DATARIAU.COM - Setelah Indonesia menyatakan diri menuju era new normal, kasus corona yang bukannya mengalami penurunan justru setiap harinya terus bertambah. Tercatat seperti yang dilansir dari CNN Indonesia (7/7/2020), jubir pemerintah untuk penanganan covid-19 Achmad Yurianto mengatakan hari ini penambahan jumlah kasus covid-19 adalah 1.289 orang, sehingga total pasien yang mengalami covid-19 sebanyak 66.226 orang dengan total sembuh 30.785 orang dan jumlah yang meninggal 3.309 orang.
Kebijakan yang dipaksakan oleh pemerintah justru tidak bisa memutus mata rantai covid-19. Alih-alih memutus justru semakin meningkat. Penambahan yang signifikan ini menjadikan pemerintah juga menggenjot penelitian untuk menemukan obat anti corona.
Baru-baru ini Kementerian Pertanian (Kementan) Syahrul Yasin Limpo menghebohkan publik, pasalnya beliau membuat pengumuman telah merilis penemuan baru berupa kalung eucalyptus yang diklaim anti corona. Dilansir dari KompasTV (6/7/2020) membahas mengenai polemik kalung anti corona buatan Kementan yang rencananya akan diproduksi massal bulan Agustus mendatang, Kementan pun berusaha menjelaskan apa yang dimaksud sebagai kalung anti corona melalui jumpa pers di Jakarta Senin pagi (6/7/2020). Namun sebelumnya dikutip dari liputan6.com Jakarta, Kementan bahkan telah berhasil mendapatkan hak paten dari produknya. Selain itu pemerintah juga menggandeng PT Eagle Indo Pharma untuk pengembangan produksinya melalui perwakilan Balitbangtan dilakukan penandatanganan perjanjian lisensi formula anti-virus berbasis minyak eucalyptus di Bogor pertengahan Mei lalu.
Menurut kepala Balitbangtan Fadjry Djufry, produk eucalyptus yang mereka buat memang untuk menangkal virus influenza, virus beta dan gamma corona meski bukan spesifik virus corona yang menyebabkan penyakit covid-19 tetapi diyakini mampu membunuh 80 - 100% virus.
Dua bulan setelah launching, tepatnya diawal Juni ini, produk eucalyptus dipertanyakan apakah benar-benar mampu menjadi anti virus corona. Fadjry Djufry memberikan klarifikasi atas produk tersebut bahwa pihaknya tak pernah memberikan klaim atas eucalyptus sebagai anti virus corona pasalnya izin edar dari BPPOM sendiri hanya sebatas jamu jelasnya, dalam konferensi pers virtual Senin (7/6/2020).
Kalung eucalyptus ini dinyatakan masih diragukan keampuhannya. Seperti dikutip dari kompas.com (4/7/2020), Epidemiolog Griffith University Australia Dicky Budiman, menilai tak ada relevansi antara kalung anti virus dengan paparan virus corona. Saya tidak melihat relevansi yang kuat diantara kalung di leher dengan paparan virus ke mata, mulut dan hidung.
Menurut Dicky meski memiliki potensi anti virus namun riset tersebut dalam bentuk sprei dan filter pada jenis virus terbatas yang sudah umum bukan covid-19 sehingga Dicky menganggap produk eucalyptus yang ditujukan untuk mencegah virus corona terlalu dipaksakan dan berpotensi menimbulkan salah persepsi.
?Belum terbukti secara ilmiah dan dimuat di jurnal ilmiah tentang potensi mencegah virus SARS cov-2 atau covid 19,? paparnya.
Hal ini menimbulkan pertanyaan dimasyarakat, seharusnya Kementan dan Balitbangtan lebih fokus untuk pemberdayaan bibit-bibit unggul agar bisa berinovasi dan mengembangkan ketahanan pangan di Indonesia. Sehingga negara ini tidak terus-menerus mengimpor berbagai hasil pertanian dari negara-negara lain. Di negara yang luas dan kaya dengan berbagai sumber daya alam dan sumber daya manusianya tentu untuk mewujudkan negara baldatun toyyibatun warobbun ghofur itu sangat mudah apalagi bila semua sistemnya dikembalikan kepada syariat Allah secara kaffah, maka keberkahan dari langit dan bumi pasti akan datang.
Namun alih-alih merealisasikan semua itu justru kebijakan-kebijakan yang tidak pro rakyat dilontarkan oleh pembantu-pembantu pemimpin negeri ini. Karena tidak adanya relevansi penempatan jabatan dengan kapabilitas dari pemangku jabatannya, yang ada hanya berupa penunjukan bagi-bagi kursi bagi mereka yang turut mensukseskan pertarungan kemarin.
Padahal Rasulullah shallallahu alaihi wassallam bersabda melalui lisannya yang mulia. "Jika amanat telah disia-siakan tunggu saja kehancuran terjadi. Ada seorang sahabat bertanya bagaimana maksud amanat disia-siakan? Nabi menjawab jika urusan diserahkan bukan pada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya (HR. Bukhari). (*)
Wallahu ta'ala a'lam bishawab