Oleh: Devi Ummu Alif

Transportasi Udara Kembali Menelan Korban Jiwa

datariau.com
1.193 view
Transportasi Udara Kembali Menelan Korban Jiwa
Ilustrasi. (Foto:Int.)

DATARIAU.COM - Innalillahi wainnailaihi rojiuun. Indonesia kembali berduka dengan jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 rute Jakarta-Pangkalpinang dipastikan jatuh di Karawang, Jawa Barat. Basarnas mengungkapkan detik-detik jatuhnya pesawat yang membawa 189 orang itu. Kronologi jatuhnya Lion Air disampaikan Kepala Badan SAR Nasional (Kabasarnas) Muhammad Syaugi dalam jumpa pers bersama KNKT di kantor Basarnas, Jakarta, Senin (Datariau.com 29/10/2018).

 

Bak benang kusut melanda transportasi umum di Indonesia. Ini terjadi berawal dari anggapan yang salah ketika mendudukkan makna transportasi yang sesungguhnya. Sistem telah menganggap bahwa dunia transportasi sebagai sebuah industri. Cara pandang ini mengakibatkan kepemilikan fasilitas umum transportasi dikuasai oleh perusahaan atau swasta, yang secara otomatis mempunyai fungsi bisnis agar dapat memperoleh keuntungan sebanyak-banyaknya, bukan fungsi pelayanan yang aman dan tidak mengancam nyawa.

 

Ini cerita penuturan presenter TransTV Conchita Caroline naik pesawat Lion Air JT610 Ahad malam 28 Oktober 2018 dari Denpasar tujuan Bandara Soekarno-Hatta Jakarta, atau sebelum pesawat jatuh pada Senin pagi 29 Oktober 2018. TribunStyle.com mengutip InstaStory di Instagram Chonchita Caroline yang menguak cerita-cerita ketidaknyamanan para penumpang yang naik pesawat tersebut pada malam hari sebelum kecelakaan terjadi pada Senin pagi. Pembawa acara 'Katakan Putus' di Trans TV itu menuturkan, ia naik pesawat tersebut harus ekstra sabar. Itu karena pesawat delay (tunda terbang) karena technical error.

 

Ia juga sempat bercerita ada penumpang yang muntah, sampai sesak nafas karena kekurangan oksigen. Mesin pesawat beberapa kali mati, pendingin udara/ AC juga error alias tak berfungsi baik. Pesawat sudah masuk landasan pacu (runway) tapi batal take off, lalu kembali ke parkiran. "Ada kesalahan teknis yang nggak sedikit pun dijelasin ke penumpang," cerita Conchita Caroline lewat Insta Story. Pesawat parkir 30 menit dalam kondisi AC mati, kabin panas, dari para penumpang mengeluh tak nyaman. Karena kepanasan, penumpang memaksa meminta pintu pesawat dibuka sembari menunggu perbaikan. Penumpang keluar untuk mencari udara yang lebih segar dan lebih dingin. (DataRiau.com, 29/10/2018).

 

Layanan transportasi dikelola swasta atau pemerintah dalam kaca mata komersial, tidak disertai layanan yang memadai. Demi mengejar untung tidak jarang angkutan umum yang sudah tidak layak jalan tetap beroperasi. Karena prinsipnya ialah mengeluarkan modal sekecil-kecilnya, dan memperoleh laba atau keuntungan sebesar-besarnya.

 

Adalah sebuah kezhaliman bagi masyarakat jika fasilitas umum seperti  prasarana transportasi dikuasai secara perorangan atau segelintir orang (swasta). Seharusnya  pengelolaannya menjadi tanggung jawab negara untuk kemashlahatan umat. Dalam sebuah hadits Imam Bukhari yang diriwayatkan dari Ibnu Umar yang mengatakan, Nabi Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Imam adalah (laksana) penggembala (pelayan) dan dia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap urusan rakyatnya."

 

Dengan kepemilikan prasarana transportasi yang merupakan fasilitas umum yang termasuk kepemilikan umum dengan kewajiban negara untuk mengelolanya demi kemashlahatan umat, maka keamanan dan keselamatan dalam transportasi umum tidak akan diperhitungkan berdasarkan keuntungan dan kerugian, melainkan menjadi sebuah bentuk pelayanan kepada umat. Dengan demikian, mutu jasa transportasi yang selama ini diskriminatif, menyengsarakan, dan membahayakan masyarakat akibat orientasi bisnis dapat dihindari. (*)

 

Penulis merupakan seorang pengusaha dan pemerhati generasi.

Editor
: Redaksi
Sumber
: Datariau.com
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)