DATARIAU.COM - Peristiwa generasi yang kehilangan jati diri terus berulang terjadi di negeri ini. Diwartakan TRIBUN-VIDEO.COM Jumat, 27 Januari 2026, aksi nekat seorang mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim (Suska) Riau membacok rekannya sendiri kini menjadi sorotan.
FAP (23) dibacok oleh rekan kuliahnya, RM (21). Motif di balik peristiwa pembacokan tersebut adalah percintaan. Motif percintaan mejadi alasan berbuat kriminal saat ini makin sering terjadi. Hal ini memunculkan pertanyaan yang sangat mendasar tentang kondisi generasi negeri ini “Sebegitu Rapuh Kah?”
Generasi muda adalah tumpuan harapan bangsa, estafet peradaban berada di pundak generasi muda. Tetapi ironis, perilaku pemuda justru dekat dengan aktivitas kekerasan, pembunuhan dan pergaulan bebas. Kenapa hal itu bisa terjadi? Beberapa akar permasalahan sebagai berikut:
1. Akibat masyarakat banyak yang memahami bahwa kehidupan dunia itu terpisah dan tidak ada hubungannya dengan kehidupan akhirat. Mereka beranggapan bahwa hidup itu sekali maka harus bebas mencari kebahagiaan. Mereka beranggapan apapun yang lakukan di dunia ini tidak ada pertanggungjawaban. Inilah yang disebut memisahkan aturan Allah dengan urusan dunia atau sekulerisme;
2. Dalam norma sekulerisme, standar dalam bertingkah laku adalah kebebasan tanpa memikirkan dampak bagi orang lain;
3. Norma kebebasan menyebabkan normalisasi serba permisiv, semua serba boleh, bebas dan orang lain tidak boleh ikut campur, akibatnya marak pergaulan bebas (pacaran, perselingkuhan dll) di tengah masyarakat, yang pada akhirnya ada yang berujung pada tindak kriminal;
4. Kurangnya pembinaan generasi dari aspek pembentukan kepribadian yang memiliki karakter yang unik. Saat ini pembinaan generasi hanya difokuskan agar produktif dan bernilai ekonomi semata.
Keempat point akar permasalahan tersebut harus segera diselesaikan, agar negeri ini penuh dengan generasi yang memiliki jati diri yang mampu menjaga marwah bangsa ini. Agar umat Islam segera kembali menjadi umat yang terbaik sebagaimana difirmankan Allah dalam Surat Ali Imran ayat 110, yaitu kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.
Mekanisme konstruksi pembentukan kharakter generasi yang unik sesuai gambaran dalam firman Allah tersebut, adalah sebagai berikut:
1. Dalam pendidikan Islam, dibangun atas dasar aqidah dengan tujuan membentuk pemikiran dan pola sikap yang sesuai dengan aturan Allah. Sebagaimana yang sudah pernah terjadi, dalam pendidikan Islam mampu melahirkan generasi hebat, generasi kuat sekelas Ibnu Sina (bapak kedokteran), Jabir (bapak Kimia), Al Khawarizmi (penemu angka nol) dan masih banyak ilmuwan muslim yang dicetak dengan sitem pendidikan Islam tersebut;
2. Generasi umat ini harus disadarkan agar memiliki kesadaran untuk taat pada aturan Allah, memiliki standar halal haram dalam perbuatan, bertanggung jawab atas perbuatannya, dan memiliki ketaqwaan. Bukan hanya fokus pada pada capaian nilai akademik dan keterampilan semata.
3. Dibutuhkan peran masyarakat yang selalu meningkatkan pada kebaikan dan mencegah kemunkaran. Karena aturan Islam itu tidak didesign untuk sholeh sendiri. Aturan Islam itu didesign untuk sholeh dan taat harus bersama sama dengan masyarakat yang memiliki pemahaman, standar dan ketaatan pada aturan Allah.
4. Aturan dan sanksi dari Allah Sang Pencipta, Sang Pengatur diterapkan dalam seluruh lini kehiduan ini. Agar lahir generasi yang memiliki ciri khas yang mampu menjaga marwah sebagai seorang muslim.
Sadarlah wahai para orang tua, sadarlah kaum muslimin bahwa generasi ini harus segera diselamatkan. Sadarlah wahai para pemuda, jadilah generasi yang berisi kebaikan dan kebenaran, bukan generasi yang kehilangan jati diri sebagai muslim sejati. Wallahu A’lam bi showab.***