DATARIAU.COM - Guru Besar Epidemiologi FKM-UI Bambang Sutrisna meninggal dunia di Rumah Sakit Persahabatan Jakarta, Senin (23/3). Ia meninggal karena terpapar Covid-19 dari pasiennya.
Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Daeng M Faqih menceritakan Bambang bertemu pasiennya di klinik praktik. Saat itu, Bambang tidak mengetahui bahwa pasiennya merupakan suspect Covid-19.
"Prof Bambang Sutrisna dia tertular justru bukan di rumah sakit rujukan tetapi di tempat praktik dia. Yah karena tidak mengerti yang bersangkutan terjangkit Covid-19 sehingga akhirnya (ditangani)," kata Daeng, Senin (30/3).
Bambang baru mengetahui pasiennya sudah terjangkit Covid-19 setelah mendapatkan hasil rontgen paru-paru yang sudah putih. Namun, saat itu Bambang tak bisa berbuat banyak. Ia hanya bisa pasrah.
"Yah, sudah terlanjur tertular dia," ujarnya.
Kejadian serupa bukan hanya menimpa Bambang. Menurut Daeng, kejadian demikian hampir terjadi di seluruh daerah yang sudah terkonfirmasi ada kasus Covid-19.
Ia menduga ada beberapa hal yang menyebabkan pasien tak mau jujur kepada tenaga medis bahwa dirinya sudah terpapar virus yang menyerang sistem pernafasan itu. Baik tenaga medis di klinik, puskesmas dan rumah sakit non rujukan Covid-19. Alasan pertama menurut dia, karena pasien khawatir tak segera ditangani tenaga medis.
"Kalau bilang Covid-19 tidak dilayani, dia tidak ngomong Covid-19, padahal dia sudah statusnya PDP misalnya. Nah dia menghadap dokter karena bilang tidak Covid-19, dokternya tidak pakai APD. Setelah ditelusuri terus, duh pasien PDP ini. Udah, dokternya dinyatakan ODP kan. Kejadian-kejadian seperti itu banyak," ucapnya.
Kedua, kemungkinan dipicu banyaknya pasien di rumah sakit rujukan Covid-19 yang melebihi kapasitas. Lantaran tak sabar menunggu giliran untuk ditangani tenaga medis di rumah sakit tersebut, pasien bergerak ke klinik, puskesmas atau rumah sakit non rujukan.
"Jadi itulah, kalau dokternya tidak hati-hati, kemudian pasien tidak terus terang, di situ lah resiko tertular sangat besar, sangat tinggi. Makanya waktu itu kami sampaikan pernyataan bersama supaya petugas kesehatan hati-hati sekali," sambungnya.
Tenaga Medis di Jateng Terpapar Pasien Rujukan
Dian, seorang tenaga medis di RS Jawa Tengah juga terjangkit Covid-19 dari pasien rujukan. Dia tak tahu bahwa pasien tersebut suspect Covid-19. Ketika itu, ia melayani pasien yang melakukan pendaftaran dengan kondisi batuk.
"Saya kontak dengan dia sekitar 15 menitan sedangkan waktu itu juga tidak mengenakan masker," ujarnya.
Setelah pasien tersebut dirawat dan dinyatakan positif corona, Dian merasakan mulai ada gejala seperti demam, batuk dan panas tinggi. Meski begitu, ia tetap nekat berangkat bekerja.
"Sampai saya pingsan karena tidak kuat. Setelah dicek, saya dinyatakan positif Corona," tegasnya.(*)