DATARIAU.COM - Kaum Gay di Riau kini semakin merebak. Kian hari kian bertambah. Bagaimana tidak? Tercatatat Penderita HIV dan AIDS di Riau didominasi oleh kalangan anak muda yang cukup tinggi, kaum LGBT mendominasi. Ironisnya, tren kalangan LGBT di Riau terus meningkat dan semakin berani untuk eksis, menunjukkan identitas dirinya tanpa risih.
Seperti yang kini merebak di Kota Dumai. Komunitas LGBT di Kota Pelabuhan ini perlahan berani membuka diri di depan publik. Bahkan, kini mereka memiliki banyak komunitas. Sebanyak 9 Komunitas Gay terpantau di Kota Dumai. Mereka kini menjaring mangsa baru dengan cara membuat berbagai group Gay di Medsos, yang lebih mencengangkan, anggota komunitas tersebut tidak sedikit dari kalangan yang masih Pelajar. Miris bukan?
Beresiko Besar Dalam Penularan HIV/AIDS
Komunitas LGBT sangat beresiko dalam penularan HIV/AIDS. Kota Dumai, sudah menjangkau 140 orang homoseksual (pekanbaru.tribunnews.com edisi 3/12/2018). Data dari Dinas Kesehatan, jumlah kasus HIV di Dumai dari tahun 2016 hingga September 2017, mencapai 385 kasus. Sedangkan kasus AIDS mencapai 221 kasus. Catatan pihak Dinas Kesehatan mengalami peningkatan kasus dari 2016 sampai 2017.
KPA kota Dumai mengungkap ada 48 titik aktifitas kaum homoseksual di Dumai. Pola seksual seperti ini akan berdampak kepada penularan HIV/AIDS.
Mengapa Bisa Terjadi?
Ada beberapa faktor yang membuat para pelaku akhirnya mengambil pilihan untuk menjadi LGBT. Diantaranya, faktor kebutuhan ekonomi dan fantasi adalah alasan bagi para pria menjadi LGBT. Kebutuhan ekonomi, menjadi faktor para pemuda/pemudi memilih menjadi LGBT. Bagaimana tidak?
Gaya hidup hedonis zaman now pelak seakan menuntut hal tersebut harus terpenuhi, hal ini sudah menggrogoti setiap lini hidup masyarakat kapitalisme dewasa ini. Sulitnya mencari penghidupan yang layak tentu sangat dirasakan masyarakat lapisan menengah ke bawah. Meski tak jarang juga kita dapati LGBT diantara pemuda/pemudi kaya raya.
Faktor selanjutnya adalah fantasi seksual. Fantasi seksual yang tidak wajar dan menyalahi fitrah kerap menghampiri setiap insan yang rentan akan hal ini, mengapa bisa rentan? Jawabannya karena mereka kerap berbaur pada lingkungan yang di dalamnya bertengger para LGBT. Fantasi seks yang menyimpang ini harus dapat dihindari sekuat dan semampunya, dengan dibarengi dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar. Terutama Negara.
LGBT Jalan Perusakan Aqidah Umat Islam
LGBT hadir di tengah-tengah masyarakat sebagai jalan perusakan Aqidah Akhlak umat Islam, terutama sebagai sarana efektif penghancuran generasi Muslim masa depan. Ide dasar LGBT dari paham Liberalisme harus ditolak. Bukankah hal ini menyalahi fitrah manusia? Seharusnya manusia dapat memenuhi kebutuhan biologisnya sesuai dengan fitrahnya, yaitu dengan lawan jenis dan dengan jalan yang dibenarkan Allah Subahanahu wa Ta'ala, bukan jalan yang menyimpang.
Para ulama bersepakat (Al-Ijma’) atas keharaman sodomi ini, sebagaimana hal ini disebutkan oleh Ibnu Qudamah rahimahullah:
“Ulama bersepakat atas keharaman sodomi (liwath). Allah Ta’ala telah mencelanya dalam Kitab-Nya dan mencela pelakunya, demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mencelanya”
Dalam QS. Al-A'raaf: 81 juga ditegaskan "Sesungguhnya kalian mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsu kalian (kepada mereka), bukan kepada wanita, maka kalian ini adalah kaum yang melampaui batas.
Solusi Tuntas LGBT
Solusi tuntas bagi persoalan LGBT tidak lain adalah diawali dengan Negara harus dapat menanamkan aqidah yang kokoh kepada kaum Muslimin dan segenap lapisan masyarakat. Rohis di sekolah-sekolah harus dapat ditumbuh suburkan dan diaktifkan, bukannya dicurigai dan diawasi bahkan dikriminalisasi.
Rohis dan kajian-kajian di tengah-tengah masyarakat sangat berpengaruh bagi pemikiran dan pemahaman serta pola sikap, baik palaku LGBT ataupun tidak, agar mereka menjadi terbina dan lebih baik. Masyarakat akan senantiasa dibina dengan pemahaman keagamaan yang akan semakin mendekatkan setiap individu kepada Allah, tentunya dengan pembinaan yang intensif yang berkesinambungan.
Negara juga harus dapat memberi sanksi tegas bagi para pelakunya. Syariat Islam mengatur bahwa sanksi bagi pelaku LGBT adalah dijatuhkan dari tempat yang tinggi dengan posisi kepala di bawah. Namun dalam kapitalisme tidak ada sanksi yang jelas pada pelaku seks menyimpang ini, sehingga semakin tumbuh suburlah kaum ini.
Negara juga harus tegas menolak keberadaan LGBT, karena jelas-jelas menyalahi aturan Islam dan mengundang Murka Allah. Tidakkah kita belajar dari peristiwa kaum Nabi Luth? Kaumnya diadzab oleh Allah tersebab prilaku seks yang menyimpang. Tidak cukupkah bencana demi bencana datang silih berganti merudung Negeri ini? Sebagaimana kita ketahui, gempa, tsunami, gunung meletus dan berbagai bencana lain yang menimpa Negeri ini adalah pertanda teguran dari Allah sang pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan.
Allah tengah murka melihat para hambanya yang sudah jauh dari aturan-aturannya, banyak sudah yang tidak lagi menjalankan perintahnya, serta mencampakkan hukum-hukumnya. Tidakkah kita berfikir? Maka dari itu, hendaklah Negara dan masyarakat Negeri ini dengan tegas menolak LGBT dan hadlarah barat lainnya yang merusak, bukan melegalkan dan membiarkannya tumbuh subur di tengah-tengah masyarakat.
Sudah saatnya kaum muslimin dan segenap pemerintah dan penguasa kembali kepada aturan Allah Subahanahu wa Ta'ala. Sungguh tidaklah akan merugi orang-orang yang senantiasa berpegang teguh kepada tali Agama Allah. (*)
**Penulis merupakan Pemerhati Sosial Masyarakat