Anarkisme yang Sebetulnya!

856 view
Anarkisme yang Sebetulnya!
Foto: Ist
Muhari Syahputra.

DATARIAU.COM - Kerusuhan Haymarket di Chichago pada tahun 1886, pembunuhan terhadap Presiden Willian McKinley tahun 1901, dan kejadian-kejadian menggemparkan lainnya yang berkenaan dengan kekerasan yang bersifat anarki disekitar akhir abad kedua puluh telah meninggalkan kesan bahwa kaum anarkis adalah orang yang berambut panjang, berjanggut kasar, bingar-bingar dan mengenggam bom ditangannya. 

Penekanan kekerasaan dalam ideologi yang bersifat anarki barangkali sebagiannya bisa dikaitkan dengan Mikhail Bakunin(1814-1876), yang terlahir dari keluarga Aristokrat Rusia tetapi kemudian percaya bahwa kebebasan individu yang sepenuhnya hanya bisa diwujudkan setelah negara dan lembaga-lembaga penopangnya dapat dihancur-leburkan. 

Selayaknyalah kalau kekerasan yang bersifat anarki dilakukan sendiri oleh individu-individu dan bukan kelompok-kelompok atau organisasi-organisasi yang menganut garis-garis besar rencana yang menyeluruh untuk mewujudkan anarkisme.

Meski begitu kaitan antara anarkisme dengan kekerasan merupakan pensifatan yang tidak tepat dari tradisi filsafat yang umumnya menolak sifat kekerasaan. Akar pemikiran anarki mungkin bisa dilacak kembali Zaman Zeno of Citium (abad 336-264 sebelum masehi) dan pada beberapa ajaran yang menolak kekerasan dari filsafat Stoic permulaan di Yunani Kuno. Karena ajaran itu telah berkembang selama berabad-abad, akibatnya “anarkisme” berasal dari kata Yunani anarchy, yang secara harafiah berarti “tidak mempunyai pemerintahan”.

Pangkal tolak pemikirian anarkisme sesungguhnya sederhana saja, meski kata itu mengandung makna pengrusakan. Satu-satunya wewenang yang mempunyai kekuatan moral dan keabsahan adalah wewenang yang oleh setiap individu diberikan kepada dirinya. Tak seorang pun yang bisa dipaksa untuk melakukan suatu tindakan kecuali tindakan yang berasal dari kemauannya sendiri.

Menurut konsep Rousseau tentang kedaulatan rakyat, para anarkis abad kedua puluh di Perancis (dihubungkan dengan majalah Le Monde Libertaire dan La Liberation) berpendapat bahwa hak individu untuk mengatur dirinya sendiri tidaklah boleh dikesampingkan, dan tidak dapat pula diwakilkan.

Pelaksanaan hukum bisa saja diwakilkan, tetapi tidak di dalam pembuatannya. Pembuatan peraturan dan kebijakan adalah hak istemewa setiap individu, karena merekalah yang mempunyai kepentingan dan kebutuhan. “setiap warga negara adalah pengatur dirinya sendiri” mungkin merupakan yang paling lebar dari posisi kaum anarkis.

Kebebasan dan persamaan, jelas bahwa Anarkisme menentang setiap pengekangan kelembagaan yang membahayakan kebabasan individu. Dan, perdefinisi, semua lembaga membahayakan kebebasan individu termasuk lembaga keagamaan, kapitalisme, hak milik pribadi, dan sebagaimana dalam liberalisme klasik negara, kalau orang memang benar-benar bebas, lembaga-lembaga ini mesti dihapuskan, mungkinkah?

Penekanan dalam pemikiran kaum anarkis tidak pada kekerasan dan tindakan langsung melainkan pada pendidikan dan kesadaran umum akan sifat nyata manusia. Dalam masyarakat desa kecil Spanyol Selatan abad ke-19, anarkisme petani amat demikian kuat, sehingga kaum anarkis mungkin bertanya:

“Bagaimana perubahan yang besar bisa terjadi? Tak seorangpun yang tahu. Tapi dalam hati petani merasa bahwa perubahan itu bisa saja terjadi asal saja semua orang bangkit pada saat yang sama”. 

Mengetahui kebenaran akan membuat semua manusia menjadi bebas, dan akan membuat ajaran kebenaran kaum anarkis menjadi besar, selain persamaan sebagai syarat anarkisme lebih ada pada lapisan-lapisan terbawah dar para buruh dan petani, terutama para petani di Spanyol Selatan dan Italia(terimasuk Sisilia).(rls)

Penulis
: Muhari Syahputra
Editor
: Redaksi
Sumber
: datariau.com
Tag:
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)