DATARIAU.COM - Peristiwa menggemparkan baru saja terjadi di Desa Tanjung Medan Utara, Kecamatan Tanjung Medan, Rokan Hilir (Rohil), ditemukan bocah belia beumur 11-12 tahun yang diketahui bernama Alika Viana, diduga korban pembunuhan. Saat ditemukan, kondisinya sangat memilukan. Masih dengan seragam pramuka, bagian perut korban terluka hingga isinya terurai. Saat ditanyakan oleh pihak berwajib, diduga pelaku (HL) sempat berkilah. Namun akhirnya ia mengakui perbuatannya. Saat ditemukan satu helai baju di dalam rumah yang digunakan pelaku (HL) pada saat bekerja, di baju itu terdapat bekas 5 jari anak perempuan.
Kemudian kabar memilukan juga datang dari Pelalawan. Ditemukan jasad wanita di Desa Tambak Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan, Selasa 30 Oktober 2018 menjadi kasus keempat yang terjadi dalam dua pekan terakhir ini. Keempat jasad yang ditemukan dalam kondisi membusuk itu terdiri dari tiga laki-laki dan seorang perempuan. Sementara, dua jenazah belum diketahui identitasnya (riauonline.com 31/10/2018).
Tidak cukup sampai disitu, pada Kamis (25/10/2018) di Desa Karya Indah Kecamatan Tapung Kabupaten Kampar telah terjadi pencurian yang berujung pembunuhan. Pencurian ini mengakibatkan tewasnya dua orang yaitu ibu dan anak sebagai korban. Berdasarkan pemeriksaan oleh pihak berwajib, awal niat pelaku hanya untuk mencuri di rumah tetangganya itu, namun karena segera diketahui oleh korban yang juga mengenalinya, maka rasa takut atas perbuatan itu membuatnya gelap mata hingga tega menghabisi kedua korban (datariau.com).
Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Sungguh menggenaskan. Seakan nyawa tidak lagi berharga. Tanpa perlu berpikir lama, ketika dirasa mengancam maka dihabisi saja. Sungguh, ini perbuatan yang sangat tidak manusiawi. Mudah sekali gelap mata.
Kaum perempuan dan anak acap kali menjadi incaran. Mereka kaum yang lemah, maka mudah saja untuk menaklukkannya. Kalaupun berani melawan, tentu tidak akan seberapa tenaga yang dimilikinya. Tidak ada waktu yang benar-benar aman untuk mereka. Dimanapun mereka berada, selalu terancam keamanannya. Bahkan nyawa pun ikut terancam.
Kalau saja kita tidak lalai akan pentingnya penanaman Aqidah yang kuat sejak dini, barangkali ini tidak akan terjadi. Miskinnya keyakinan bahwa kita akan mempertanggungjawabkan apa yang telah kita lakukan. Inilah yang kita saksikan sekarang.
Mudah sekali gelap mata hingga tak tahu bahwa ada nyawa anak manusia yang akan dihabisinya. Sementara yang ada di pikirannya, akhirat urusan nanti. Kurang lebih begitulah persepsi mereka pada umumnya. Bahkan persepsi seperti itu tanpa sadar juga telah merasuki kita. Wajar saja, melakukan kejahatan tidak perlu berpikir lama. Akhirat urusan nanti, begitu katanya.
Pelaku yang entah kemana keimanan di hatinya. Ditambah lagi dengan hukum yang gagal membuat pelaku jera. Bagaimana tidak? Jika tertangkap, hanya dipenjara beberapa tahun saja. Longgarnya hukum sanksi tidak membuat pelaku jera. Bahkan tidak menutup kemungkinan akan dilakukan aksi serupa yang lebih sadis.
Jika sudah tidak aman begini, bagaimana nasib anak dan perempuan kedepannya? Mari sekilas kita menatap masa lalu. Sebuah negara yang menjamin keamanan bagi seluruh rakyatnya. Tak melihat rakyat yang mana. Asal di bawah naungannya maka akan dijamin keamanan baginya. Ketika Islam menjadi landasan bernegara. Dua per tiga dunia aman di bawah naungannya. Sungguh luar biasa. Seluruh rakyatnya dibekali dengan aqidah yang kokoh. Sehingga tidak ada minat sedikitpun untuk berbuat kejahatan, apalagi sampai menghabisi nyawa seseorang. Semua rakyatnya inginkan ketaatan. Kemudian masyarakat pun senantiasa megingatkan satu sama lain. Ditambah lagi peran negara dengan ketegasan hukumnya. Sanksi yang diberikan tidak sekedar penjara, melainkan potong tangan bagi yang mencuri, dan hukum mati bagi yang membunuh. Sehingga akan membuat jera pelakunya, terselamatkan banyak harta dan nyawa.
Jika dibanding hari ini, sungguh pilu hati melihat kondisi hari ini. Maka harus seberapa lama lagi kaum anak dan perempuan terus dihantui kejahatan? Sudah saatnya kita belajar dari gemilangnya masa lalu. Sudah saatnya kita kembali menanamkan ajaran Islam sebagai pengatur kehidupan di keluarga, tanamkan aqidah yang kokoh dimulai dari keluarga, masyarakat dan negara. Jika itu dilakukan semua keluarga Islam negara ini, bukan sekedar keamanan, kesejahteraan pun akan dirasakan.
Mari tanamkan aqidah yang kokoh sejak dini kepada anak-anak kita. Senantiasa saling megingatkan dan menyeru kepada kebaikan. Kembalikan Syariat Islam sebagai pengatur seluruh aspek kehidupan.