DATARIAU.COM - Kebrutalan zionis kini makin tak terbendung. Bagaimana tidak setelah habis-habisan membombardir Gaza, menciptakan bencana kelaparan sistematis di Gaza, kini para jurnalis dan paramedis terus ditarget untuk semakin menambah bencana demi bencana di Gaza. Zionis ingin menutup kebrutalan yang tiada tara dari mata dunia. Zionis ingin lebih leluasa menjajah tanpa ada kutukan dari dunia.
Pelaparan sistematis yang terjadi di Gaza jelas semakin menambah penderitaan rakyat Gaza. Sejak Juli 2025 saja sudah ada ratusan kasus malnutrisi. Sejak Juni, malnutrisi rakyat Gaza meningkat 3 kali lipat. Satu dari lima anak dibawah usia lima tahun terdampak malnutrisi parah. Berdasarkan survei PLOS One melaporkan pada Mei 2025, ada 98% keluarga di Gaza tidak mendapatkan kelayakan pangan, 95% kelaparan, dan 84% anak-anak kelaparan. Berat badan warga di Gaza rata-rata turun 10,5 kg. Dan Angka BMI, dari 26,4 menjadi 22,8 kg/m². Laporan IPC pada Mei 2025 memperlihatkan 495.000 orang berada pada fase kelaparan ekstrem (IPC Phase 5), dengan risiko berlangsung hingga 2025.
Pada Senin, 7 Juli 2025 lalu, organisasi dokter untuk kemanusiaan Israel, Physicians for Human Rights Israel (PHRI), melaporkan tentang praktik genosida di Gaza. Laporan itu bertajuk “Destruction of Conditions of Life: a Health Analysis of The Gaza Genocide”. Laporan mengungkapkan kebiadaban zionis merupakan tindakan kesengajaan, kumulatif, dan akan terus berlanjut.
Naifnya, pada beberapa kesempatan pihak zionis, melalui Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu membantah isu tentang bencana kelaparan yang dialami rakyat Gaza. Sementara banyak pihak yang menyaksikan kengerian yang terjadi akibat bencana kelaparan yang telah mencapai fase tingkat 5.
Tak hanya menciptakan kelaparan hebat, zionis juga memanfaatkan kesempatan dengan menembaki rakyat Gaza saat sedang berbondong-bondong lari ke titik distribusi bantuan makanan. Tercatat yang syahid lebih dari 1.060 orang, dan 7.200 orang terluka pada Mei 2025. Tentara zionis juga menembaki seorang bocah Gaza yang berusia 5 tahun setelah menerima makanan secara langsung dari tangan tentara Israel. Bocah tersebut tergeletak bersimbah darah.
Sungguh tindakan zionis begitu biadab. Kekejaman demi kekejamannya semakin meningkat. Tragedi memilukan ini dikenal sebagai ”jebakan maut” yang direncanakan zionis. Sejak 7 Oktober 2023 tercatat total korban tewas melampaui 61.000 orang, dan kurang-lebih 150 orang terluka. Dalam 24 jam terakhir ada 87 orang tewas dan 144 orang terluka pada Juli 2025.
Kini zionis terus menarget jurnalis dan paramedis dengan serangan drone dan pembantaian. Bahkan pembantaian itu terjadi ketika siaran live berlangsung. Seperti serangan udara yang dilakukan tentara Israel ke Rumah Sakit Nasser di Gaza pada Senin (25/8/2025). Serangan itu menewaskan sekitar 15 orang, termasuk empat jurnalis yang sedang bertugas. Menurut saksi mata, serangan kedua terjadi setelah tim penyelamat, jurnalis, dan warga mendatangi lokasi serangan pertama. Rekaman siaran langsung Reuters dari rumah sakit, tiba-tiba saja terputus tepat saat serangan itu terjadi. (beritasatu.com, 25/8/2025)
Jurnalis di Gaza memanggil jurnalis-jurnalis internasional lain untuk masuk ke Gaza dan menunjukkan pada dunia apa yang terjadi di Gaza. Agar masyarakat dunia tidak buta dan tuli terhadap apa yang saat ini terjadi di Gaza.
Sebenarnya para pemimpin muslim dan Arab telah mengetahui apa yang terjadi tetapi tidak melakukan apapun. Perundingan-perundingan, pertemuan-pertemuan negara-negara muslim dan internasional membahas tentang Palestina tetapi tidak memberikan solusi hakiki terhadap persoalan Gaza dan Palestina. Karena mereka pada hakikatnya adalah sekutu Israel dan negara-negara kafir Barat.
Sesungguhnya tanah Palestina adalah tanah kaum muslim yang dirampok oleh Zionis Yahudi. Nyatanya dua milyar kaum Muslimin belum juga bersatu untuk melawan kekejian Zionis yang didukung oleh AS dan menuntut penguasa mereka untuk menurunkan pasukan militer untuk menolong Gaza.
Umat Islam harus menyadari bahwa umat ini harus bersatu di bawah satu komando, satu kepemimpinan. Tidak terpecah belah seperti saat ini. Hubbud dunya (cinta dunia) dan takut mati, inilah yang ditakutkan Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam sehingga negeri-negeri Islam mudah dikuasai kafir penjajah. Padahal pembebasan tanah Palestina membutuhkan jihad dan kewajiban jihad telah ada sejak dulu dan terbukti mampu mengakhiri penjajahan.
Allah Subahanahu wa ta'ala berfirman dalam QS Al Baqarah ayat 191 yang artinya, "Perangilah mereka di mana saja kalian menjumpai mereka. Usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian. Fitnah (kekufuran) itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan".***