NATUNA, datariau.com - Di Indonesia, sejak pertama kali ditemukannya infeksi HIV pada tahun 1987 tersebar di 368 dari 497 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.
Pada hari ini, Ahad (3/12/2017) PMI dan KPA Natuna lakukan kegiatan aksi penanggulangan AIDS, kegiatan aksi ini juga diikuti dari beberapa unsur.
Detemui datariau.com, terkait aksi penanggulangan Hiv/Aids ini, Ihsan, Kabid Dinas Kesehatan Natuna menjelaskan, dalam kegiatan ini fokus dalam penyakit menular memberikan tanggapan akan aksi yang dilakukan PMI dan KPA Natuna serta jajaranya yang bertujuan untuk bisa mengurangi masalah AIDS tersebut.
"Dalam waktu dekat ini kita akan melakukan survei di beberapa cafe yang ada di Natuna yang sasaranya PSK dan pelanggan. Kita akan lakukan sampel darah tersebut kepada target sasaran kita agar bisa mengetahui siapa saja yang positif HIV/AIDS tersebut," terangnya, sore tadi.

Data tahun 2016, lanjutnya, ada 60 pendirita yang terjangkit HIV AIDS dan 2017 ada peningkatan menjadi 90 penderita dan kurang lebih 30 orang yang meninggal dunia karena penyakit tersebut. Kemudian yang mengkonsumsi obat ada 11 orang yang rutin, namun yang mengambil obat itu hanya 4 orang saja serta sisanya juga masih kurang tahu, meninggal atau pindah dari tempat lain.
"Dalam hal ini ada yang namanya Trizero dikelompokkan menjadi 3, Trizero Kematian, Triziro Penularan, dan Triziro Diskriminatif. Sekarang yang paling banyak Trizero diskriminatif. Contohnya seorang wanita yang penularannya dari suaminya dan ia tetap dicam wanita yang tidak baik di tengah-tengah masyarakat," terangnya.

Dinas Kesehatan Natuna juga menghimbau kepada masyarakat jangan sampai tingkat Trizero Diskriminatif itu terjadi dalam kalangan masyarakat, sebab, untuk penularan penyakkit ini sangat sulit, kecuali dari penularan hubungan badan suami istri, jarum suntik, transfusi darah dan air susu ibu.
"Jadi diharapkan masyrakat Natuna jangan teralu diskriminatif terhadap orang pengidap HIV/AIDS, sehingga si korban susah untuk mendaptkan pekerjaan dan dikucilkan oleh masyarakat," pintanya.

Di Natuna, lanjutnya, pengidap ini sudah terinfeksi di semua kalangan umur, dari bayi yang terinfeksi sejak lahir, usia produktif umur 20an dan pengidap saat ini sudah ada di beberapa wilayah kecamatan di Kabupaten Natuna dan kecamatan Bunguran Timur yang terbanyak terinfeksi karena memang dekat dengan kota.
"Dari Dinas Kesehatan sendiri saat ini sudah ada namanya program Klinik Fisiti di beberapa puskesmas yang ada di kabupaten Natuna dengan tujuan puskesmas bisa menjaring pengidap, sehingga kita bisa melakukan penanganan dan bisa menekan terjadinya Trizero Diskriminatif itu," terangnya lagi.

Di sela-sela program ini, KPA yang diwakili oleh Komisionernya Ade saat ditemui datariau.com mengatakan, selaku penggagas acara ini ia mengharapkan kegiatan ini tidak hanya menjadi seremonial belaka.
"Komunikasi dan informasi yang diberikan adek-adek pelajar kita yang telah mengikhlaskan waktunya di acra ini melalui media komunikasi dan edukasi itu bisa menjadi pemahaman masyarakat Natuna dalam pencegahan dan penanganan HIV/AIDS," harap Ade, Komisioner KPA Natuna.

Acara PMI Natuna bekerjsama dengan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Natuna dimulai kumpul di sekitar Masjid Jami pukul 14:30 WIB, kemudian Shalat Ashar berjamaah di Masjid Jami, pengarahan di Lapangan Serindit, aksi kampanye, dan berakhir pukul 17:30 WIB ditutup dengan shalat Maghrib berjamaah dan pembubaran.
Terlibat dalam kegiatan ini PMR Timur yang terdiri dari SMANSA, SMANDA, MAN, SMKN1. Kemudian PMR Timur Laut dari SMANSA, PMR Selatan SMANSA, PMR Tengah SMANSA, acara ini didukung juga oleh OSIS, PIK-R, Pramuka dan Genre Se Bunguran, Among Mitro, FBN, Komuna, Laskar Raya, Forum Anak Natuna, Satpol PP, Indonesia Mengajar, dan Bhabinkantimas Bunguran Timur.