DATARIAU.COM - Melihat hal tersebut, kami berharap kita jangan dulu langsung mengaitkannya dengan berbagai asumsi bahwa kasus covid-19 hanyalah konspirasi ataupun berpikir telah terjadi diskriminasi pada negara kita.
Ketika mendapatkan kondisi berbeda antar negara maka selayaknya kita harus terlebih dahulu mencari adakah perbedaan karakteristik dasar sehingga terjadi perbedaan kondisi tersebut.
Demikian pula jika seandainya kita seorang muslim, dianjurkan mencari udzur yang mungkin menyebabkan terdapatnya perbedaan perlakuan antara satu tempat dengan tempat lain.
Dan semua itu dalam rangka menumbuhkan prasangka baik (husnudhan) dan mencegah terjadinya fitnah.
Jika kita melihat kepada negara Amerika Serikat (USA), sebenarnya relaksasi protokol kesehatan sudah dilakukan sejak beberapa pekan yang lalu. Mengapa hal itu terjadi?
Kondisi Negara Amerika Serikat (USA)
Sebulan yang lalu atau pada 16 Mei 2021 CDC (Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit USA) mengeluarkan pernyataan bahwa masyarakat yang mendapatkan vaksin covid-19 secara lengkap tidak diwajibkan lagi memakai masker.
Definisi mendapatkan vaksin secara lengkap adalah masyarakat yang telah melewati 2 pekan dari mendapatkan dosis kedua pada vaksin dengan dua dosis atau telah melewati 2 pekan dari mendapatkan dosis pertama pada vaksin dengan satu dosis.
Meskipun demikian CDC tetap mewajibkan orang-orang yang memiliki kondisi tertentu, seperti pada orang yang memiliki penyakit autoimun atau yang harus mengkonsumsi obat yang dapat menurunkan sistem imun, agar tetap memakai masker.
Dan yang perlu kita perhatikan juga dalam hal ini adalah CDC menggaris bawahi bahwa pernyataan ini tetap harus mengikuti peraturan pada masing-masing negara atau area.
Mengapa CDC perlu menggaris bawahi hal ini? Karena pernyataan CDC mengenai relaksasi protokol kesehatan tersebut dikeluarkan hanya untuk negara USA dimana cakupan imunisasi covid-19 sudah lebih dari 50 persen.
Artinya, pelonggaran protokol kesehatan hanya dapat dilakukan pada orang-orang yang sudah melengkapi vaksinasi dan berada pada populasi dengan cakupan vaksinasi tinggi (>50%).
Redaksional pernyataan inipun sebenarnya masih mendapat tentangan dari sebagian ahli di USA (diantaranya dari dr. Leana Wen, seorang profesor ilmu kesehatan masyarakat di George Washington University), karena CDC hanya menyatakan suatu pernyataan yang bersifat sangat umum untuk ditafsirkan yaitu orang yang sudah divaksin lengkap tidak perlu memakai masker lagi.
Hal ini tentu akan menimbulkan persepsi masyarakat awam bahwa masker memang sudah tidak diwajibkan. Padahal seharusnya adalah orang yang sudah di vaksin lengkap dan berada diantara orang-orang yang juga sudah di vaksin lengkaplah yang boleh tidak memakai masker.
Jadi, bukan berarti setiap orang yang sudah mendapat vaksin lengkap dapat melepas masker di sembarang aktivitas dan tempat.
Pada 15 Juni 2021 cakupan vaksinasi di USA adalah 52 persen sedangkan Indonesia baru 7,46 persen. Diantara 7,46 persen ini yang memperoleh dosis lengkap baru 4,3 persen.
Kondisi Negara Eropa
Pertandingan sepakbola piala Eropa yang mempertemukan Hungaria dan Portugal dipenuhi penonton di stadion Budapest dan dilakukan tanpa protokol kesehatan (tanpa jaga jarak dan tanpa memakai masker).
Pertandingan itu diadakan di Hungaria. Mengapa hal ini dapat terjadi pada masa pandemi? Bagaimana kondisi sebenarnya?
Cakupan vaksinasi di Hungaria sudah 55,5 persen. Orang-orang yang boleh datang ke stadion hanya orang-orang yang dapat menunjukkan bahwa mereka sudah di vaksin.
Selain itu bagi penggemar tim tamu yakni pendukung Tim Portugal di wajibkan juga sudah menjalani vaksinasi dengan cara menunjukkan bukti dan wajib memiliki hasil test PCR negatif yang dilakukan beberapa saat sebelum kick off (bukan beberapa hari sebelumnya) sehingga jelas saat masuk stadion mereka memang benar-benar tidak membawa virus!
Aturan ketat juga dilakukan oleh negara Eropa lainnya. Inggris dan Belanda mewajibkan pelancong sepakbola untuk karantina 10 hari. Negara lain yang juga menerapkan karantina untuk pelancong sepakbola adalah Rusia dan Azerbaijan.
Sedangkan Denmark tidak membolehkan sama sekali pelancong sepakbola masuk negaranya. Sebagaimana kita ketahui bahwa pertandingan sepakbola piala Eropa saat ini tidak menggunakan satu negara tuan rumah, tetapi dengan format baru 11 negara penyelenggara yang artinya masing-masing kesebelasan negara tersebut memiliki aturan sendiri bagaimana mengendalikan kasus covid-19 di negaranya.
Penonton dari Turki sama sekali tidak boleh menyaksikan langsung ajang pembuka turnamen ini ketika timnas Turki melawan Itali. Hal ini karena pemerintah Itali menganggap kasus covid-19 Turki belum terkendali sehingga penonton dari Turki tidak diperbolehkan masuk ke negara Itali.
Aturan pemenuhan kapasitas stadion juga berbeda untuk masing-masing negara, tergantung kondisi dari negara tersebut. Bahkan UEFA tidak segan mencoret stadion yang berada di negara dengan kasus covid-19 yang belum terkendali.
Stadion Dublin Irlandia misalnya adalah salah stadion yang tidak jadi digunakan sebagai venue pada turnamen ini. Hanya stadion Budapest Hungaria yang diperbolehkan mengisi 100 persen kapasitas stadionnya.
Oleh sebab itu, kita melihat stadion tersebut penuh pada laga Hungaria melawan Portugal yang lalu. Stadion lain ada yang hanya diperbolehkan mengisi 25 persen yaitu seperti stadion Olimpico Roma saat pembukaan piala Eropa ini, juga stadion Wembley di London.
Sedangkan stadion St Petersburg dan stadion Baku hanya diperbolehkan mengisi 50 persen kapasitas stadion. Semua keputusan itu bergerak dinamis tergantung kondisi negara tersebut saat itu (kita belum tahu apakah di partai final nanti pemerintah Inggris mengubah ketentuan kapasitas penonton ini).
Bagaimana dengan anggota tim sepakbola sendiri? Masing-masing negara juga memiliki aturan ketat terhadap hal ini. Skotlandia misalnya mewajibkan test PCR bagi setiap anggota tim sepakbola, jika ada satu saja yang positif maka semuanya wajib menjalani karantina!
Negara lain juga menerapkan pemeriksaan swab bagi setiap anggota tim sepakbola mereka. Pemain yang memiliki hasil positif tidak diperbolehkan untuk bergabung bersama anggota tim lainnya (tidak diperbolehkan turut ikut turnamen). Dan pemeriksaan swab ini dilakukan setiap akan memulai pertandingan!
Syarat Cakupan Vaksinasi Sebagai Dasar Relaksasi Kebijakan Protokol Kesehatan
Berapa angka cakupan minimal yang harus dicapai oleh suatu negara? Dari basis R0 virus SARS-COV-2 varian awal, proporsi cakupan minimal untuk kasus Covid-19 adalah sekitar 70 persen, tetapi angka ini adalah angka dengan simulasi keefektivan vaksin 100 persen.
Semakin rendah angka ke efektifan vaksin yang digunakan oleh suatu negara, yang diperoleh dari bukti ilmiah, maka cakupan vaksinasi menjadi semakin tinggi untuk mencapai kekebalan populasi.
Dengan demikian tidak hanya cakupan pada angka tertentu saja yang menjadi patokan yang menentukan kebijakan relaksasi protokol kesehatan pada suatu negara, tetapi ada variabel angka keefektifan vaksin juga yang berpengaruh disana.
Amerika Serikat mungkin menggunakan patokan cakupan vaksinasi 50 persen, tetapi yang perlu kita ingat, mereka menggunakan vaksin yang berbeda angka keefektifannya dengan Indonesia.
Angka keefektifan masing-masing vaksin yang digunakan setiap negara dapat kita telusuri dari berbagai literatur yang ada. Sehingga keputusan Indonesia dalam hal ini juga tidak bisa serta merta sama persis dengan USA atau negara Eropa yaitu dengan target 50 persen.
Secara logika, jika Indonesia menggunakan vaksin yang angka keefektifannya lebih rendah dibandingkan vaksin yang digunakan di USA dan negara Eropa, maka tentu cakupan vaksinasi yang harus dicapai oleh Indonesia harus lebih dari angka cakupan vaksinasi di USA dan negara Eropa (lebih dari 50 persen).
Faktor lain yang dapat memengaruhi kebijakan suatu negara dalam hal ini adalah tren epidemiologi penyakit covid-19 di suatu negara, upaya memotivasi yang belum di vaksin dan aspek social determinant of health.
PENUTUP
Dengan demikian jelaslah perbedaan kondisi antara negara kita dengan negara USA dan Eropa. Kita tentu ingin dapat beraktivitas bebas kembali seperti mereka. Oleh sebab itu, salah satu langkah yang dapat kita lakukan adalah memberikan edukasi pentingnya vaksinasi covid-19 kepada masyarakat yang ada di sekitar kita serta mengajak mereka untuk mengikuti program vaksinasi covid-19 untuk mempercepat terkendalinya wabah ini.
Cakupan vaksinasi covid-19 di Indonesia saat ini berbeda jauh dengan USA dan negara Eropa sehingga kebijakan relaksasi protokol kesehatan seperti membolehkan tidak menggunakan masker, pelonggaran kebijakan menjaga jarak dan pelonggaran aturan pembatasan berkumpul dengan banyak orang belum tentu efektif dilakukan di Indonesia saat ini.
Relaksasi protokol kesehatan di negara USA dan Eropa itupun dibatasi dengan syarat ketat yaitu pada orang-orang yang sudah melengkapi vaksinasi covid-19 dan orang-orang tersebut berada pada kerumunan orang-orang yang juga sudah melengkapi vaksinasi covid-19 atau benar-benar berada dalam kondisi yang tidak terinfeksi virus SARS-COV-2 yang dibuktikan dengan hasil swab PCR Covid-19 yang negatif pada saat itu (bukan pada sembarang tempat, sembarang aktivitas ataupun sembarang kondisi).
Perawang, 18 Juni 2021: 10.00 WIB
Ketua Tim Mitigasi Covid-19 IDI Cabang SiakRSUD Perawang dr. Hasriza Eka Putra