Oleh: Lamna Wati

Generasi 'Anak Gadget', Dihamili Tiada Henti

Ruslan
1.050 view
Generasi 'Anak Gadget', Dihamili Tiada Henti
Foto: Ist
Lamna Wati SPd

DATARIAU.COM - Tabu, Istilah ini sudah bergeser maknanya. Bahkan cenderung berubah. Dulu, tabu jika ada laki-laki jalan bareng sama perempuan yang bukan mahromnya. Sekarang, tabu jika anak perempuan tak pernah jalan bareng sama laki-laki yang disebut pacarnya. Katanya udik. Gak laku. Bakal calon perawan tua.

 

Dulu, tabu jika wanita Muslimah membuka auratnya. Sekarang, buka aurat adalah tren dan kemajuan. Semakin terbuka semakin cepat laku katanya. Kalau mau yang gratis juga ada. Tinggal pilih sesuai selera. Na'udzubillah. 

Masalah pergaulan bebas remaja, kini semakin mengenaskan. Semakin mengkhawatirkan. Belakangan di ketahui, di sebuah sekolah SMP di Lampung ditemukan 12 siswinya hamil secara bersamaan. Hal ini membuat mereka terpaksa diberhentikan oleh pihak sekolah.(Tribunnews.com, 02/10/2018) Sungguh memalukan. Subhanallah.

 

Ada pula di sekolah lain ditemukan siswa-siswinya membuat group WhatsApp bernama 'All Star'. Group ini berisi obrolan yang tidak wajar. Berbau porno dan kata-kata kotor lainnya. Bahkan dalam group ini ditemukan puluhan video porno yang saling ditukar oleh anggotanya. Lebih lanjut diselidiki, ada pula ajakan untuk melakukan perbuatan asusila dan tawuran via japri antara siswa siswi yang tergabung dalam group tersebut. (www.pikiran-rakyat.com, 03/10/2018) Sungguh miris!! 

Lembaga pendidikan yang selayaknya sebagai tempat mencetak generasi unggul dan beradab, malah menjadi tempat bersarangnya kemaksiatan. Hingga berakar dan membesar dengan cepat. Tanpa diketahui oleh pihak sekolah. Kecolongan tingkat dewa. Takicuah di nan tarang istilah minangnya. Bagaimana tidak, siswi SMP yang masih imut-imut, tiba-tiba membuncit perutnya. Entah anak siapa yang dikandungnya. Sungguh kelu lidah ini untuk berucap. Astaghfirullah. Begitu mudahnya kesucian mereka direnggut. Suram masa depan. Mahkota keindahan telah tergadai. Hancur berkeping-keping hati ibunda dan ayahanda mereka.

 

Siapa yang boleh dipersalahkan? Apakah sekolah, guru? Orang tua? Atau negara. Sulit untuk dicerna akal sehat. Namun inilah kenyataan. Kehidupan sekuler telah merenggut esensi pendidikan. Hari ini pendidikan hanya distandarkan pada nilai materi akademik. Prestasi hanya diukur dengan nilai yang bagus. Meski tanpa adab dan akhlak mulia. Hanya angka yang bicara. Peran guru pun lambat laun diminimalisir dengan beragam alasan. Mulai dari melanggar HAM sampai pada efisiensi proses belajar mengajar. Akibatnya guru tak berperan banyak bagi pembentukan generasi. Marah, menegur, memukul bisa dibui. Bahkan tak jarang, mengajak dengan tegas juga bisa dibui. Alasannya melanggar HAM peserta didik. 

Proses belajar mengajar lebih dimudahkan dengan 'kurikulum' bahwa siswa harus aktif mencari sendiri. Akhirnya internet menjadi solusi. Gadget pun tak lepas dari jemari. Saat mereka browsing tugas, saat itulah virus-virus sekuler hedonis menghantui. Konten-konten porno bisa saja tiba-tiba muncul tanpa dicari. Hingga dimulai dari rasa penasaran. Lambat laun mulai mempraktekkan. Itulah yang melilit persoalan generasi hari ini.

 

Lebih dari itu, kurangnya kontrol orang tua menjadi faktor lain rumitnya masalah. Orang tua yang sibuk bekerja dan berkarir menjadi lalai terhadap peran dan tanggung jawabnya. Padahal anak adalah amanah yang harus dijaga. Apalagi di tengah melambungnya harga kebutuhan pokok. Harus merogoh kocek lebih dalam. Putar otak lebih keras. Kondisi ini, ibarat sebuah lingkaran setan. Maju kena. Mundur kena. Bersimbah darah penderitaan. Berbalut kehancuran masa depan generasi. Jadilah generasi 'anak gadget'. Karena separuh hidup mereka, habis di depan gadget. Subhanallah.

 

Hidup dengan mengabaikan syariat Ilahi memang begini. Sempit. Sulit. Dirundung duka bertubi-tubi. Hak dan tanggung jawab tak dipeduli. Hanya materi yang dihargai. Hingga halal haram dihantam tiada henti. Kalau sudah begini, Murka Ilahi menanti. Kemana hendak berlindung diri. Wallahua'lam bishowwab. (*)

* Penulis merupakan Guru dan Pemerhati Remaja 

Editor
: Ruslan Efendi
Sumber
: Datariau.com
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)