MERANTI, datariau.com - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kepulauan Meranti mengklarifikasi soal pelayanan di Unit Gawat Darurat (UGD) yang sempat menimbulkan permasalahan. Mereka menyebutkan pasien yang dibawa ke UGD bukan ditolak, tapi ada miss komunikasi (kesalahpahaman antara kedua belah pihak).
Hal itu diungkapkan Direktur RSUD Kepulauan Meranti, dr Hj Ria Sari melalui
Kasi Pelayanan Medik, dr Aisyah Bee ketika ditemui diruang kerjanya, Senin (18/11/2019). Pihaknya sudah melakukan crosscheck (pemeriksaan kembali) persoalan pelayanan UGD terhadap dugaan penolakan pasien.
"Saya sudah mengumpulkan semua informasi terhadap semua pihak terkait dari persoalan tersebut. Jadi informasi yang saya dapat, pasien itu datang ke UGD pada Sabtu (16/11/2019) pagi. Dari anamnese (pemeriksaan awal) petugas dokter kami, sebelumnya keluarga pasien pergi ke Puskesmas Alahair dan salah satu kilinik swasta. Setelah kesana, baru datang ke UGD," kata dr Aisyah Bee.
Dia menjelaskan, setiap pasien yang datang ke UGD harus mengikuti sistem trease (menentukan status pasien apakah gawat darurat atau tidak). Setelah dilakukan trease, pasien dengan atas nama Nurul Akbar itu tidak berstatus gawat darurat, makanya dialihkan ke poliklinik untuk bertemu dengan dokter spesialis.
"Sebelum ditangani di UGD, dokter akan melihat dulu kondisi pasiennya. Baik itu tekanan darah, pernapasan, maupun jantungnya. Sementara, pasien bisa dirawat jalan, bukan harus ke UGD. Namun keluarga pasiennya tidak mau sebab ngantrinya lama," terang dr Aisyah Bee.
Disarankan seperti itu, lanjut dr Aisyah Bee, pihaknya harus mengikuti prosedur yang telah ditetapkan. Pihak RSUD bukan menolak pasien tersebut, tetapi ada miss komunikasi terhadap keluarga pasien dari pelayanan di UGD.
Menurutnya, maksud dialihkan ke poliklinik agar pasien bertemu dengan dokter spesialis, dan dilakukan pemeriksaan. Sebab, dari poli bisa saja dokternya menyarankan agar pasien dirawat setelah diperiksa.
"Sebenarnya sama saja, UGD itu kan gawat darurat. Seharusnya pasien bisa ketemu sama dokter spesialis, tapi keluarga pasiennya tidak mau, dan akhirnya pulang. Mungkin dengan bahasa agak sedikit komplain, keluarga pasien mengira itu lama sementara sudah prosedur," katanya.
Pasien akhirnya datang kembali sekitar lebih kurang pukul 11.00 WIB. Salah satu keluarganya meminta pasien ditangani dengan dilakukan infus. Namun, RSUD mempunyai kewenangan sebelum dilakukan tindakan tersebut. Karena menurut dr Aisyah Bee, pasien masih dalam keadaan stabil dengan tekanan darah yang normal.
"Tentu dokter harus melihat dulu. Tidak ada kegawatdaruratannya, tetapi dengan pertimbangan pasien tetap ditangani. Karena kalau itu gawat darurat, tanpa dimintapun kita akan melakukan tindakan dengan memasang infus. Kita sudah melakukan pemeriksaan, akhirnya ditemukanlah penyakit pasien yang bersifat privasi antara dokter dan pasien," ujar dr Aisyah Bee.
"Tidak mungkin baru datang lansung infus. Kita khawatir kalau ada penyakit contohnya seperti adanya gangguan pembesaran jantung. Itukan hati-hati untuk pemberian cairan infus. Makanya mungkin keluarga pasien tidak paham," tambahnya lagi.
Disamping itu, Kasi Pelayanan Medik itu juga mengungkapkan, tidak ada kegawatdaruratan terhadap pasien. Jika pasien sekarat, katanya tidak mungkin diletakkan diruang biasa, tapi di Intensive Care Unit (ICU).
"Sampai di ruangan dilakukan pemeriksaan, dokter rahmi yang mengambil alih pasien tersebut. Kita akan tetap terus memantau kondisi pasien," tuturnya.
Sementara Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr Rahmi mengatakan, kondisi pasien atas nama Nurul Akbar masih dalam keadaan stabil. Kestabilan tersebut dinilai dari tingkat kesadaran, tekanan darah, nadi, dan suhu yang masih normal.
"Hasil pemeriksaan laboratorium, memang ada sedikit ganguan elektrolit. Semua kita koreksi terhadap elektrolitnya. Mungkin dengan itu, pasiennya sedikit lemah dan ada sedikit infeksi," katanya.
Terkait pasien yang sudah dua minggu tidak mengonsumsi makanan, menurut dia staminanya tidak terlalu menurun. Katanya, jika sama sekali makanan tidak masuk, pasti ada gula darah rendah.
"Pasti ada masuk sedikit, cuma tidak maksimal. Makanya saya berikan penambah nafsu makan dan antibiotik untuk mencegah infeksi. Kalau saya lihat dari awal masuk sampai sekarang, pasien tersebut masih stabil. Dengan begitu, pasien masih bisa kita tangani," ungkap dokter spesialis penyakit dalam itu.(mad)