Semarak Imlek Di Kota Tua Penagi dan Kota Terapung Sedanau

Datariau.com
984 view
Semarak Imlek Di Kota Tua Penagi dan Kota Terapung Sedanau
Arizki Fil Bahri
Semarak Imlek Di Kota Tua Penagi Natuna

NATUNA,DATARIAU.COM-Tahun Baru China 2565 yang jatuh pada Jumat 16 Februari 2018 Membuat Semua Warga Tionghoa Bergembira,Terlihat sibuk, hilir mudik dari satu patung dewa ke patung lainnya. Niangao atau kue keranjang yang legit dipersembahkan. Lilin-lilin besar dan ornamen dipasang, semuanya merah warna yang mewakili kegembiraan sekaligus pengharapan bahwa kesedihan dan kegelapan akan sirna berganti kebahagian.Semarak Imlek tak hanya terlihat di kelenteng-kelenteng. Perayaan budaya itu dirayakan warga keturunan Tionghoa dari berbagai latar belakang dan agama serta suku dan ras yg Ada dikabupaten Natuna

Imlek menjadi momentum ketika keluarga besar berkumpul dalam suka cita, makan bersama, dan tentu saja bagi-bagi angpao. Pertunjukan liong dan barongsai, pesta kembang api, serta bunyi petasan yang semarak membuat masyarakat awam ikut larut dalam kegembiraan di kota tua penagi dan Kota Terapung Sedanau

Namun, bukan selamanya perayaan tahun baru China di Indonesia berlangsung meriah. 

Baru pada tahun 2000, di bawah pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur warga keturunan Tionghoa bebas merayakan Imlek. Sebelumnya, selama 31 tahun, tahun baru China dirayakan secara diam-diam, di ruangan tertutup, tanpa hingar bingar terlihat Dari Pantauan datariau.com Hari ini 16 februari 2018 perayaan Imlek Khusunya di Kabupaten Natuna berjalan Dengan Aman

Karpi yg juga Salah satu warga Natuna saat ditemui sedang bersilahturahmi ke salah satu Rumah  kediaman Orang Tiong Hoa  hari ini juga mengungkapkan tradisi kita bersilahturahmi kesalah satu rumah warga tiong hou itu sudah biasa di Natuna ini,walaupun berbeda agama saya dengan tuan Rumah.Hal Ini Saya lakukan untuk memperat tali persaudraan,walaupun Keanekaragaman kita khususnya dikabupaten Natuna saat ini kuat. ya mesti diperkuat lagi ujar Karpi

Bagi Gus Dur, seperti diceritakan sang putri Yenny Wahid, yang dikutip dari gusdur.net, etnis Tionghoa dan juga budaya mereka, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Melalui etnis Tionghoa, Islam bisa tersebar ke Nusantara bersama pedagang India. Terbukti dengan adanya keturunan Tionghoa yang masuk dalam jajaran Wali Songo, penyebar Islam di Nusantara.

Kemudian pada 19 Januari 2001, Menteri Agama mengeluarkan Keputusan Nomor 13 Tahun 2001 tentang Penetapan Hari Raya Imlek sebagai Hari Libur Nasional Fakultatif.

Dan pada Februari 2002, Presiden Megawati Soekarnoputri mengumumkan bahwa mulai 2003, Imlek menjadi Hari Libur Nasional. Mega mengembalikan aturan yang pernah diterapkan sang ayah, Sukarno.

Penulis
: Arizki Fil Bahri
Editor
: Redaksi
Sumber
: Datariau.com
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)