PEKANBARU, datariau.com - Perkembangan rumah sakit di Kota Pekanbaru sangat pesat, banyak rumah sakit baru nan megah berdiri. Namun, dinilai masih belum memberikan solusi kepada umat Islam sebagai mayoritas di Bumi Melayu ini.
Maka, RS Islam Ibnu Sina Pekanbaru sebagai rumah sakit Islam terus melakukan pembenahan sebagai upaya menjawab persoalan umat. Dimana, hal terpenting yakni mengenai antisipasi terjadinya pelecehan terhadap pasien perempuan, bersentuhannya dokter ataupun perawat laki-laki dengan pasien perempuan, menjadi perhatian khusus rumah sakit yang dikelola PT Syifa Utama ini.
Rumah sakit yang berada di Jalan Melati Nomor 60, Kota Pekanbaru ini telah berdiri sejak tahun 1980-an, hingga saat ini masih saja bertahan. Namun karena banyaknya rumah sakit di Kota Pekanbaru, RS Islam Ibnu Sina terkesan mulai tidak diperhitungkan masyarakat.
Maka kedepan, RS Islam Ibnu Sina Pekanbaru berupaya kembali menggenjot minat masyarakat untuk berobat di rumah sakit tersebut, terkhusus umat Islam Kota Pekanbaru, dengan memperhatikan dan memaksimalkan pelayanan kesehatan sesuai syariat, salah satunya mempersiapkan dokter perempuan untuk melayani pasien perempuan.
Hal ini disampaikan Direktur Utama PT Syifa Utama Dra Hj Eniwati Khaidir MAg, saat acara diskusi dan penyerahan kartu komunitas dengan 5 komunitas dan yayasan, di Aula Umar bin Khatab RS Islam Ibnu Sina Pekanbaru, Kamis (22/2/2018) pagi hingga siang.
Lima komunitas tersebut yakni Yayasan Haamilul Qur'an Pekanbaru, Riau Care Indonesia, Biker Muslim, Yayasan Ibnu Katsir, dan Pedagang Cinta Sunnah.
Kepada para hadirin, Direktur Utama PT Syifa Utama Dra Hj Eniwati Khaidir MAg menceritakan sejarah berdirinya RS Islam Ibnu Sina Pekanbaru sejak tahun 1980-an, dimulai menumpang di rumah depan Jalan Melati milik seorang dokter, saat itu statusnya masih klinik, kemudian membangun bangunan darurat dan saat ini sudah berdiri megah.
"Sudah banyak komunitas yang bekerjasama dengan kita, namun ini luar biasa, 5 komunitas sekaligus, sangat ramai. Memang kita ingin RS Ibnu Sina ini menjadi pilihan utama umat Islam," kata Eniwati Khaidir.
Diterangkannya, fenomena yang terjadi saat ini, kebanyakan umat Islam lebih memilih rumah sakit yang berseberangan aqidahnya dengan umat Islam, padahal rumah sakit itu bertetanggaan dengan RS Islam Ibnu Sina ini. Maka kondisi ini menjadikan pihaknya berpikir keras untuk membenahi pelayanan.
"Maka kita ingin bukan sekedar memberikan pelayanan kesehatan, namun juga dakwah. Karena rumah sakit kita ini memang berada di lokasi yang tidak mendukung, jalannya saja tidak menarik, berada di pemukiman masyarakat," terangnya.
Untuk membenahi pelayanan dan mewujudkan pelayanan sesuai syariat, saat ini RS Islam Ibnu Sina juga tengah mempersiapkan dokter dan perawat perempuan untuk melayani pasien perempuan, dengan demikian kedepannya di rumah sakit ini, pasien ditangani sesama jenis.
"Namun memang untuk dokter perempuan sulit mendapatkan, untuk 5 tahun belakangan ini sudah mulai kita terapkan, pasien perempuan ditangani dokter dan perawat perempuan, pasien laki-laki dirawat dan ditangani dokter laki-laki," terangnya.
Untuk mendukung ketersediaan dokter perempuan di RS Islam Ibnu Sina Pekanbaru, pihaknhya saat ini tengah menyekolahkan dokter-dokter perempuan sesuai yang diinginkan. Dengan demikian, kedepan RS Islam Ibnu Sina Pekanbaru akan semakin bagus pelayanannya dan menjadi pilihan bagi umat Islam.
"Kita iri, umat Islam lebih memilih rumah sakit yang berlainan aqidah dengan kita, padahal itu (rumah sakit) tetangga kita. Kita evaluasi dalam pelayanan. Kami menerima masukan-masukan untuk memberikan kontribusi kepada kami untuk semakin lebih baik," tuturnya lagi.
Dia juga menceritakan sejarah asal mula berdirinya RS Islam Ibnu Sina Pekanbaru ini. Dimulai dari Yayasan Rumah Sakit Islam (YARSI) Riau pada tahun 1968. YARSI Riau didirikan pada tanggal 7 Januari 1980 dengan Akta Pendirian No. 19/1980 di hadapan Notaris Syawal Sutan Diatas.
Sejarah dimulainya pembangunan YARSI Riau diawali dengan lembaran panjang sejarah sebuah gagasan. Pada mulanya, beberapa gagasan untuk pendirian sebuah rumah sakit yang bernuansa Islami muncul dari keadaan kebutuhan umat Islami akan pelayanan kesehatan. Maka muncullah ide dari mendiang HM Nasir, setelah Ibnu Sina Bukittinggi maka muncullah Ibnu Sina Pekanbaru.
Seiring perjalanannya, YARSI Riau berganti badan hukum menjadi PT Syifa Utama dengan salah satu unit bisnisnya mengelola sebuah rumah sakit dengan nama Rumah Sakit Islam (RSI) Ibnu Sina Pekanbaru yang semakin berkembang dan kemajuan pesat.
Dalam manajemennya, pihak PT Syifa Utama membatasi pemberi saham, hanya diutamakan dari keluarga penggagas awal YASRI Riau. "Ini dilakukan untuk memastikan agar visi misi awal tidak melenceng," sebutnya sembari menjelaskan, dari 17 orang pendiri, saat ini masih hidup 2 orang.
Sebelumnya, Direktur RS Islam Ibnu Sina Pekanbaru dr Novrielly MKes juga telah menyampaikan sambutan. Diterangkannya, bahwa dengan program kartu komunitas ini, pemegang kartu mendapatkan berbagai kemudahan dalam memperoleh pelayanan kesehatan, diskon harga, prioritas pelayanan dan sebagainya.
"Diskon yang diberikan kepada pemegang kartu komunitas, Administrasi 50 persen, kamar perawatan 10 persen, obat 10 persen, laboratorium 10 persen, gas medis 20 persen, dan medical chek up 10 persen," kata dr Novrielly.

Direktur RS Islam Ibnu Sina Pekanbaru dr Novrielly MKes foto bersama para akhwat yang hadir usai acara. (Foto:Riki)
Dikatakannya, bahwa bukan diskon yang menarik para anggota komunitas ini, akan tetapi yang lebih diutamakan adalah pelayanan prima RSI Ibnu Sina untuk masyarakat. "Ketersediaan kamar yang selama ini menjadi keluhan di beberapa rumah sakit lainnya, maka di RSI Ibnu Sina semoga tidak terjadi hal tersebut," paparnya.
Kerjasama yang terjalin, kata dr Novrielly, bukan sekedar pelayanan kesehatan, namun juga bisa dalam hal bhakti sosial, operasi bibir sumbing gratis, pengobatan massal gratis, sunatan massal, dan penyuluhan kesehatan.
"Operasi bibir sumbing kita laksanakan sejak tahun 2008, sudah 1300 lebih pasien yang sudah dioperasi, bukan Riau saja, sampai di Jambi dan Lampung. Bagi yang di Pekanbaru bisa datang langsung ke Ibnu Sina, di daerah yang cukup jauh kita siapkan tim datang ke daerah, kalau pasien sudah terkumpul kita lakukan operasi di daerah," terangnya.
Ketua Riau Care Indonesia Ian Tanjung juga menyampaikan keluhan yang selama ini terjadi saat dirinya dan kemungkinan kebanyakan masyarakat juga mengalami hal yang sama, yakni mendapatkan pelayanan sesuai syariat.
"Rumah sakit harus memanusiakan manusia, pelayanan dahulukan baru biaya belakangan, pelayanan jangan kaku, mereka yang datang ini sedang ada masalah, sakit, harus dilayani dengan senyum. Saya siap adakan pelatihan senyum untuk RS Islam Ibnu Sina ini secara gratis," paparnya.
"Saya ini suami yang pencemburu, istri dirawat tak mau dipegang perawat atau dokter laki-laki. Ini harus jadi perhatian nantinya oleh RS Islam Ibnu Sina," lanjutnya.
Kemudian dari Yayasan Haamilul Qur'an Pekanbaru Ustadz Abu Sulaiman Febrio dalam kesempatan itu menyebutkan, bahwa dengan adanya kartu komunitas ini akan membantu para pengajar dan peserta tahsin di yayasan tersebut.
"Yayasan kami baru 1 tahun lebih, mengajarkan al Quran. Tidak terfokus usia sekolah dan santri, fokus kami mendidik cara baca Al Quran pada masyarakat umum, non formal, jumlah peserta semuanya 1000 orang lebih, pengajar 70 orang dan 17 akhwat," ujar Abu Sulaiman.
Direktur Umum PT Syifa Utama Pengelola RS Islam Ibnu Sina Ir Ferianto Johan dalam kesempatan itu juga menginginkan agar manajemen RS Islam Ibnu Sina Pekanbaru nantinya diikutsertakan dalam program memperbaiki bacaan al Qur'an atau Tahsin di Yayasan Haamilul Qur'an.
Menjawab ini, Abu Sulaiman dengan senang hati mempersilahkan agar staf dan karyawan RS Islam Ibnu Sina mendaftarkan diri. "Guru kita minimal mengajar 4 kali dalam sepekan," tuturnya.
Selanjutnya dari Yayasan Ibnu Katsir Dino dalam kesempatan itu juga mengaku senang adanya kartu komunitas yang diberikan RS Islam Ibnu Sina tersebut. "Kami ada pondok pesantren, jadi kartu ini sangat bermanfaat untuk kami berobat, terlebih pemegang kartu komunitas ini menjadi pasien prioritas," pungkasnya.
Pembina Marketing RS Islam Ibnu Sina Zulfikar yang sekaligus penggagas acara ini menjelaskan, bahwa dengan adanya kartu komunitas ini, diharapkan bisa membantu umat Islam dalam mendapatkan pelayanan kesehatan.
"Anggota nantinya akan mendapatkan pelayanan prioritas, jika dalam berobat menemukan kendala di RS Islam Ibnu Sina, segera hubungi saya, ada nomor saya di kartu komunitas tersebut, nanti biar saya langsung turun ke rumah sakit membantu akhi semua, bukan 24 jam, 2x48 jam juga saya layani, rumah saya cukup jauh dari rumah sakit, in syaa Allah lima menit sampai ke rumah sakit kalau sedang diperlukan," katanya dengan semangat.
Kemudian dalam diskusi dipandu Direktur Umum PT Syifa Utama Pengelola RS Islam Ibnu Sina Ir Ferianto Johan. Peserta dipersilahkan bertanya dan dijawab oleh pihak rumah sakit yang hadir dalam kesempatan itu.
Banyak hal yang disampaikan dalam diskusi, seperti masukan dari Ketua RCI Ian Tanjung, meminta agar rumah sakit memberikan transparasi biaya berobat. "Karena kita orang Indonesia ini rugi Rp10 juta masih bisa diterima, tapi kalau tertipu Rp10 ribu saja kecewanya luar biasa," kata Ian.
Menjawab ini Feri mengatakan bahwa sebagian biaya berobat sudah dipublis, namun untuk beberapa item memang masih belum terbuka. "Nanti akan kita publis lagi," urainya.
Acara dimulai pukul 08.00 WIB dimulai dengan sarapan bersama, kemudian berakhir pukul 11.00 WIB. Ditutup dengan penyerahan kartu komunitas secara simbolis kepada 5 komunitas yang hadir, kemudian dilanjutkan foto bersama.

Direktur Umum PT Syifa Utama Pengelola RS Islam Ibnu Sina Ir Ferianto Johan foto bersama para pimpinan dan anggota komunitas yang hadir. (Foto:Riki)