DATARIAU.COM - Bulan Sya'ban adalah bulan yang ke-8 dalam penanggalan hijriyah. Bulan ini memiliki banyak keutamaan. Banyak hadits yang berbicara tentang keutamaan bulan Sya'ban. Akan tetapi, banyak juga hadits-hadits lemah (dha'if) yang disebarkan pada bulan ini yang berkaitan dengan bulan Sya'ban.
Kita harus berhati-hati dengan hadits lemah (dha'if), terlebih lagi jika hadits tersebut berhubungan dengan aqidah, amalan dan hukum dalam Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِن كَذِبًا عَلَي لَيسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ, مَن كَذَبَ عَلَي مُتَعَمِدًا فَليَتَبَوَأ مَقعَدَهُ مِنَ النارِ.
“Sesungguhnya berdusta atas namaku tidak seperti berdusta atas nama selainku. Barang siapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja, maka sesungguhnya dia telah menyiapkan tempat duduknya di neraka.”[1]
Oleh karena itu, penulis berusaha mengumpulkan beberapa hadits lemah tentang bulan Sya’ban dari beberapa tulisan ulama dan penuntut ilmu untuk bisa kita ambil faidah bersama-sama.[2]
Berikut ini sebagian hadits-hadits lemah tersebut:
Hadits ke-1: Penamaan bulan Sya’ban
إنما سُمي شَعبانَ لأنهُ يَتَشَعبُ فيه خَيرٌ كثِيرٌ لِلصائِمِ فيه حتى يَدخُلَ الجَنةَ.
“Sesungguhnya bulan Sya’ban dinamakan Sya’ban karena di dalamnya bercabang kebaikan yang sangat banyak untuk orang yang berpuasa pada bulan itu sampai dia masuk ke dalam surga.”[3]
Hadits ke-2 , ke-3 dan ke-4: Keutamaan bulan Sya’ban
رَجَبٌ شَهرُ الله، وشَعبانُ شَهرِي، وَرَمَضانُ شَهرُ أُمتِي.
“Rajab adalah bulan Allah, Sya’ban adalah bulanku dan Ramadhan adalah bulan umatku.”[4]
خِيرَةُ اللهِ مِنَ الشهُورِ شَهرُ رَجَبٍ وَهُوَ شَهرُ اللهِ، مَن عَظمَ شَهرَ اللهِ رَجَبٍ فَقَد عَظمَ أَمرَ اللهِ، وَمَن عَظمَ أَمرَ اللهِ أَدخَلَهُ جَناتِ النوَأَوجَبَ لَهُ رِضوَانَهُ الأَكبَرَ، وَشَعبَانُ شَهرِي فَمَن عَظَمَ شَهرَ شَعبَانَ فَقَدعَظمَ أَمرِي، وَمَن عَظمَ أَمرِي كُنتُ لَهُ فَرَطًا وَذُخرًا يَومَ القِيَامَةِ، وَشُهِرُ رَمَضَانَ شَهرُ أُمَتِي…
“Sebaik-baik bulan adalah bulan Allah, (yaitu Rajab). Barang siapa yang mengagungkan bulan Rajab, maka dia telah mengagungkan urusan Allah. Barang siapa yang mengagungkan urusan Allah, Dia akan memasukkannya ke dalam surga yang penuh dengan kenikmatan dan pasti mendapatkan keridhaan-Nya yang paling bear. Bulan Sya’ban adalah bulanku. Barang siapa yang mengagungkan bulan Sya’ban maka dia telah mengagungkan urusanku. Barang siapa yang mengagungkan urusanku, maka saya akan menjadi pendahulunya dan simpanan kebaikannya di hari kiamat. Bulan Ramadhan adalah bulan umatku…”[5]
فَضلُ رَجَبَ عَلَى سَائِرِ الشهُورِ كَفَضلِ القُرآنِ عَلَى سَائِرِ الأَذكَارِ ، وَفَضلُ شَعبَانَ عَلَى سَائِرِ الشهُوكَفَضلِ مُحَمدٍ عَلَى سَائِرِ الأَنبِيَاءِ ، وَفَضلُ رَمَضَانَ عَلَى سَائِرِ الشهُورِ كَفَضلِ اللهِ عَلَى عِبَادِه.
“Keutamaan bulan Rajab dari seluruh bulan adalah seperti keutamaan Al-Qur’an dari seluruh dzikir. Keutamaan bulan Sya’ban dari seluruh bulan adalah seperti keutamaan Muhammad dari seluruh nabi. Dan keutamaan bulan Ramadhan dari seluruh bulan adalah seperti keutamaan Allah dibanding dengan hamba-hamba-Nya.”[6]
Hadits ke-5, ke-6 dan ke-7: Puasa d bulan Sya’ban
كَانَ رَسُولُ اللهِ-صَلى اللهُ عَلَيهِ وَسَلمَ-يَصُومُ ثَلَاثَةَ أَيمِن كُل شَهرٍ فَرُبما أخرَ ذلِكَ حَتى يَجتَمِعَ عَلَيهِ صَومُ السنَةِ فَيَصُوم شَعبَانَ.
“Dulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa tiga hari setiap bulan dan terkadang beliau mengakhirkan puasa tiga hari tersebut sampai setahun, kemudian beliau berpuasa di bulan Sya’ban.”[7]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak berpuasa di bulan Sya’ban. Akan tetapi, yang diingkari pada hadits di atas adalah alasan mengapa beliau berpuasa Sya’ban.
عن أبي هريرة-رضي الله عنه- أَن رَسُولَ اللهِ صَلى اللهُ عَلَيهِ وَسَلمَ لَم يَصُم بَعدَ رَمَضَانَ إِلَا رَجَبٌ وَشَعبَانُ
“Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berpuasa setelah bulan Ramadhan kecuali berpuasa di bulan Rajab dan Sya’ban saja.”[8]
Hadits ini jelas sekali bertentangan dengan hadits-hadits yang lain yang menunjukkan bahwa beliau biasa berpuasa Syawwal, Senin-Kamis dan lain-lain.
عن عَائِشَةَ ، قَالَت: … فَقُلتُ: يَا رَسُولَ اللهِ: مَالِي أَرَى أَكثَرَ صِيَامِكَ فِي شَعبَانَ ، فَقَالَ:
يَا عَائِشَةُ إِنهُ شَهرٌ يَنسَخُ لمِلَكِ المَوتِ مَن يَقبِضُ ، فَأُحِبُ أَنلَا يَنسَخَ اسمِي إِلا وَأَناَ صَائِمٌ.
Diriwayatkan dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha … dia bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah! Mengapa saya melihat engkau paling banyak berpuasa di bulan Sya’ban?” Beliau pun menjawab, ‘Ya ‘Aisyah! Sesungguhnya dia adalah bulan yang mana Malaikat Maut mencatat (nama-nama) orang yang akan dicabut (nyawanya), dan saya senang jika dicatat namaku dalam keadaaan saya sedang berpuasa.”[9]
Hadits ke-8: Puasa Nishfu Sya’ban (Pertengahan bulan Sya’ban)
إِذَا كَانَت لَيلَةُ النصفِ مِن شَعبَانَ ، فَقُومُوا لَيلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا
“Apabila malam pertengahan bulan Sya’ban, maka hidupkanlah malamnya dan berpuasalah di siang harinya.”[10]
Terdapat keutamaan malam pertengahan bulan Sya’ban, tetapi yang diingkari dalam hadits ini adalah penyebutan amalan khusus yang dikhususkan pada hari tersebut.
Hadits ke-9 sampai 16: Keutamaan malam pertengahan bulan Sya’ban
إِن اللهَ تَعَالَى يَنزِلُ لَيلَةَ النصفِ مِن شَعبَانَ إِلَى السمَاءِ الدنيَا , فَيَغفِرُ لأَكثَرَ مِن عَدَدِ شَعَرِ غَنَمِ كَلبٍ.
“Sesungguhnya Allah turun pada malam pertengahan bulan Sya’ban ke langit dunia dan mengampuni lebih dari jumlah bulu kambing suku Kalb.”[11]
Suku Kalb dulu terkenal memiliki banyak kambing peliharaan, sehingga mereka terkenal di negeri Arab. Penyebutan banyak hamba-hamba yang akan diampuni pada malam tersebut benar dan terdapat pada hadits yang shahih, yang diingkari pada hadits ini adalah jumlah khusus yang disebutkan.
خَمسُ لَيالٍ لا تُرَد فِيهِن الدعوَةُ أولُ لَيلَةٍ مِن رَجَبٍ وَلَيلَةُ النصفِ مِن شَعبانَ وَلَيلَةُ الجُمُعَةِ وَلَيلَةُ الفِطرِ وَلَيلَةُ النحرِ
“Ada lima malam yang doa tidak akan ditolak pada malam-malam itu, yaitu: malam pertama di bulan Rajab, malam pertengahan di bulan Sya’ban, malam Jum’at, malam (idul) fitri dan malam sembelihan (idul-adha).”[12]
Yang diingkari dalam hadits ini dan berikutnya adalah penyebutan amalan khusus yang dikhususkan pada malam tersebut.
مَن قَرَأَ لَيلَةَ النصفِ مِن شَعبَانَ أَلفَ مَرةٍ: قُل هُوَ اللهُ أَحَد, بَعَثَ اللهُ إِلَيه مِئَةَ أَلفِ مَلَكٍ يُبَشرُونَه .
“Barang siapa yang membaca di malam pertengahan di bulan Sya’ban seribu kali ‘Qul Huwallahu Ahad’, maka Allah akan mengutus kepadanya seratus ribu malaikat untuk memberi kabar gembira kepadanya.” [13]
يَا عَلِي مَن صَلى لَيلَةَ النصفِ مِن شَعبَانَ مِئَةَ رَكعَةٍ بِأَلفِ: قُل هُوَ اللهُ أَحَد, قَضَى اللهُ لَهُ كُل حَاجَةٍ طَلَبَهَا تِلكَ الليلَة
“Ya ‘Ali! Barang siapa yang shalat di malam pertengahan di bulan Sya’ban sebanyak seratus rakaat dengan membaca seribu ‘Qul Huwallahu Ahad’, maka Allah memenuhi seluruh hajatnya yang dia minta pada malam itu.”[14]
مَن أَحيَا لَيلَتَي الِعيدِ وَلَيلَةِ النصفِ مِن شَعبَانَ لَم يَمُت قَلبُهُ يَومَ تَمُوتُ القُلُوب.
“Barang siapa yang menghidupkan dua malam, yaitu: malam id dan malam pertengahan di bulan Sya’ban, maka hatinya tidak akan mati, dimana hati-hati manusia banyak yang mati.”[15]
مَن صَلى لَيلَةَ النصفِ مِن شَعبَانَ ثَلاَثَ مِئَةِ ركعَةٍ ( فِي لَفظٍ ثِنتَي عَشَرَ رَكعَةً ) يَقرَأُ فِي كُل رَكعَةٍ ثَلَاثِينَ مَرةٍ قُل هُوَ اللهُ أَحَد شُفعَ فِي عَشرَةٍ قَد استَوجَبُوا النار.
“Barang siapa yang shalat di malam pertengahan di bulan Sya’ban sebanyak tiga ratus raka’at, (di dalam riwayat lain dua belas rakaat), dan dia membaca pada setiap rakaat tiga puluh kali ‘Qul Huwallah Ahad’, maka dia akan bisa memberi syafaat untuk sepuluh orang yang dipastikan masuk ke dalam neraka.”[16]
مَن أَحيَا الليَالِي الخَم؛ وَجَبَت لَهُ الجَنَة: لَيلَةَ التروِيَةِ، وَلَيلَةَ عَرَفَةَ، وَلَيلَةَ النحرِ، وَلَيلَةَ الفِطرِ، وَلَيلَةَ النصفِ مِن شَعبَانَ
“Barang siapa yang menghidupkan lima malam maka dia akan masuk surga, yaitu: malam tarwiyah (9 Dzul-hijjah), malam ‘Arafah, malam idul-adha, malam idul-fitri dan malam pertengahan di bulan Sya’ban.”[17]
إِذَا كَانَ لَيلَةَ النصفِ مِن شَعبَانَ نَادَى مُنَادٍ : هَل مِن مُستَغفِرٍ فَأَغفِرُ لَهُ? هَل مِن سَائِلٍ فَأُعطِيَهُ? فَلَا يَسأَلُ أَحَدٌ شَيئًا إِلا أُعطِيَ إِلا زَاِنيَة بِفَرجِهَا أَو مُشرِك .
“Pada malam pertengahan di bulan Sya’ban seorang pemanggil menyeru, “Adakah orang yang meminta ampun, maka aku akan mengampuninya? Adakah orang yang meminta, maka aku akan mengabulkannya? Tidak ada seorang pun yang meminta kecuali saya akan mengabulkannya kecuali pezina dan orang musyrik.”[18]
Yang diingkari dalam hadits ini adalah penyebutan lafaz pezina, karena terdapat lafaz yang shahih yang tidak diampuni pada malam tersebut adalah orang musyrik dan musyahin (orang yang memilki permusuhan dengan saudara seiman)
Hadits ke-17: Doa agar diberkahi di bulan Rajab dan Sya’ban dan disampaikan kepada bulan Ramadhan
اللهُم بَارِك لَنَا فِي رَجَب وَشَعبَانَ وَبَلغنَا رَمَضَانَ .
“Ya Allah! Berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikan kami kepada bulan Ramadhan.”[19]
Yang diingkari pada hadits ini adalah penisbatannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.