Memahami Hukum Melalui Lensa Teori Pengetahuan

Oleh: Muhammad Rizky Syaputra*
datariau.com
1.880 view
Memahami Hukum Melalui Lensa Teori Pengetahuan

DATARIAU.COM - Dalam setiap sistem hukum, ada dua prinsip utama yang harus dijaga: memastikan bahwa orang yang tidak bersalah tidak dihukum, dan memastikan bahwa korban kejahatan mendapatkan keadilan. Namun, bagaimana kita bisa menyeimbangkan keduanya, terutama ketika bukti yang ada tidak sempurna atau ketika sistem hukum harus memilih antara keadilan yang ideal dan keamanan dalam menghindari kesalahan? Bagaimana teori pengetahuan dapat diterapkan dalam dunia hukum? Di sini, kita akan membahas berbagai aspek pembuktian dalam hukum, sistem hukum yang digunakan di berbagai negara, serta tantangan yang muncul dalam proses hukum yang kompleks.

Bukti Hukum: Lebih dari Sekadar Statistik

Di dunia hukum, ada perbedaan penting antara "bukti hukum" dan "bukti umum" yang diterima dalam kehidupan sehari-hari. Bukti hukum adalah bukti yang bisa diterima di pengadilan dan harus memenuhi standar ketat untuk memastikan bahwa keputusan yang diambil berdasarkan fakta yang benar. Meskipun suatu bukti, seperti statistik yang kuat, bisa memberikan gambaran besar, ia tidak selalu cukup untuk membuktikan sesuatu secara hukum.

Sebagai contoh, bayangkan dalam suatu kasus perdata, Anda memiliki statistik yang menunjukkan bahwa 80% orang yang datang ke sebuah konser menggunakan tiket palsu. Statistik ini memberi indikasi bahwa orang yang hadir di konser kemungkinan besar menggunakan tiket palsu, namun bukti statistik ini sendiri tidak cukup untuk menetapkan tanggung jawab seseorang. Tanpa adanya bukti yang menghubungkan individu dengan tindakannya, statistik semata tidak dapat dijadikan dasar keputusan hukum. Di dunia pidana, persoalannya bahkan lebih kompleks. Pembuktian dalam kasus pidana harus dilakukan tanpa keraguan yang wajar, yang membuatnya jauh lebih sulit untuk menghukum berdasarkan bukti yang satu, meskipun kuat secara probabilistik.

Peran Pembuktian dalam Kasus Pidana: Menghindari Kesalahan Hukum

Dalam kasus pidana, keadilan yang didasarkan pada bukti yang sah sangat penting karena dampak hukumnya yang serius. Beberapa sistem hukum, seperti di Skotlandia, mensyaratkan dua sumber bukti yang terpisah untuk menyatakan seseorang bersalah, guna memastikan keputusan yang adil dan menghindari kesalahan. Hal ini mencerminkan paternalisme epistemik, yang membatasi jenis bukti yang dapat diterima di pengadilan demi melindungi hak individu. Sebagai contoh, bukti tentang hukuman masa lalu terdakwa sering dilarang untuk mencegah bias. Namun, meskipun prinsip ini melindungi dari kesalahan, ia bisa menyebabkan dilema, terutama dalam kasus kejahatan serius. Bukti yang kuat, seperti kesaksian korban dalam kasus penyerangan seksual, kadang-kadang tidak cukup untuk menghukum pelaku, meskipun sangat meyakinkan.

Sistem Hukum Adversarial vs Investigatif: Mencari Keseimbangan

Dalam proses pengadilan, terdapat dua pendekatan utama: sistem adversarial dan investigatif. Sistem adversarial, yang digunakan di negara seperti AS dan Inggris, menekankan peran aktif jaksa dan pembela yang saling beradu argumen, dengan hakim bertindak sebagai penengah. Sistem ini memberi kesempatan kepada kedua pihak untuk mengajukan bukti, namun berisiko menimbulkan ketidakadilan jika salah satu pihak lebih lemah. Sebaliknya, sistem investigatif, yang diterapkan di negara seperti Prancis dan Jerman, memberi peran lebih besar kepada hakim dalam mengumpulkan dan menganalisis bukti, fokus pada pencarian kebenaran, meski ada tantangan terkait independensi hakim. Indonesia menerapkan sistem hukum hybrid yang menggabungkan kedua pendekatan ini, seperti terlihat pada kasus Jessica Kumala Wongso, di mana penyelidikan awal dilakukan secara investigatif dan persidangan menggunakan sistem adversarial. Kedua sistem ini saling melengkapi untuk mencapai keadilan.

Mencari Keseimbangan antara Keadilan dan Keamanan

Salah satu tantangan utama dalam sistem hukum adalah menyeimbangkan keadilan bagi korban dan menghindari kesalahan yang dapat menghukum orang yang tidak bersalah. Sistem hukum yang terlalu ketat dalam pembuktian bisa sulit menuntut pelaku, sementara yang terlalu longgar berisiko menghukum yang tidak bersalah. Sebagaimana rumus Blackstone yang digagas oleh Sir William Blackstone (1723-80) seorang hakim dan politikus Inggris yang menyatakan bahwa lebih baik membebaskan sepuluh orang bersalah daripada menghukum satu yang tidak bersalah, meskipun penerapannya masih diperdebatkan. Sistem hukum ideal harus memastikan bukti cukup kuat untuk menunjukkan kesalahan tanpa keraguan, namun juga melindungi hak-hak individu. Namun, untuk menghindari kesalahan, terkadang keadilan bagi korban, seperti dalam kasus penyerangan seksual atau kekerasan dalam rumah tangga, harus dikompromikan karena keterbatasan bukti yang ada.

Dengan menggabungkan elemen-elemen sistem adversarial dan investigatif, Indonesia memiliki tantangan besar dalam menyeimbangkan keadilan bagi korban dan perlindungan terhadap hak-hak individu. Oleh karena itu, penting bagi sistem hukum Indonesia untuk terus memperkuat mekanisme pembuktian yang adil, agar keputusan hukum dapat tercapai dengan tepat dan memberi rasa keadilan bagi semua pihak.

Sumber: Duncan Pritchard (2018), What Is This Thing Called Knowledge, Fourth Edition.


*) Penulis merupakan Mahasiswa S2 Pendidikan Matematika Universitas Pendidikan Indonesia

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)