DATARIAU.COM - Pada Sabtu, 9 Februari 2019 adalah Hari Pers Nasional. Dewan Pers memberikan penghargaan medali kemerdekaan pers pada Presiden Joko Widodo (Jokowi). Terkait hal tersebut Fadli Zon, Wakil Ketua DPR menilai penghargaan itu tidak pas untuk Jokowi. Sebab, kata dia, Jokowi pernah membuat kebijakan pemberian remisi pada otak pembunuhan wartawan Radar Bali meskipun pada akhirnya dibatalkan.
"Sangat ironis. Ini seharusnya membuat insan pers merasa prihatin," kata Fadli dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (9/2). (RMol.co, 10/02/19).
Wakil Sekretaris Departemen Dalam Negeri Partai Demokrat, Abdullah Rasyid juga memberikan suaranya dan berpendapat sebagai pilar demokrasi, pers sudah mulai doyong dan hampir roboh.
"Pers atau media mainstream lebih menjadi corong penguasa yang mengobral janji-janji dan kebohongan," ujarnya, Senin (11/2).
Menurutnya, di tahun politik ini berita-berita anti penguasa hampir tidak mendapat tempat. Jikapun dimuat sudah berubah lunak bahkan jauh dari realita di lapangan. (merdeka.com, 10/02/19).
Realita yang ada membuahkan sebuah pertanyaan kepada kita, apakah memang telah nyata hilangnya idealis pers saat ini? Mudah dibawa oleh arus penguasa sebagai alat untuk mengokohkan kepentingannya.
Sudah sepantasnya banyak kalangan yang kontra dengan pemberian penghargaan pada presiden, dikarenakan memang tidaklah pantas. Mengapa? Karena ada sikap yang tidak adil terhadap wartawan yang gugur dalam menjalankan tugasnya. Padahal sejatinya keadilan sangatlah mahal. Wajib ditegakkan di berbagai lini kehidupan. Termasuk di dunia pers.
Selain itu, pemberitaan yang berbau kritik terhadap penguasa ditiadakan, lalu di-blow up dengan berita-berita yang melambungkan nama penguasa. Dan jikalau kita amati kemuakan sudah menjamur pada diri rakyat yang idealis. Hingga berakibat banyak yang lebih menyukai pemberitaan di media sosial.
Lalu, apa yang fungsi pers pada hakikatnya?
Tentulah pers merupakan kalangan yang berperan penting dalam mencerdaskan bangsa. Pers sepatutnya menjadi penengah di antara penguasa dan rakyat, yakni mengungkap keinginan umat kepada penguasa, mengoreksi kinerja penguasa, corong bagi umat bersuara terhadap kebijakan penguasa.
Dan bagi penguasa saat ini pers adalah alat yang tepat untuk pemberitaan kebijakan. Memberikan umat pengetahuan, ajakan-ajakan positif yang dapat menyatukan bangsa, dan bukan alat pengobral janji-janji manis yang berujung kepahitan.
Maka pantas ketika idealis sudah ada di kalangan wartawan saat ini, maka revolusi pun niscaya akan terjadi. Perubahan di negeri ini semakin besar. Rakyat semakin cerdas terhadap berbagai kebijakan penguasa.
Tentunya yang paling patut kita ketahui semua itu bisa nyata terjadi jikalau idealis pers tadi disandingkan pada ketakutan pada Allah. Karena memang, menjadi jurnalis juga merupakan perbuatan yang akan dihisap Allah di hari akhir kelak.
Seberapa besar pemberitaan yang tak pantas juga akan membuahkan dosa di mata Sang Pencipta. Maka sudah saatnya semua kalangan termasuk jurnalis bekerja secara idealis yang membuahkan Ridho Penciptanya. (*)