DATARIAU.COM - Menjelang HUT ke-80 Kemerdekaan RI, tokoh lintas agama menyampaikan Deklarasi Damai dalam Silaturahmi Nasional Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) di Serpong, Rabu (6/8/2025). Deklarasi dibacakan Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama, Adib Abdushomad, bersama 6 perwakilan majelis agama. Mereka menegaskan perayaan kemerdekaan menjadi momentum memperkuat komitmen kebangsaan, cinta tanah air, dan persatuan NKRI sebagai bagian dari pengamalan agama dan Pancasila menuju Indonesia Emas 2045 (Kemenag, 06/08/2025).
Deklarasi memandang kemajemukan sebagai rahmat dan kekuatan sosial yang harus dijaga serta diwariskan. Para tokoh menyoroti kewaspadaan terhadap potensi gangguan hubungan antarumat beragama, termasuk pentingnya komunikasi terbuka untuk mencegah konflik, seperti perusakan rumah ibadah yang pernah terjadi (Kemenag, 06/08/2025).
Selain itu, deklarasi menekankan kepedulian terhadap isu kemanusiaan--konflik, ketidakadilan, kemiskinan, dan kerusakan lingkungan--serta mendorong dialog dan sinergi antara pemerintah, aparat, dan FKUB dalam edukasi, deteksi dini, serta penanganan intoleransi secara adil. (Kemenag, 06/08/2025)
Di sisi lain, Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Nusantara (KSPN), Ristadi, mengemukakan bahwa pada periode Agustus 2024 hingga Februari 2025 terjadi penurunan signifikan dalam jumlah tenaga kerja. Penurunan ini terjadi bukan hanya pada konsumsi rumah tangga, tetapi juga pada belanja pemerintah untuk industri barang dan jasa yang bergantung pada permintaan domestik. (Metro TV, 08/08/2025)
Data BPS menunjukkan 939.038 pekerja di-PHK, penyerapan 523.383 orang, sehingga total tenaga kerja berkurang 415.655 orang. (Metro TV, 08/08/2025)
Fakta Penerapan Sistem Sekuler-Kapitalisme
Peringatan 80 tahun kemerdekaan RI diliputi dengan ironi. Ada banyak persoalan di berbagai bidang kehidupan. Di bidang ekonomi, banyak terjadi PHK terhadap pekerja pada berbagai sektor, seperti industri tekstil, teknologi, dll. Penghasilan masyarakat stagnan atau bahkan turun, sedangkan pengeluaran makin besar karena harga-harga melambung tinggi dan banyak pungutan dari negara, akibatnya masyarakat terpaksa makan tabungan. Kondisi ini rawan menjatuhkan warga kelas menengah ke jurang kemiskinan.
Persoalan lain yang juga terjadi adalah pembajakan potensi generasi untuk mengokohkan kapitalisme. Juga penanaman berbagai pemikiran rusak seperti deradikalisasi, Islam moderat, dialog antar agama, dll, yang menjadikan umat jauh dari pemikiran Islam. Pemikiran itu juga penjajahan umat hari ini, sehingga tak bisa berpikir shahih.
Nampaklah bahwa sejatinya Indonesia meski sudah merdeka dari penjajahan fisik, sejatinya Indonesia masih terjajah secara hakiki. Kemerdekaan seharusnya tampak pada kesejahteraan rakyat, yaitu terpenuhinya kebutuhan dasar tiap rakyat. Ketika rakyat kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari, esensinya Indonesia belum merdeka secara hakiki. Kemerdekaan juga nampak ketika umat Islam dapat berpikir sesuai dengan Islam.
Kondisi ini merupakan akibat penerapan sistem sekuler kapitalisme yang tidak berpihak pada kesejahteraan rakyat, tetapi malah melayani kepentingan kapitalis. Akibatnya, kapitalis makin kaya, sedangkan rakyat makin miskin.
Islam Memperhatikan Kesejahteraan Umat
Penerapan syariat Islam dalam kehidupan adalah kebutuhan dan solusi hakiki atas kondisi ini. Sistem Islam mampu menyejahterakan rakyat dengan mengelola kepemilikan umum dan mengalokasikan hasilnya untuk kesejahteraan rakyat. Negara menjamin kesejahteraan rakyat dengan memenuhi kebutuhan pokok rakyat (sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan, keamanan). Negara melakukan industrialisasi sehingga membuka lapangan pekerjaan. Negara juga memberikan tanah bagi yang mau menghidupkan. Bagi fakir miskin, negara memberikan santunan dari baitulmal.
Sistem Islam juga menjaga pemikiran umat tetap selaras aturan syariat dan hidup dalam ketaatan kepada Allah. Untuk meraih kemerdekaan hakiki, butuh aktivitas perubahan hakiki. Saat ini sudah ada geliat perubahan di tengah masyarakat, seperti fenomena One Piece, dll. Namun, belum menyentuh akar permasalahan, yaitu keberadaan sistem kapitalisme. Untuk itu, perlu perubahan hakiki yang dipimpin oleh dakwah Islam ideologis yang melakukan perubahan hakiki dari sistem kufur menuju sistem yang makmur. Wallāhu a‘lam bish-shawāb.***