DATARIAU.COM - Miris, Indonesia sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim, namun dengan lantang mendukung kerjasama yang ditawarkan oleh Perancis, yaitu negara dengan kebijakan-kebijakan Islamophobia. Kartun penghinaan terhadap Nabi menjadi salah satu kasus yang membuat geram Umat Muslim. Aksi Islamophobia tersebut harus menjadi perhatian bagi Umat Muslim. Ketegasan untuk membela kehormatan Islam sudah seharusnya menjadi sikap yang melekat pada diri pemimpin di negeri-negeri Muslim. Apalagi jika negara tersebut memiliki mayoritas penduduk Umat Muslim, maka menjadi kewajiban moral dan politik untuk melindungi ajaran Islam dari penghinaan dan penodaan.
Baca juga: Hina Nabi Muhammad, Kartunis Asal Swedia Tewas Terbakar dalam Kecelakaan
Namun, dalam sistem sekuler kapitalisme yang memisahkan agama dari kehidupan, termasuk dalam urusan pemerintahan dan diplomasi negara, pemerintah lebih diarahkan pada kepentingan materi dan keuntungan semata. Akibatnya, kehormatan Islam kerap diabaikan ketika berhadapan dengan negara-negara yang menghina atau meremehkan ajaran agama ini, selama hubungan tersebut menguntungkan secara ekonomi atau politik. Sikap diam dan kompromi seperti ini mencerminkan lemahnya keberpihakan terhadap Islam dan menjauhkan umat dari kepemimpinan yang benar-benar membela akidah dan syariat.
Seperti diketahui, Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan Presiden Prancis Emmanuel Macron. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan capaian penting dalam pertemuan bilateral kedua negara. Airlangga mengatakan, sebanyak 26 nota kesepahaman (MoU) telah ditandatangani dalam rangka mempererat kerjasama ekonomi antara Indonesia dan Prancis. Dari jumlah tersebut, 16 MoU disaksikan langsung Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Prancis Emmanuel Macron. Sementara 10 MoU lainnya ditandatangani pada sesi lanjutan. Nilai keseluruhan kerjasama tersebut ditaksir mencapai US$ 11 miliar. (kontan.co.id 28/5/2025)
Islam memberikan pedoman yang jelas tentang bagaimana bersikap terhadap orang-orang yang memusuhi agama Allah. Sikap lemah atau kompromi bukanlah pilihan ketika kehormatan Islam direndahkan, apalagi jika permusuhan itu diwujudkan dalam bentuk kebijakan yang menindas dan menyengsarakan umat. Dalam Al-Qur’an dan sirah Nabi Muhammad, kita mendapati contoh-contoh bagaimana umat Islam diperintahkan untuk tegas, menjaga izzah (kehormatan), dan tidak tunduk kepada mereka yang memerangi agama Allah dan menghalangi dakwah. Ketika kebijakan yang diambil oleh pihak tertentu, baik dari dalam maupun luar negeri, terang-terangan merugikan umat Islam, maka diam dan tunduk bukanlah sikap yang sesuai dengan ajaran Islam. Pemimpin dan umat seharusnya bangkit, menunjukkan keberpihakan kepada syariat, dan menolak segala bentuk penindasan dengan cara yang dibenarkan oleh syariat.
Baca juga: Peran Umat Islam Ketika Rasulullah Dihina
Sejarah mencatat banyak contoh sikap tegas para khalifah terhadap negara-negara penjajah dan kebijakan mereka yang menghina Islam. Para pemimpin dalam Daulah Islam tidak pernah membiarkan penghinaan terhadap agama Allah berlalu tanpa balasan yang setimpal. Ketika kehormatan Islam diganggu, mereka berdiri kokoh membela aqidah dan umat, tanpa tunduk pada tekanan politik atau kepentingan materi. Ketegasan ini lahir dari kesadaran bahwa kepemimpinan dalam Islam bukan sekadar mengurus urusan dunia, tetapi juga menjaga kemuliaan agama dan syariat Allah. Berbeda dengan sistem sekuler hari ini yang cenderung tunduk pada kekuatan asing demi kepentingan ekonomi, para khalifah dahulu menjadikan akidah Islam sebagai poros utama dalam menentukan sikap terhadap negara lain. Maka, sangat jelas bahwa kejayaan dan kehormatan umat hanya akan tegak jika dipimpin oleh pemimpin yang menjadikan Islam sebagai dasar dalam setiap kebijakan. Allahu a'lam bish-shoab.***
Baca juga: Al-Qaeda Ancam Bunuh Charlie Hebdo Terkait Penerbitan Kartun Nabi