PEKANBARU, datariau.com - Pengusaha di Kota Pekanbaru saat ini tengah diresahkan adanya oknum dari media yang mengaku ingin liputan usaha untuk dimuat di majalah, ternyata hanya modus untuk meraup keuntungan.
Beberapa orang mulai berani buka suara karena merasa kesal adanya oknum dari media yang meresahkan. Modus mereka, menghubungi para pengusaha, seperti UMKM melalui media sosial Instagram, selanjutnya menyampaikan maksud ingin melakukan liputan untuk dimuat di majalah.
Seperti disampaikan salah seorang pengusaha UMKM di Panam yang berjualan cemilan dan minuman herbal. Dia mengisahkan bahwa pada 15 Desember 2024 dia mendapat Direct Message (DM) melalui akun Instagram usahanya @cubelurasa.id, berlanjut ke pesan WhatsApp.
"Karena aku lagi pulang kampung jadi dia tunggu sampai aku ke Pekanbaru lagi. Jadinya kita itu ketemu di 21 Desember 2024," terang pengusaha dengan akun Instagram @llfra, saat dikonfirmasi datariau.com, Selasa (20/5/2025).
Kronologis ini juga sudah dia terangkan melalui Instagram Story-nya. Pihak media tersebut kemudian sepakat bertemu di Kedai Kopi Starbucks Panam, hanya wawancara tiga menit proses pun selesai dan media tersebut meminta bayaran dengan pilihan Rp 1,5 juta untuk posisi berita di isi dalam majalah, atau Rp 5 juta posisi di sampul majalah.
"Karena dari awal aku sudah ngerasa ini aneh, ini kan katanya media besar, kok mau interview usaha aku yang masih kecil, hanya tiga menit interview habis itu sudah, terus minta payment, di sini lah aku tak mau membayar, dan Alhamdulillah aku tidak menjadi korban. Plis jangan sering ngerasa segan, kita boleh kok gak segan untuk beberapa hal," terangnya.
Demikian pula pengusaha lainnya mengaku juga pernah kena oknum media ini dengan modus yang sama. Pengusaha sablon di Pekanbaru Ari dengan akun Instagram @jago.sablonpku dan @cakap.pku, menjadi korban bahkan sudah sampai membayar.
"Kami kira gratis, kami sudah siapkan lah merchandise untuk media ini kan, biasanya gitu, kalau ada media ingin liputan kami berikanlah semacam oleh-oleh, hitung-hitung kan sudah promosikan usaha kita, eh rupanya bayar, aku bilang sama tim ndak usah kasih," ujar Ari yang mengaku bahwa hasil liputan itu sempat dimuat dalam postingan Instagram media tersebut yang tidak seberapa view-nya, padahal janjinya dimuat di majalah ternyata zonk.
Bahkan awalnya Ari mengira tim media akan mengunjungi work shop Jago Sablon, karena biasanya selama ini baik itu media maupun pihak dinas, selalu datang mengunjungi lokasi work shop melihat proses langsung sablon yang kini menjadi kaos oleh-oleh khas Kota Pekanbaru tersebut.
"Iya kami kira akan dikunjungi work shop kita, sudah beres-beres lah ya kan, rupanya diajak ketemuan di Starbuks, ya sudah lah, kita sering juga diliput media, makanya excited kali, ditanya-tanya lah sebentar saja sudah langsung disodorkan nominal pilihan harga yang bisa kami bayar untuk berita itu tayang nantinya," terang Ari lagi penuh kekesalan.
Ari juga telah membagikan pengalamannya ini di akun Instagram miliknya @alazharirefni. Setelah dia membayar nominal tersebut dalam kondisi terpaksa karena sudah terlanjur ketemu, ngobrol dan diliput, pihak media pun menjanjikan hasil liputan itu akan terbit di majalah yang beredar di bandara dan kantor pemerintahan, namun sekian lama menunggu, majalah yang dijanjikan tak juga tiba, ternyata yang ada orang-orang pada speak-up menjadi korban oknum tersebut.
"Semoga saja tidak ada lagi UMKM yang menjadi korban oknum ini, karena kami lihat di Instagram media tersebut memang banyak dia posting pengusaha-pengusaha besar, dan dilihat dari teman-teman pengusaha lainnya ternyata juga banyak yang kena," pungkas Ari sambil melihatkan screenshot percakapan seorang dokter klinik yang juga kena tipu media tersebut.
Kepada pengusaha diminta agar lebih waspada, jika ada media menghubungi ingin melakukan liputan terhadap usaha yang dijalankan, maka segera tanyakan apakah untuk kebutuhan rubrik media atau dalam bentuk advertorial.
Jika liputan itu untuk memenuhi proyeksi media mengisi rubrik, maka liputan tersebut seharusnya gratis, karena untuk kepentingan media tersebut, pihak pengusaha tidak perlu membayarnya, sifatnya simbiosis mutualisme, saling menguntungkan, pihak media mendapatkan konten, sementara pihak pengusaha mendapat publikasi gratis, biasanya konsep seperti ini disesuaikan dengan kebutuhan media.
Sementara liputan advertorial, adalah liputan berbayar dengan nominal yang disepakati. Biasanya pihak media mengirimkan rate card, yaitu daftar harga dan layanan yang akan diberikan pihak media kepada pengusaha. Jika sudah deal, maka dilakukan liputan, disesuaikan dengan gaya konten media dan keinginan pihak usaha demi tercapainya publikasi dan promosi yang maksimal.
Jika di luar tersebut di atas, seperti kasus yang telah menimpa beberapa pengusaha, pihak media menghubungi ingin melakukan liputan, kemudian tanpa ada pembicaraan jenis liputan apa yang akan dilakukan dari awal, maka kondisi ini rawan terjadi penipuan. Pihak oknum media dengan tim akan mendatangi pengusaha lengkap dengan kamera, biasanya mereka tidak akan mengundang ke kantor media, juga tidak ingin melakukan liputan di tempat pengusaha, mereka lebih nyaman di tempat umum agar jejaknya nanti tidak mudah ditemui.
Setelah selesai diliput dan ditanya-tanya, pihak oknum media akan meminta bayaran di depan untuk liputan tersebut. Jika kita berada di posisi pengusaha, akan terkejut plus takut, karena posisi berhadapan dengan media, jika tidak dibayar bisa berbalik beritanya dan bisa saja dicari-cari kesalahan pengusaha, kemudian terpaksa membayar.
Pastikan media yang menghubungi Anda jelas keberadaannya, jelas alamat kantor, legalitas, dan memenuhi syarat sebagai perusahaan pers, bukan media abal-abal. Hal ini bisa ditelusuri dari seluruh media sosialnya dan websitenya, bila perlu Anda berkunjung ke kantor media tersebut agar lebih jelas. (rrm)