RENGAT, datariau.com - Belakangan santer informasi tentang adanya aksi prostitusi di salah satu warung kopi di lahan Bandara Japura Rengat. Tim redaksi mencoba memastikannya.
Ketika seorang wartawan berpura-pura ingin menjadi pelanggan di warung kopi yang ada di lahan milik Bandara Japura, tepatnya di sisi timur bandara, terjadilah perbincangan dengan seorang wanita berpakaian minim (seksi) di warung tersebut.
Wartawan menyamar sebagai calon pelanggan berkenalan dengan seorang wanita inisial Y. Beberapa saat perbincangan, sang wanita pun mulai buka-bukaan.
"Kalau mau karokean ruangannya ada di atas," tawarnya sambil juga menawarkan harga minuman beralkohol mulai Rp40 ribu hingga Rp100 ribu perpaket.
Semakin yakin jika tempat ini memang menyediakan wanita penghibur dan prostitusi, wartawan pun berpura-pura menanyakan biaya jika ingin mengunakan (kencan) dengan wanita di sana.
"Di sini ceweknya tidak bisa dibawa keluar, kalau mau diboking disini saja, semalamnya Rp500 ribu, kalau hanya sort time Rp300 ribu," ujarnya.
"Emangnya abang ini orang mana sih, kok tanyanya banyak kali, apa bukan orang sini ya bang, apa baru kali ini ya kemari bang?" tanyanya dengan genit.
Ditanya apakah tempat itu aman dan tidak dirazia petugas, wanita yang mulai centil ini mengatakan bahwa berdasarkan pengalamannya selama ini, jarang ada razia.
"Kalau adapun kami dikasih tahu dulu, pokoknya aman deh bang. Yok ke atas, kalau di bawah ini kusus untuk warung nasi dan ngopi aja, kalau mau karokean di atas aja," ajaknya. Wartawan pun berlalu dengan alasan ada panggilan dari bos di kantor dan menjanjikannya malam akan kembali lagi ke warung itu.
Dengan investigasi ini, maka jelaslah bahwa warung itu memang menyediakan tempat prostitusi.
Dengan lokasi yang cukup strategis, tempat ini dari pantauan beberapa hari tim investigasi datariau.com, tidak pernah sepi. Lokasinya di Jalan Lintas Timur Desa Japura, dari kantor Bandara Japura Rengat hanya berjarak sekitar 1 kilometer. Bila ditempuh menggunakan kendarahan hanya makan waktu lebih kurang 20 menit.
Masyarakat setempat yang resah selama ini, meminta agar instansi terkait segera bertindak, karena warung yang menyediakan tempat maksiat tidak boleh ampun harus diberantas.
"Kita minta Camat Lirik dan juga pihak bandara untuk secepatnya tutup atau gusur warung yang berdiri di tanah bandara yang menyediakan tempat prostitusi itu," ujar warga Kecamatan Lirik Kabupaten Inhu, Waldi.
Amad Rinaldi, putra asli daerah Desa Japura mengatakan, dirinya sebagai orang yang sudah tua di daerah itu sangat menyesalkan pihak bandara yang telah menyediakan lahan untuk tempat protitusi.
"Seharusnya mereka membantu pemerintah membasmi protitusi, ini malah sebaliknya mereka mendukung perkembangan protitusi," ujar Amad.
Warga setempat berharap pihak bandara segera menggusur tempat protitusi yang berdiri di lahan tersebut. "Malu rasanya kita sebagai warga Japura desanya dijadikan lahan maksiat, dan begitu juga dengan kadesnya kita juga berharap jangan tutup mata saja," pinta Amad Rinaldi.
Terpisah, Kepala Tata Usaha Bandara Japura Rengat Mumuh saat dikonfirmasi melalui selulernya mengatakan, bahwa belum lama ini pihaknya sudah memanggil orang-orang yang menyewa lahan di bandara termasuk warung yang dimaksud tersebut. Namun sampai saat ini penyewa lahan yang mendirikan warung belum memenuhi panggilan tersebut.
"Mengenai penggusuran, kita tidak bisa secepat itu melakukannya, tentu kita harus sampaikan dulu kepada penyewa, karena saat mereka datang ke bandara waktu itu bilang untuk warung atau bengkel. Dan mereka juga berjanji tidak menyalahgunakan tempat tersebut. Bila mereka menyalagunakan tempat bisa kita gusur, tapi kan tidak semudah itu, merekakan juga cari nafkah," papar Mumuh.
Camat Lirik, Sarman saat dikonfirmasi mengenai hal ini belum bisa dimintai keterangan, karena camat sedang menjalankan Ibadah Haji. Sementara Sekretaris Camat susah dan belum berhasil ditemui. (her)