Video Anak SD Bergelantungan Menyeberang Sungai Didramatisir, Bupati Kampar Ungkap Kejadian Sebenarnya

Datariau.com
1.697 view
Video Anak SD Bergelantungan Menyeberang Sungai Didramatisir, Bupati Kampar Ungkap Kejadian Sebenarnya

KAMPAR KIRI, datariau.com - Sempat viral di media sosial video tiga orang bocah yang merupakan siswa Sekolah Dasar (SD) nomor 011 Desa Kuntu Darusalalam, menyeberang sungai dengan cara bergelantungan di keranjang sawit, mengetahui hal itu Bupati Kampar H Catur Sugeng Susanto SH langsung mengunjungi tempat kejadian untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.

Didampingi Kadis PUR PR Afdal dan Kepala Bapeda Ir Azwan MM dan Camat Kampar Kiri Nurjanis langsung menuju lokasi tersebut guna memastikan bagaimana sebenarnya kenyataan kejadian di Sungai Siantan Desa Kuntu Darussalam Kecamatan Kampar Kiri, Jum'at (11/6/2021).



Sesampai di lokasi, orang nomor satu di Kampar tersebut menggeleng kepala sambil mengatakan, "Sudah saya duga pasti tidak seperti yang diberitakan di media sosial yang mengatakan hal ini kelalaian pemerintah daerah Kampar, serta juga bukan kemirisan yang dirasakan masyarakat Kuntu Darusalam".

Dalam kenyataannya, Dt Rajo Batuah yang melihat dan mengetahui langsung, bahwa video berdurasi 29 detik tiga bocah yang viral atas nama Dermi Zibua (11) kelas III, Marpin (8) kelas I dan Jerini Sarona Zibua kelas I dengan orang tua Eli Yudi Baruhu tersebut merupakan anak para pekerja kebun sawit, bukan masyarakat tempatan yang tidak jauh dari lokasi penyeberangan.



Dimana jumlah anak-anak sekolah yang melewati penyeberangan itu juga tidak banyak. Pekerja yang tidak menetap asal Nias tersebut berada di tepi sungai, untuk diketahui bahwa keranjang yang digunakan untuk menyeberang yang dipakai oleh tiga bocah tersebut merupakan keranjang untuk mengangkut buah sawit ke seberang sungai.

"Data yang saya tahu saat ini, ada sekitar 20 orang yang tinggal di Kamp. Sementara anak-anak yang sekolah ada sekitar tujuh anak, lima SD dan 2 diantaranya pelajar SMP," kata Kades Kuntu memberi laporan ke Bupati.



Tokoh masyarakat sekaligus Ninik Mamak atau pemangku adat Herizal bahwa sungai tersebut merupakan sungai kecil dan tidak dalam. Bahkan saat kemarau seperti saat ini, sepeda motor dan pejalan kaki bisa melewati sungai tersebut di banyak titik.

"Kalau musim hujan dan air dalam, mereka tidak lewat sana, biasanya orang tua mereka yang antar ke sekolah, nampak ada batu-batu di dasar sungai, sepeda motorpun dapat lewat sungai itu," terangnya.



"Penyeberangan buah sawit yang digunakan bocah itu bukan akses satu-satunya, tapi ada akses jalan dan jembatan agak memutar lebih kurang 10 kilometer dari kejadian bagi anak-anak yang tinggal di perkebunan sawit untuk pergi sekolah," lanjutnya.

Penulis
: Mirdas Aditya
Editor
: Riki
Sumber
: Datariau.com
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)