Wacana Guru Impor: Guru Berkualitas, Akan Lahirkan Generasi Cerdas

datariau.com
1.039 view
Wacana Guru Impor: Guru Berkualitas, Akan Lahirkan Generasi Cerdas
Ilustrasi (Foto: Internet)
DATARIAU.COM - Aksi impor sudah tidak menjadi hal asing lagi. Saat ini, impor disematkan terhadap bahan pangan dan ketenaga kerjaan. Impor dilakukan guna memenuhi kebutuhan suatu negara agar tidak mengalami krisis.

Sungguh mengejutkan hati, jika ada wacana dari Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Puan Maharani impor akan diberlakukan terhadap guru. Guliran wacana ini sontak menjadi buah bibir di dunia pendidikan. Pihak pihak yang terkait dalam pendidikan langsung angkat bicara mengenai wacana ini.

Menurut Menko PMK Puan Maharani saat ini Indonesia sudah bekerja sama dengan beberapa negara untuk mengundang para pengajar, salah satunya dari Jerman.

"Kami ajak guru dari luar negeri untuk mengajari ilmu-ilmu yang dibutuhkan di Indonesia," ujar Puan dalam musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional Bappenas, di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat. (Tirto.id).

Wacana yang digulirkan Menko PMK Puan ini menuai kritik dari Ketua Umum Ikatan Guru Indonesia (IGI), Muhammad Ramli Rahim. Ia mengatakan jumlah guru di Indonesia sudah mencukupi.

"Dengan jumlah mahasiswa 1,44 juta maka diperkirakan lulusan sarjana kependidikan adalah sekitar 300.000 orang per tahun. Padahal kebutuhan akan guru baru hanya sekitar 40.000 orang per tahun," ujar Ramli.

Selain Muhammad Ramli Wakil Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Satriwan Salim juga angkat bicara. Satriwan  menilai, wacana pemerintah mengundang guru dari luar negeri untuk menjadi tenaga pengajar di Indonesia keliru. "Menko PMK kurang bijak," ujar Satriwan kepada reporter Tirto.

Jika kita melirik dunia pendidikan saat ini sepertinya berada pada kondisi yang kritis dan krisis moral. Bagaimana tidak, dari berita yang bersliweran tindak kriminalitas dibintangi oleh para pelajar. Dari aksi tawuran, pembegalan, pacaran, pembunuhan, ngebully, aborsi hingga narkoba pemerannya dibintangi oleh pelajar. Tentu hal yang demikian benar benar membuat hati teriris dan menangis.

Dari sikap yang ditampakkan dari pelajar telah memperlihatkan potret pendidikan hari ini. Tentu ini bukan permasalahan yang sepele. Akan tetapi, sudah menjadi permasalahan yang kritis. Sehingga dalam menuntaskannya harus dengan dosis yang tepat.

Antara pelajar dan guru bagaikan mata rantai yang tidak bisa dipisahkan. Keberhasilan seorang pelajar sangat ditentukan oleh guru. Tatkala seorang guru memiliki sikap yang tidak baik maka generasi pun memiliki sikap yang tidak baik. Sebaliknya, jika seorang guru memiliki sikap yang baik maka generasi juga memiliki sikap yang baik. Karena guru adalah sosok yang digugu dan ditiru.

Menyikapi fakta rusaknya generasi yang sedang hits di dunia pendidikan saat ini, Ramli memberi solusi dari pada melakukan impor guru asing lebih baik meningkatkan kompetensi dosen-dosen LPTK sebagai penghasil guru.

"Diganti semuanya dengan dosen luar negeri. Biar mampu menghasilkan guru-guru terbaik, jika asumsinya orang luar negeri lebih baik dari kita," ujar Ramli.

Satriwan juga  menyarankan pemerintah memberdayakan guru-guru yang dikirim belajar dan kuliah ke luar negeri oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

"Semestinya guru-guru Indonesia yang baru pulang belajar dari luar negeri inilah yang melatih guru dan mentransfer ilmunya kepada guru-guru di dalam negeri. Ini yang mesti dilakukan, bukan malah berniat mengimpor guru," ujarnya.

Untuk mewujudkan generasi yang cerdas memang harus diawali dari sosok guru yang berkualitas. Untuk mewujudkan ini juga tidak bisa terlepas dari sistem yang sehat.

Islam memandang guru memiliki posisi yang mulia, mampu mengembalikan generasi menjadi generasi yang cerdas dan menjadi suri tauladan bagi generasi. Seorang guru harus memahami perannya yaitu  membentuk anak didik yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, memiliki karakter, menguasai sains teknologi dan berbagai keterampilan yang diperlukan dalam kehidupan.

Selain itu, kualitas guru harus ditingkatkan. Dengan memposisikannya sebagai pendidik yang berbasis aqidah Islam, sehingga memiliki kepribadian Islam yang amanah, Kafa'ah/Profesional  dan himmah (etos kerja), senantiasa mengaitkan ilmu yang diajarkan dengan islam.

Sistem pendidikan Islam menjadikan akidah Islamiyah sebagai dasarnya. Karena itu keimanan dan ketakwaan juga akhlak mulia akan menjadi fokus yang ditanamkan pada anak didik. Halal haram akan ditanamkan menjadi standar. Dengan begitu anak didik dan masyarakat nantinya akan selalu mengaitkan peristiwa dalam kehidupan mereka dengan keimanan dan ketakwaannya.

Oleh karena itu, untuk mencetak generasi cerdas ditentukan optimalisasi peran pendidik yang melakukan proses pendidikan, pengarahan, pembinaan, dan keteladanan terhadap para siswanya melalui pendidikan islami dengan menerapkan sistem pendidikan islami secara menyeluruh.

Dengan semua itu, Pendidikan Islam akan melahirkan pribadi muslim yang taat kepada Allah selalu mengerjakan perintahNya dan meninggalkan laranganNya. Ajaran Islam akan menjadi bukan sekedar hafalan tetapi dipelajari untuk diterapkan, dijadikan standar dan solusi dalam mengatasi seluruh persoalan kehidupan.

Ketika hal itu disandingkan dengan materi sains, teknologi dan keterampilan, maka hasilnya adalah manusia-manusia berkepribadian Islam sekaligus pintar dan terampil. Kepintaran dan keterampilan yang dimiliki itu akan berkontribusi positif bagi perbaikan kondisi dan tarap kehidupan masyarakat.

Kita dapat melihat generasi gemilang terdahulu saat adanya Sistem Islam. Seperti muhammad Al fatih sang pembebas konstatinopel (Turki) yang memiliki kualitas yang sangat luar biasa, seorang ahli perang, menguasai tujuh bahasa, memiliki etos kerja dan semangat yang sangat tinggi, serta tingkat ketaqwaan yang  tinggi. Selain Al Fatih ada banyak generasi cemerlang seperti Al Khawarizmi penemu angka nol,  Al Farabi penemu nada (do re mi), Ibnu Firnas penemu aerodinamik (prinsip peswat terbang), Ibnu Sina sebagai bapak ilmu kedokteran dan Ibnu Haitam penemu bidang fisika dan alat optik.

Untuk mewujudkan semua itu, Islam menetapkan bahwa negara wajib menyediakan pendidikan yang baik dan berkualitas secara gratis untuk seluruh rakyatnya. Negara Islam wajib menyiapkan sarana dan prasarana pendidikan. Membangun gedung-gedung sekolah dan kampus, menyiapkan buku-buku pelajaran, laboratorium untuk keperluan pendidikan dan riset, serta memberikan tunjangan penghidupan yang layak baik bagi para pengajar maupun kepada para pelajar.

Dengan demikian, tidak diragukan lagi dengan sistem pendidikan Islam dapat terwujud guru berkualitas yang mampu menghasilkan generasi yang cerdas. (*)

Penulis: Sri Lestari, ST (Wirausaha dan Pemerhati Sosial)
Tag:Guru
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)