Rumah Warga Rusak Diduga Karena Pembangunan Mal di Simpang SKA Pekanbaru

datariau.com
1.583 view
Rumah Warga Rusak Diduga Karena Pembangunan Mal di Simpang SKA Pekanbaru
Irawan
Kondisi rumah warga yang retak-retak diduga akibat proyek pembangunan mal di Simpang SKA Pekanbaru.

PEKANBARU, datariau.com - Mega proyek yang katanya pembangunan mal dan apartemen yang berlokasi di simpang SKA atau Jalan Soekarno Hatta-Jalan Tuanku Tambusai Pekanbaru membuat warga resah.

Beberapa warga di RW 8 Kelurahan Tangkerang Barat, Kecamatan Marpoyan Damai, Kota Pekanbaru telah datang mengadu ke Komisi IV DPRD Kota Pekanbaru, Selasa (8/11/2016) pagi kemarin karena rumah mereka rusak diduga diakibatkan pembangunan mega proyek tersebut.

Proyek ini diketahui dilaksanakan oleh PT Total Persada. Saat dikunjungi ke lokasi proyek, Rabu (9/11), salah seorang pekerja yang mengaku bernama Robert mengatakan bahwa pimpinan mereka tidak ada di lokasi.

Saat ditinjau ke rumah beberapa warga yang tinggal tidak jauh dari lokasi proyek ini, tampak memang ada beberapa kerusakan. Proyek itu disebut warga sebagai penyebab keringnya sumur mereka, banjir dan retaknya rumah warga. Dari awal pembangunan mulai dikerjakan, warga mengaku bingung darimana perusahaan mendapatkan izin karena warga tidak pernah dimintai izin oleh pihak pengembang.

"Kami tidak pernah memberikan rekomendasi perizinannya tetapi izin pembangunan bisa keluar," ucap Ketua RW 8 Kelurahan Tangkerang Barat, Kecamatan Marpoyan Damai, Martua Amru Rangkuti.

Dari penelusuran di lokasi rumah warga yang berada di jalan Baung, Tangkerang Barat, Marpoyan Damai, tepat di belakang pembangunan, terlihat dinding depan teras rumah mengalami keretakan. Lantai keramik dan dinding kamar mandi retak parah sepanjang 1,5 meter dengan lubang berdiameter 2 milimeter.

"Sudah dicoba diplester retaknya, tapi retak lagi di sudut yang lain," ucap Rika didampingi ibunya Yus, saat menunjukkan rumahnya yang rusak diduga sebagai dampak pembangunan di Simpang SKA tersebut.

Penderitaan yang dialami oleh Rika dan keluarga kembali terjadi pada bulan April 2016. Saat hujan turun, air bercampur lumpur mengalir dari lokasi proyek tersebut ke pemukiman warga.

"Biasanya rumah kami tak pernah banjir, semenjak ada pembangunan ini air bercampur lumpur masuk ke dalam rumah," tukasnya.

Tidak hanya banjir, Rika kembali bercerita saat bulan Mei 2016 lalu, dia kembali mengeluhkan air sumur yang ada di dalam rumah mengalami kekeringan. Bahkan, dia sudah menggali air sumur bor sedalam 40 meter, air tetap kecil.

"Dua kali sudah membeli mesin air bor, dan dua kali juga di bor, airnya tetap kecil. Tak pernah air sumur kering seperti ini, tapi semenjak pembangunan itu kami jadi sengsara," terangnya mengeluh.

Karena kesal, tepat pada 20 Agustus 2016 yang lalu, secara personal, Rika memberanikan diri bertemu dengan pimpinan Total Persada untuk meminta kerugian yang dialaminya akibat dampak pembangunan proyek tersebut.

Rika yang berprofesi sebagai karyawan swasta ini, menerobos pintu lokasi proyek pembangunan untuk bertemu dengan pimpinan proyek. Dia juga mengajak tetangga yang mengalami kerugian. Namun, tetangganya tersebut takut keluhan mereka tidak digubris.

"Saya sudah ketemu sama pimpinannya, namanya Adi. Katanya hari Senin atau Selasa akan dikunjungi. Kejadiannya bulan Agustus. Sampai sekarang tak datang-datang, makanya saya mengadu ke pak RW," cetusnya.

Informasi yang diterima dari salah seorang karyawan di PT Total Persada, lokasi proyek yang dibangun di persimpangan Tuanku Tambusai-Soekarno Hatta itu akan dibangun apartemen setinggi 15 lantai dan Mal 4 lantai.

Proyek pembangunan ini mempekerjakan karyawan yang didatangkan dari pulau Jawa dan sebagian karyawan lokal di luas lahan 25.000 meter persegi. Target penyelesaian proyek 8 bulan lagi. Adapun Kontraktor pembangunan adalah PT Total Persada dengan pemilik PT 328.

Penulis
: Irawan
Editor
: Riki
Tag:
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)