PEKANBARU, datariau.com - Kebijakan pemerintah konversi minyak tanah ke elpiji sejak 2007 silam, ternyata menyusahkan masyarakat jika tidak terpantau secara baik. Sejak tiga hari lalu, elpiji 3 Kg di daerah Kecamatan Tampan Kota Pekanbaru langka, kalaupun ada harganya fantastis mencapai Rp28 ribu per tabung.
Atas kondisi ini, masyarakat merasa seakana-akan kebijakan pemerintah ini hanya menyengsarakan masyarakat. Bagaimana tidak, ketika masyarakat telah terbiasa menggunakan gas elpiji, kini barang yang telah menjadi kebutuhan itu hilang-hilang timbul, kadang ada kadang tidak.
"Rasanya, kita ini sudah dizholimi pemerintah. Sebagai ibu rumah tangga, dengan langkanya Elpiji 3Kg saya jadi terlantar untuk menjalankan kewajiban melayani anak dan suami dalam hal menyediakan makan untuk mereka. Sudah berkeliling kota, Elpiji yg kucari juga tak kunjung ditemukan yg akhirnya aku pulang dgn tngan hampa. Demi tetap bisa masak, terpaksa saya pinjam gas tetangga. Pemerintah suka menzholimi," demikian tulisan salah seorang ibu rumah tangga di di halaman facebook.
Keluhan serupa juga disampaikan kalangan ibu rumah tangga yang menenteng gas 3 Kg di beberapa kedai yang biasanya menjual elpiji, mereka pulang dengan harapan hampa ketika pemilik warung mengatakan gas elpiji kosong.
"Mau beli dimana lagi nih, gak ada yang jual lagi bahkan di SPBU pun sudah kosong. Nak makan apa keluarga nanti, kok bisa lah gas ini langka terus," ujar salah seorang ibu menggerutu, Senin (29/9/2014) pagi.
Atas kondisi ini, beberapa ibu rumah tangga kembali menggunakan kompor minyak. Seperti Sari, ia membeli minyak tanah di warung di Jalan Suka Karya, Panam. "Terpaksa pakai kompor minyak, kalau tak gitu pakai apa masak. Minyak mahal pula," ulasnya ketika membayar minyak yang ia beli ke pemilik warung Rp11 ribu per liter.
Asmawati, salah seorang ibu rumah tangga yang hari Ahad kemarin berhasil mendapatkan gas elpiji, mengaku memperoleh satu tabung gas elpiji 3 Kg dengan harga Rp28 ribu. Harga biasanya hanya Rp17 ribu tentu harga ini menjadi sangat mengejutkan, namun bagi Asmawati, agar tetap bisa memasak, tetap membelinya.
"Kemarin masih ada, tapi harganya mahal Rp28 ribu, tinggal 10 tabung kemarin, tapi malmnya sudah habis, untunglah saya udah beli," ceritanya kepada ibu lain.
Para ibu ini berharap, agar pemerintah melakukan evaluasi terhadap kebijakan konversi minyak tanah ke elpiji yang telah berjalan bertahun-tahun namun kelangkaan di beberapa daerah menjadi mimpi buruk yang mengerikan bagi kalangan ibu rumah tangga.
"Kalau tak sanggup mengawasi, kembalikan saja menjadi minyak tanah. Turunkan harga minyak tanah," tegas Sari, seorang ibu rumah tangga yang tengah berbelanja di kedai harian di Jalan Simpang Baru Panam.
Sejak awal digulirkannya program konversi Minyak Tanah ke LPG tahun 2007, pemerintah mendistribusikan 50 juta lebih paket perdana kompor gas. Dalam mensosialisasikannya, pemerintah menjanjikan penghematan yang akan didapatkan masyarakat menggunakan gas elpiji dari pada minyak tanah.
Program pengalihan minyak tanah ke elpiji oleh Departemen ESDM disebut-sebut, bahwa pemakaian minyak tanah 1 liter setara hanya dengan memakai 0,57 Kg elpiji. Elpiji juga dinilai lebih ramah lingkungan. Namun kenyataannya kini, harga elpiji subsidi ini tidak stabil dan keberadaannya juga sering susah didapatkan.
Sejumlah masyarakat, juga menyebut hilangnya elpiji 3 Kg dari peredaran, diduga ada keterkaitan naiknya tabung gas elpiji 12 Kg. Maka, masyarakat meminta pemerintah Kota Pekanbaru segera melakukan penyelidikan di lapangan dan memberikan sanksi tegas kepada pelaku yang mengakibatkan langkanya elpiji subsidi ini. (*)