Mengkhawatirkan, Kasus HIV/AIDS di Bagan Batu Menjangkit Ibu dan Balita

datariau.com
1.649 view
Mengkhawatirkan, Kasus HIV/AIDS di Bagan Batu Menjangkit Ibu dan Balita
Ilustrasi
BAGANBATU, datariau.com - Dampak keberadaan warung remang dan lokasi prostitusi mengakibatkan warga setempat menanggung resiko tinggi, terjangkit virus HIV/AIDS. Sebab, seorang yang berganti pasangan dalam berhubungan intim, akan mudah terjangkit virus mematikan itu dan akan menularkannya kepada anggota keluarga lainnya dan warga lingkungan tempat tinggal.

Kepala Puskesmas Bagan Batu dr Josafat Silalahi menerangkan bahwa ada sekitar 7 ribu orang beresiko HIV/AIDS di Bagan Batu, Kecamatan Bagan Sinembah, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil).

"Ibu rumah tangga juga sudah ada yang kena penyakit. Bahkan, di kalangan karyawan swasta dan bahkan anak bayi udah ada yang meninggal," ungkap dr Josafat Silalahi kepada Datariau.com, Senin (12/9/2017) di kantornya.

Menurut catatan, lanjut Josafat, sebelumnya ada khsus pada anak balita sekitar tiga orang kena HIV. "Di wilayah kita ada sekitar tiga orang balita yang meninggal dunia, tapi itu udah kasus lama tiga tahun yang lalu," katanya.

Selain anak balita, tambahnya, dewasa dan orang tua juga ada yang meninggal dampak dari penyakit tersebut. "Dulunya kita dari tenda biru sekarang udah wilayah Kecamatan Balai Jaya sampai ke perbatasan Riau-Sumut wilayah kerja pengawasan Puskemas Bagan Batu. Kalau meninggal akibat penyakit HIV udah sekitar belasan orang untuk wilayah Bagan Batu, Kecamatan Bagan Sinembah," jelas Josafat.

Kemudian ditanyakan, apakah di lokalisasi di perbatasan Riau-Sumut yang kini diberantas oleh Upika Kecamatan Bagan Sinembah dalam berapa minggu ada korban HIV, dalam hal ini Kepala Puskesmas Bagan Batu menjelaskan dulunya di perbatasan juga ada, bahkan di lokalisasi itu ada yang meninggal dunia.

"Cuma kita tak boleh memberikan identitas, karena takut yang lain jadi setres," katanya.

Selanjutnya dipertanyakan, apakah pihak Puskesmas mendukung penuh program Upika dalam memberantas tempat maksiat di perbatasan Riau-Sumut, Josafat mengatakan bahwa di perbatasan itu kalau bisa disatutempatkan untuk tinggal mereka dan jangan sampai berkeliaran di pemukiman masyarakat itu lebih baik.

"Sebab sangat dikhawatirkan dampaknya jika berkeliaran dengan bebas," usul kepala Puskesmas.

"Kita sebenarnya bukan melegalkan maksiat, tapi pencegahan yang harus dilakukan, jangan nanti salah tanggap pula. Karena kita menyediakan pencegahan diminta kepada mereka gunakan kondom. Kemudian pencegahan dini di usia produktif, seperti di kalangan remaja. Atau pencegah dan membuat korban menjadi kebal dengan memakan obat untuk bertahan lama hidupnya," paparnya.

Lanjut Josafat, di Puskesmas Bagan Batu sering mengadakan sosialisasi kepada penderita HIV dan AIDS. "Kita disini selalu mengumpulkan para penderita HIV  itu di Bagan Batu. Bahkan ada klub-nya. Setiap bulan ada perkumpulan. Bahkan baru bulan kemarin kita ada pertemuan," katanya.

Lebih jauh Josafat menjelaskan, bahwa ada nama slogan Top, kata Top adalah temukan obati pertahankan. "Berulang kali kita melakukan sosialisasi kepada penderita HIV dan AIDS. Namun mereka lebih kuat lagi difaktor ekonomi-nya. Cuma sekarang para penderita itu, terutama penderita di lokalisasi itu udah komitmen tidak mau lagi menyebarkan penyakit kepada yang lain," katanya.

Dalam hal ini, Kepala Puskesmas ini sering menghimbau dan mengajak masyarakat agar tidak mengkriminalisasikan kepada penderita HIV. "Kita juga selalu sering untuk para penderita supaya tidak ada kriminalisasi terhadap mereka. Karena semakin ia dikriminalisasi itu semakin dikucilkan makin cepat meninggal dunia. Mereka merasa bisa stres dan merasa tidak dihargai," ujarnya.

"Namun penderita kita ini beragam. Artinya ada pekerja seks, ada para waria, lelaki suka lelaki, bencong, ibu rumah tangga opung-opung pun ada," katanya lagi.

Namun menurut Josafat, kebanyakan di Baganbatu ini penderitanya sudah banyak yang datang-datang. Datangnya dari berbagai penjuru, bukan hanya asli daerah Bagan Batu, tapi luar daerah juga ada yang tinggal di Bagan Batu.

Sebenarnya ada program PPIA, Pencegahan Penularan Ibu Anak. Ada empat kegiatan. Pertama pencegahan primer kepada wanita remaja yang berusia 15 sampai 45 tahun.

Kemudian pencegahan kehamilan bagi penderita yang positif HIV, pencegahan dari ibu ke anak yang positif bila ingin melahirkan. Melakukan dukungan,  pengobatan kepada penderita.

"Kita terus sosialisasi karena penderita terus berubah-rubah. Kita sosialisasinya terkait HIV ini hampir setiap minggu. Kita juga sosialisasi kepada pengantin baru. Sifanya terus menerus sebenarnya," katanya lagi.

"Tapi itu tadi kesadaran dikalahkan dengan kebutuhan ekonomi. Tapi pelaku itu merasa dirinya positif memang tak mau dia melayani tamunya. Penderita kita disini ada 10 tahun kena penyakit HIV, bahkan masih sehat dia. Pembinaan kepada penderita kita mendengar keluhan dari mereka perlu kita tampung dan disarankan makan obat selama hidup," pungkasnya.
Penulis
: Samsul
Editor
: Riki
Sumber
: Datariau.com
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)