Ironi Negeri Agraris: Harga Beras Tinggi, Pendapatan Petani Rendah

Oleh: Isnani, S.I.Kom
datariau.com
1.088 view
Ironi Negeri Agraris: Harga Beras Tinggi, Pendapatan Petani Rendah
Ilustrasi.

DATARIAU.COM - Tingginya harga beras di Indonesia menjadi ironi disaat Indonesia dikenal sebagai negeri agraris, yang berlimpah sumberdaya pertanian. Bahkan Bank Dunia mencatat harga beras di Indonesia tergolong mahal jika dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara.

Country Director for Indonesia and Timor Leste World Bank, Carolyn Turk menyatakan, harga beras di Tanah Air terbilang mahal, ketimbang negara lain. Untuk mendapatkan beras di Indonesia, masyarakat harus merogoh kocek 20 persen lebih mahal ketimbang masyarakat dari negara lain (asumsi.co).

Naiknya harga beras yang begitu tinggi ini disebabkan oleh pembatasan impor beras dan adanya keputusan pemerintah untuk menaikkan harga jual beras di Tanah Air, yang menyebabkan melemahnya daya saing pertanian.

Tingginya harga beras, tidak diiringi dengan peningkatan kesejahteraan petani padi. Ironisnya, pendapatan petani justru semakin rendah. Berdasarkan data BPS pendapatan petani di Indonesia sangat kecil. Fakta mengungkapkan setiap tahun petani Indonesia hanya mendapatkan penghasilan 5jt rupiah. Sementara penghasilan petani sehari-hari hanya sekitar Rp 15rb. (asumsi.co)

Kemiskinan petani di Indonesia memang sudah berlangsung sejak lama. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, penghasilan bersih rata-rata petani Indonesia hanya Rp 1,59 juta perbulan. Beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya produktivitas petani diantaranya, yakni minimnya sarana produksi dan kurangnya insentif pemerintah.

Berkuasanya para oligarki dari hulu ke hilir pertanian Indonesia juga menjadi sebab lemahnya pertanian dan pendapatan petani Indonesia. Biaya produksi yang tinggi membuat beras semakin mahal, sementara petani harus mandiri dan tidak diberi bantuan oleh pemerintah.

Di sisi lain, banyak ritel bisnis beras yang seringkali memainkan harga sehingga menyebabkan terbukanya peluang impor beras kembali terbuka. Hal ini hanya akan menguntungkan oligarki dan menyengsarakan petani.

Inilah buah sistem ekonomi kapitalis, yang memposisikan negara hanya sebagai regulator dan fasilitator. Mirisnya lagi, negara bergerak dan berpihak kepada para oligarki. Seharusnya negara menyediakan lahan untuk ketahanan pangan, pupuk yang terjangkau, dan pengadaan alat alat pertanian yang canggih serta bibit yang unggul. Semua itu akan membantu meningkatkan kemampuan para petani sehingga akan semakin ahli.

Sungguh, fakta di atas sangat berbeda jauh dengan kesejahteraan pertanian dan petani dalam Islam. Dalam sistem Islam ketahanan dan kedaulatan pangan ditempatkan sebagai basis pertahanan ekonomi negara dan basis menyejahterakan rakyat.

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)