Perbanyak Mengingat Kematian

datariau.com
1.490 view
Perbanyak Mengingat Kematian
Ilustrasi (Foto: Internet)

DATARIAU.COM - Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَكثِرُوا ذِكرَ هَاذِمِ اللذاتِ يَعنِي المَوتَ

“Banyak-banyaklah mengingat pemutus kenikmatan yaitu kematian.” (HR. Tirmidzi no. 2307, Ibnu Majah no. 4258, dan lain-lain)

Faedah hadis


Dalam hadis ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan kita untuk memperbanyak mengingat dan merenungkan akhir kehidupan kita di dunia ini, yaitu kematian. Artinya, janganlah kita lalai dan melupakan kematian, atau bahkan merasa (tanpa sadar) bahwa kita akan hidup seterusnya di dunia ini.

Jika seseorang senantiasa mengingat kematian, dia akan mempersiapkan diri dengan baik dan juga segera bertobat kepada Allah Ta’ala atas segala dosa dan kesalahannya. Selain itu, dia juga akan bersegera melakukan berbagai macam amal saleh. Sebaliknya, jika seseorang lalai dari mengingat kematian dan bahkan melupakannya, dia akan meninggalkan amal saleh sama sekali, atau hanya sedikit beramal saleh, atau malas beramal, atau melalaikan kewajibannya sebagai hamba Allah Ta’ala.

Baca juga: Makna Hadits Tentang Kisah Pelacur Masuk Surga Usai Memberi Minum Anjing


Oleh karena itu, memperbanyak mengingat kematian itu memiliki manfaat yang besar bagi seorang hamba, yaitu:

Pertama, kematian adalah nasihat. Bahkan, kematian adalah sebuah nasihat yang paling agung.

Kedua, dia akan mempersiapkan diri sebaik-baiknya. Dia akan mempersiapkan diri dalam setiap waktu dan kesempatan, karena dia tidak mengetahui kapan kematian itu datang menjemputnya.

Kematian adalah penghancur kenikmatan

Kematian adalah penghancur kenikmatan. Betapa banyak orang yang mendapatkan kelapangan dalam nikmat duniawi, entah berupa harta dan kedudukan, namun dia dalam kondisi lalai dengan kematian, kemudian kematian itu pun datang menjemputnya, sehingga terputus dan hancurlah semua kenikmatan duniawi yang dia dapatkan tersebut.

Dengan mengingat kematian, seseorang akan merasa qana’ah dengan terbatasnya rezeki yang dia dapatkan, dia juga tidak tamak dengan nikmat duniawi. Seseorang hidup di dunia ini bagaikan orang yang berada dalam safar (perjalanan), dia cukupkan untuk hidupnya apa yang dibutuhkan untuk kehidupannya. Apapun yang lebih dari itu, maka dia tidak akan menikmatinya, bukan untuknya. Dia tidak akan membawa apapun ketika selesai dari kehidupan di dunia ini, kecuali hanya sebatas membawa kain kafan saja.

Baca juga: Menyedihkan Nasib Orang Mengikuti Gemerlap Dunia yang Tidak Ada Habisnya


Dengan mengingat kematian, dia akan merasa cukup dengan sedikitnya harta yang dia peroleh, dan dia akan menjauhi berlebihan dalam masalah harta ketika hal itu bisa melalaikannya. Meskipun jiwa kita pada dasarnya mencintai harta, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَإِنهُ لِحُب الخَيرِ لَشَدِيدٌ

“Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.” (QS. Al-‘Adiyat: 8)

Allah Ta’ala juga berfirman,

وَتُحِبونَ المَالَ حُباً جَماً

“Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al-Fajr: 20)

Oleh karena itu, kematian adalah nasihat paling agung bagi seorang hamba. Karena dia bisa menyadari bahwa semua harta dan nikmat duniawi lainnya itu akan dihisab di sisi Allah Ta’ala.

Disarikan dari kitab Tashiilul Ilmaam bi Fiqhi Al-Ahaadits min Buluughil Maraam (3: 11-12).
Penerjemah: M. Saifudin Hakim
Artikel: www.muslim.or.id

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)