Mengkaji Ancaman Kekerasan dan Pembunuhan di Indonesia

Admin
509 view
Mengkaji Ancaman Kekerasan dan Pembunuhan di Indonesia
Ilustrasi (Foto: Internet)

DATARIAU.COM - Tindakan kriminal pada kenyataannya merugikan banyak pihak. Ironisnya, jumlahnya semakin intens dan menjadi pemandangan sehari-hari. Di Indonesia telah beberapa kali tercatat kasus kekerasan dan pembunuhan baik terhadap orang tua, remaja, hingga anak-anak sebagai korbannya. Motif pelaku kejahatan yang dilakukan muncul akibat beberapa persoalan. Persoalan-persoalan tersebut meliputi perasaan sakit hati atau dendam, cinta segitiga atau kecemburuan, perasaan emosi atau merasa terancam dari sang pelaku kejahatan, dan sebagainya.

Dalam artikel “Perlindungan Hukum Terhadap Korban Pembunuhan Sebagai Pembaharuan Hukum Pidana di Indonesia” menyatakan bahwa pembunuhan adalah suatu perbuatan yang dilakukan sehingga menyebabkan hilangnya seseorang dengan sebab perbuatan menghilangkan nyawa. Dalam konteks ilmu pendidikan kewarganegaraan, hal tersebut sudah melanggar Hak Asasi Manusia yakni mengenai hak hidup seseorang. Hak hidup dijamin dalam Pasal 28A Undang-undang Dasar 1945 yaitu “Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya.” Hak ini harus dilindungi oleh hukum dan tidak seorang pun insan manusia yang secara gegabah boleh dirampas hak kehidupannya.

Banyak kasus ancaman kekerasan dan pembunuhan dengan motif yang berbeda-beda. Seperti halnya pada media elektronik melaui telepon genggam dengam mengirim layanan pesan singkat (SMS, WhatsApp, dan media lain). Desakan ekonomi juga menjadi alasan sejumlah orang memilih melakukan tindakan kejahatan. Siapapun yang melakukan kejahatan baik itu pengancaman, pemerasan hingga pembunuhan dapat dikenai hukum pidana.

Pada awal tahun 2022 telah terjadi kasus kekerasan serta pembunuhan terhadap remaja berusia 16 tahun yang berlokasi di Kelurahan Benteng Hilir, Kecamatan Mempura, Kabupaten Siak, Riau. Dimana ditemukan sosok mayat perempuan di sebuah perkebunan sawit. Kekerasan dan pembunuhan tersebut juga disertai dengan pemerkosaan.

Motif Pelaku Pembunuhan Remaja di Siak

Singkat cerita, kasus pembunuhan terhadap remaja di perkebunan sawit diawali dengan korban (VRM) yang ingin meminjam uang untuk membayar hutang. Korban mengirim pesan kepada temannya (AM). Namun, ponsel temannya itu tidak berada padanya melaikan ditangan pelaku (SAS). Pelaku membalas pesan dari korban menggunakan ponsel itu dan menjanjikan akan meminjamkan uang kepadanya.

Korban menemui pelaku seorang diri kemudian pelaku mengajak korban ke perkebunan sawit. Ia mengaku akan menemui ibunya karena uang yang akan dipinjamkan ada pada ibunya. Setibanya dilokasi, pelaku langsung mencekik korban dari arah belakang lalu menyetubuhinya sekali dan mencekiknya hingga tak bernyawa. Pelaku juga menyayat nadi korban agar dianggap melakukan bunuh diri. Selanjutnya, pelaku membuang tubuh korban dan menutupnya dengan ranting pohon.

Keesokan harinya, pelaku meminjam cangkul milik warga dan mengubur jasad korban yang tak jauh dari lokasi pembunuhan. Sebelumya, keluarga korban sudah melaporkan hilangnya VRM ke polres dan kepergiannya pun terungkap 4 hari setelahnya. Dimana jasad korban yang sudah mengeluarkan aroma tak sedap ditemukan warga di perkebunan kelapa sawit itu.

Motif pembunuhan yang dilakukan pelaku awalnya hanya ingin menyetubuhi korban saja. Namun pelaku dihantui rasa takut dan gelisah sehingga ia memutuskan untuk membunuh dan mengubur korban. Kasus ini menjadi perhatian warganet setelah viral dimedia sosial.

Pelaku mengakui perbuatannya dan kini ia menyesali perilakunya itu. Pelaku dijatuhi pidana penjara selama 10 tahun. JPU juga meminta majelis hakim menjatuhkan pidana pelatihan kerja selama 6 bulan yang bertempat di Balai Rehabilitasi Sosial Anak yang Memerlukan Perlindungan Khusus (BRSAMPK) Rumbai, Pekanbaru.

Kirim berita, hak jawab, laporan: 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)