Oleh: Nurfaidah SE

Generasi Bermental Buruh Hasil "Pernikahan Massal" Pada Dunia Pendidikan

datariau.com
1.309 view
Generasi Bermental Buruh Hasil "Pernikahan Massal" Pada Dunia Pendidikan
Nurfaidah SE
DATARIAU.COM - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memulai gerakan "pernikahan massal" atau penyelarasan antara pendidikan vokasi dengan dunia industri dan dunia kerja (DUDI).

"Tujuan utama dari gerakan ini agar program studi vokasi di perguruan tinggi vokasi menghasilkan lulusan dengan kualitas dan kompetensi sesuai dengan kebutuhan dunia industri dan dunia kerja. Industri dan dunia kerja, mohon bersiap menyambut kami," ujar Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi (Dirjen Diksi) Kemendikbud, Wikan Sakarinto PhD dalam telekonferensi di Jakarta, Rabu lalu.

Program tersebut akan diteruskan dan dikembangkan pada tahun berikutnya dengan melibatkan lebih banyak prodi vokasi. Program penguatan prodi vokasi di PTS sendiri sudah dibuka melalui Program Pembinaan PTS (PP-PTS) yang mana tahapannya sudah memasuki seleksi tahap akhir.

Wikan optimis bahwa program tersebut akan menguntungkan banyak pihak. DUDI akan diuntungkan dengan skema pernikahan tersebut. (antaranews.com 27/5/2020)

Menurut Mendikbud Nadiem Anwar Makarim BA MBA, kampus bisa menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang dibutuhkan dunia usaha. Pemerintah memiliki sejumlah peran yaitu sebagai pendukung, regulator, dan katalis. Namun demikian, pemerintah tidak bisa memaksa pihak kampus dan industri untuk saling bermitra lewat regulasi. Keduanya bisa bekerja sama dengan berbagai macam insentif untuk berinvestasi di bidang pendidikan, misalnya lewat penelitian. (Lensa Indonesia.com 4/7/2020).

Sekilas, program tersebut terlihat sebagai terobosan yang "out of the box". Terpasungnya pendidikan di Indonesia dalam sistem pembelajaran yang dirasa monoton dan teoritis membuat masyarakat seolah mendapat angin segar.

Memang, program pendidikan vokasi terkesan menjanjikan. Karena setelah lulus SMK atau perguruan tinggi, peserta didik bisa langsung bekerja. Menjamurnya sekolah vokasi atau sekolah kejuruan yang menjanjikan lulusannya bisa langsung disalurkan ke perusahaan bonafit, meyakinkan orang tua dan peserta didik lebih tertarik memilih SMK dari pada SMA. Hal ini terjadi karena saat ini rakyat terutama orang tua tidak punya pilihan lain.

Sekolah umum mengharuskan siswa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu universitas atau perguruan tinggi. Tapi masalahnya, untuk mengenyam pendidikan perkuliahan, orang tua harus mengeluarkan biaya yang fantantis.

Pada kenyataan juga menyandang gelar sarjana tidak menjamin seseorang meraih masa depan yang lebih cerah dengan mendapat penghidupan yang mapan secara materi. Kebanyakan lulusan perguruan tinggi atau universitas saat ini justru menambah jumlah angka pengangguran di usia produktif. Hal tersebut terjadi akibat sistem pembelajaran yang hanya mengejar nilai tinggi tanpa ada karya nyata.

Karena pemikiran pragmatis juga mencetak masyarakat yang jumud (statis) dan utopis. Pendidikan hanya dipandang sebagai jalan mendapatkan masa depan yang lebih baik secara finansial dengan cepat. Berangkat dari sinilah program vokasi dianggap sebagai langkah tepat. Sistem vokasi diharapkan membentuk SDM lulusan sekolah menengah atau perguruan tinggi yang lebih memiliki kompetensi dalam mendapatkan lapangan pekerjaan.

Fakta ini sejatinya merupakan buah pemikiran kapitalis liberal. Mahasiswa sebagai agent of changes sekaligus aset bangsa ditempatkan hanya sebagai kaum pekerja. Harusnya dengan disiplin ilmu yang dikuasai, para siswa dibimbing untuk menjadi para inventor yang bisa menciptakan lapangan kerja. Keahlian dan keterampilan tentunya bisa digunakan untuk melihat potensi sumber daya negeri. Sehingga pemerintah tidak perlu mengimpor tenaga ahli dan tenaga kerja asing.

Sejatinya program tersebut tidak membawa perubahan yang signifikan terhadap kebangkitan berpikir kaum intelektual apalagi untuk kemajuan bangsa. Apabila pemerintah dan masyarakat mau membuka mata, hati dan pikiran. Kebijakan yang memberi kemudahan Kampus Negeri menjadi Badan Hukum justru akan menggenapkan liberalisasi terhadap perguruan tinggi. Mirisnya, aset vital milik bangsa tersebut justru dilelang kepada pihak swasta dan asing pengelolaannya.

Acuan dalam bisnis sistem kapitalis liberal adalah untung-rugi yang tidak mengenal halal-haram. Maka bila dilakukan kerjasama dalam merancang kurikulum pada berbagai program studi dengan pihak perusahaan hanya akan mengalihkan pemikiran kaum intelektual untuk berbisnis. Para mahasiswa pun akan terjangkit penyakit paham sekuler.

Arah dari program studi yang ada dalam kurikulumnya juga ditujukan bukan untuk kepentingan rakyat melainkan untuk kemakmuran para korporat. Kerena ternyata kebijakan bagi perguruan tinggi negeri atau swasta yang bebas membuka program studi baru hanya diperuntukkan bagi perguruan tinggi vokasi atau institut teknologi, bukan untuk jurusan yang bersifat keilmuan murni atau sains. Maka tidak heran jika produk pendidikan yang dihasilkan adalah kaum intelektual yang tidak peka terhadap permasalahan rakyat.

Fenomena di atas menegaskan bahwa orientasi pendidikan tinggi vokasi bukanlah untuk menghasilkan intelektual yang menjadi tonggak perubahan menuju peradaban cemerlang melainkan untuk bersinergi dengan keinginan kaum kapitalis guna memperbesar gurita bisnis.

Ini adalah kenyataan pahit yang tidak akan terjadi dalam sistem Islam. Dimana pendidikan yang semestinya bervisi membangun kepribadian utuh manusia sebagai hamba Allah telah dikerdilkan dengan hanya mencetak manusia bermental buruh. Butanya penguasa Negeri Muslim terhadap tuntunan Al-Qur'an dan Hadits menyebabkan arah kebijakannya melenceng.

Padahal dalam perspektif Islam, pendidikan merupakan sarana untuk menumbuhkan keimanan dan ketakwaan kepada Sang Pencipta sehingga dengannya manusia memiliki adab dan perilaku yang mulia. Dengan akidah, ilmu yang merupakan karunia sekaligus amanah akan dimanfaatkan untuk kesejahteraan halayak.

Tersedianya fasilitas sarana dan prasarana penunjang pendidikan adalah tanggung jawab negara. Sejarah mencatat, pada tahun 1250 M negara dengan sistem Islam sangat perhatian terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Dibangunlah pusat-pusat pendidikan, perpustakaan dan observatorium dengan fasilitas yang lengkap bagi para pelajar.

Maka mampu mencetak ilmuan-ilmuan yang luar biasa, salah satunya Al-Khawarizmi. Penemuan matematikanya merupakan yang pertama memperkenalkan konsep ?nol?, penyederhana perkalian dan pembagian. Beliau juga menemukan sebuah perhitungan sistematis dari aljabar dan geometri untuk memecahkan masalah astronomi dan navigasi praktis. Dengan ilmu dan keterampilan yang dimiliki, ilmuwan Muslim sangat berkontribusi pada perkembangan banyak ilmu pengetahuan modern seperti fisika, kimia, kedokteran, matematika, dan juga astronomi.

Namun, keberhasilan sistem pendidikan Islam tidak berdiri sendiri tetapi didukung oleh sistem lain seperti sistem ekonomi Islam dan sistem pergaulan yang menjunjung tinggi akhlakul karimah.

Maka tidak heran karya-karya mereka dijadikan sebagai peletak dasar ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini.
Dari sini terlihat nyata bahwa Islam mencetak generasi yang luar biasa. Dengan kecerdasannya pun tidak membuat ia kebablasan, tapi tetap sadar bahwa ia seorang hamba yang harus tetap taat pada Sang Penciptanya. (***)
Editor
: Redaksi
Sumber
: Datariau.com
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)