Memaknai Ulang Kartini di Tengah Narasi Pemberdayaan Perempuan

Oleh: Siti Amie, S.Pd
datariau.com
49 view
Memaknai Ulang Kartini di Tengah Narasi Pemberdayaan Perempuan

Karena itu, solusi atas persoalan ini tidak cukup dengan mendorong kesetaraan dalam kerangka yang sama. Diperlukan perubahan yang lebih mendasar, yakni pada sistem nilai dan aturan yang mengatur kehidupan.

Dalam perspektif Islam, laki-laki dan perempuan dipandang sebagai dua pihak yang memiliki peran berbeda namun saling melengkapi, bukan saling bersaing. Kemuliaan tidak diukur dari kesamaan peran, melainkan dari ketaatan kepada Allah serta kontribusi dalam menjalankan fungsi masing-masing.

Perempuan, dalam posisi ini, memiliki peran strategis sebagai pembangun generasi. Negara pun memiliki tanggung jawab untuk menjamin kebutuhan dasar setiap individu, sehingga perempuan tidak dipaksa memikul beban di luar peran utamanya.

Sejarah menunjukkan bahwa ketika sistem Islam diterapkan secara menyeluruh, masyarakat--termasuk perempuan--mampu hidup dalam kesejahteraan dan keberkahan. Perempuan dapat berkontribusi tanpa kehilangan peran fitrahnya, dan generasi unggul lahir dari tangan mereka.

Akhirnya, memperingati Hari Kartini seharusnya tidak berhenti pada seremoni atau slogan emansipasi. Momen ini semestinya menjadi ruang refleksi untuk memahami kembali arah perjuangan yang sesungguhnya.

Jika tidak, kita berisiko terus mengulang narasi yang menjauhkan perempuan dari peran strategisnya--sekaligus gagal menyelesaikan persoalan mendasar yang mereka hadapi.***

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)