginan penjajah.

Tahun 1989-1993 Umar al-Basyir, seorang alumnus Akademi Militer Mesir, memimpin Sudan sebagai kepala negara dan resmi menjadi Presiden Sudan sejak 1993 hingga 2019. Sebagai orang nomor satu di Sudan, ia membentuk tentara khusus yang dibayarnya secara pribadi. Tentara ini murni dibentuk oleh dirinya sendiri, bukan diambil dari satuan militer negara.

Umar al-Basyir merekrut tentara betukannya dari kalangan awam yang sama sekali tidak memiliki basic kemiliteran. Latar belakangnya sebagai lulusan akademi militer dan kekuasaan yang ada di tangannya, memudahkan baginya untuk membentuk sebuah tentara militer pribadi yang loyal pada dirinya. Dengan demikian, di Sudan terdapat dua jenis tentara, yaitu tentara nasional Sudan dan tentara bayaran Umar al-Basyir.

Bak senjata makan tuan, pasca covid-19, kekuasaan Umar al-Basyir dikudeta hingga berdarah-darah. Tragisnya, pelaku kudeta tersebut adalah duet antara Jenderal Militer Sudan, yakni Abdul Fattah al-Burhan dan kepala tentara bayaran Umar al-Basyir atau yang biasa disebut sebagai tentara Janjaweed. Setelah mereka berhasil menumbangkan rezim Umar al-Basyir, mereka sepakat untuk menjadikan Abdul Fattah sebagai presiden, dan kepala Janjaweed sebagai wakil.

Hanya saja mereka tidak sepakat dalam hal merumuskan bentuk pemerintahan. Di lain hal, tentara Janjaweed yang didalamnya dihuni oleh orang-orang yang brutal meski mereka adalah muslim, tidak memiliki latar belakang pendidikan, dan sering berbuat kriminal, meminta porsi kekuasaan yang besar dalam pemerintahan. Akan tetapi hal tersebut tidak ditanggapi oleh Abdul Fattah al-Burhan. Maka terjadilah perselisihan dan meletuslah kembali perang saudara di Sudan sejak tahun 2021 hingga saat ini.

Pada tahun 2024, delegasi Sudan diundang ke Israel untuk membahas pembukaan kedutaan besar Israel di Sudan. Sebagai kompensasinya, bila Sudan bersedia mendirikan kedutaan besar Israel di negaranya, pihak Tel Aviv siap memasok pemerintah Sudan dengan dana dan persenjataan lengkap. Sayangnya dalam pertemuan tersebut tidak tercapai kesepakatan diantara mereka.

Di lain tempat, tentara Janjaweed yang kemudian berganti nama menjadi Rapid Support Forces (Pasukan Dukungan Cepat) atau RSF, melakukan berbagai penyerangan di Khortoum ibukota Sudan sejak 2021-2023 sebagai dampak dari ketimpangan pembagian kekuasaan bersama Abdul Fattah al-Burhan pasca kudeta. Bahkan mereka sampai menduduki istana negara. Israel melalui UAE kemudian memasok senjata ke pihak RSF untuk melawan pemerintah Sudan.

Hal ini terbukti dari tudingan yang ditulis pihak Israel melalui media Jerusalem Post dalam artikel "Sudan's Terror Gatekeeper: Israel Must Take Down Iran's Man in Khortoum" (1/7/2025). Dalam artikel tersebut Israel menuding dengan keras bahwasanya Abdul Fattah al-Burhan harus segera ditumbangkan atas dukungannya kepada Hamas dengan memberikan tempat perlindungan pasca Gaza hancur dibom Israel. Indikasi Israel sebagai pemasok senjata untuk RSF juga diperkuat oleh banyaknya video yang beredar di berbagai media sosial bahwasanya amunisi yang dimiliki RSF berasal dari UAE.

Inilah perang saudara yang terjadi di Sudan. Pada akhir 2024, pemerintah Sudan berhasil merebut kembali Khortoum dari RSF. Ini membuat RSF terdesak dan melarikan diri ke daerah Darfur di bagian Barat Sudan. Sampai saat ini, RSF masih melakukan pemberontakan serta tidak berhenti melakukan berbagai penyerangan, pengusiran, dan menebar teror kepada warga Darfur. Persis seperti genosida yang dilakukan Israel di Gaza.

Bagian terpenting dalam peristiwa ini adalah bahwasanya perebutan demi perebutan kekuasaan antar saudara yang terjadi di Sudan adalah wujud hakiki dari perebutan kekuasaan antar penjajah atas kekayaan alam Sudan. Sudan adalah salah satu intan berlian dunia. Ideologi kapitalisme yang mendarah daging di tubuh penjajah Barat adlah awal mula terjadinya bencana ini. Misi gold, glory, dan gospel pada abad pertengahan lalu terbukti masih mereka sebarkan ke seluruh negeri-negeri muslim hari ini.

Pasca runtuhnya Daulah Ustmaniyah sebagai institusi resmi terakhir umat Islam, seluruh wilayah bekas kekuasaan Islam beralih kepemilikan kepada imperialis kafir Barat. Dan menjadi ajang rebutan para negara adidaya terutama setelah berakhirnya Perang Dunia II.

Walaupun diantara sesama negara penjajah memiliki kepentingan yang berbeda di atas tanah-tanah kaum Muslim, bahkan mereka berperang untuk merebutkannya, akan tetapi mereka berada di frekuensi yang sama saat menghadapi Islam dan kaum Muslim, yaitu memeranginya. Mereka bersatu agar Islam runtuh dan menjauhkan Islam dari umatnya.

Maka benarlah firman Allah,

"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti millah mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu." (QS. Al Baqoroh : 120)

Di sisi lain, keruntuhan Daulah juga telah menempatkan 3 kelompok manusia yang ada sejak deqaqitu. Pertama, adalah kelompok Imperialis kafir Barat, yaitu Inggris, Amerika, Rusia, Perancis, termasuk di dalamnya Israel. Merekalah yang menjadi penguasa dibalik kekuasaan boneka yang berada ditangan penguasa Muslim.

Kedua, adalah para kaum muslim yang masih berjalan diatas aqidahnya yang lurus, yang mati-matian mempertahankan dan membela negerinya masing-masing tanpa bantuan dari saudara muslim di belahan bumi yang lain setelah kehilangan perisainya, yakni Daulah Islam sebagai akibat kotomisasi seluruh wilayah bekas kekuasaan Islam.

Ketiga, adalah kelompok munafik berupa para penguasa Muslim yang bersekongkol dengan kafir Barat untuk mendapatkan kekusaan di wilayah mereka. Mereka rela menumpahkan darah-darah saudara mereka sendiri, kaum Muslim, demi melayani kepentingan tuan mereka. Semua ini tentu tidak lepas dari pengaruh wahn dan hubbud dunya yang telah merasuki benak mereka karena terlalu jauhnya mereka dari Islam beserta ideologinya.

Konflik tak berkesudahan di Gaza dan Sudan, sungguh terjadi setelah runtuhnya Daulah Ustmaniyah berkat persekongkolan kafir Barat penjajah dengan kemunafikan penguasa negeri-negeri muslim. Inilah yang menjadi akar permasalahannya, yaitu hilangnya perisai, junnah kaum Muslim. Maka tak salah lagi bila dengan mengembalikan kekuatan global Umat Islam melalui kesatuan komando panglima perang dari Khilafah adalah jawaban atas bercokolnya kuku-kuku tajam kafir Barat penjajah.

Hegemoni Amerika yang saat ini menguasai dunia tidak berarti tidak dapat terkalahkan dan dihancurkan. Justru Amerika tidak memiliki kekuatan untuk berperang secara berhadap-hadapan, ataupun keberanian untuk itu, walaupun persenjataan mereka begitu banyak dan logistik mereka sangat canggih. Bukti akan hal ini adalah kegagalan mereka menyelamatkan diri dari kehancuran di Afghanistan dan Irak saat menghadapi para mujahidin. Israel pun kalang kabut saat Iron Dome mereka berhasil ditembus oleh mujahidin Palestina hingga mereka mengemis untuk gencatan senjata di bulan Ramadhan tahun 2019 yang lalu.

Kita adalah generasi Salahudin Al Ayyubi, Muhammad Al Fatih, dan penakluk bangsa barbar The Viking yang terkenal dengan kekejamannya dan tak pernah terkalahkan. Sungguh hanya Daulah Islam sajalah yang sanggup menyingkirkan Barat penjajah dari arena internasional, menghancurkan dominasi Amerika dalam percaturan global, menyelamatkan dunia dari kejahatan mereka, menghancurkan institusi Yahudi perampas Palestina, bumi Isra' dan Mi'raj, dan negeri-negeri muslim lainnya yang sedang dijajah, dan mengembalikannya secara paripurna ke dalam haribaan Darul Islam.

"Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa" (QS. Al Hajj : 40)

Wallahu a'lam bishowwab.***

Tag:Sudan
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)