NASA Sebut Jakarta Terancam Tenggelam!

Ruslan
110 view
NASA Sebut Jakarta Terancam Tenggelam!
Foto: Kumparan/NASA
Suasana proyek pembangunan di kawasan Pulau D hasil reklamasi, di kawasan pesisir Jakarta (Kumparan) dan Foto Jakarta diambil 11 September 2019. (NASA)

DATARIAU.COM - Ada banyak penelitian dan riset yang menyebutkan kota Jakarta terancam tenggelam dalam beberapa tahun ke depan. Salah satu yang menarik perhatian akhir-akhir ini adalah riset dari Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat.

NASA menyatakan wilayah Jakarta beserta pulau reklamasi masuk dalam kota pesisir yang terancam tenggelam oleh banyak faktor. Meningkatnya permukaan air laut dampak pemanasan global dan pencairan lapisan es menjadi salah satu utamanya.

Khusus untuk Jakarta, NASA mengkritik pemompaan air tanah secara luas akan menyebabkan wilayah kota akan cepat tenggelam. Menurut beberapa perkiraan, sebanyak 40 persen wilayah kota Jakarta sekarang berada di bawah permukaan laut.

"Sejak awal banjir telah menjadi masalah kota Jakarta. Di mana Jakarta terletak di sepanjang beberapa sungai dataran rendah yang meluap selama musim hujan. Dalam beberapa dekade terakhir, masalah banjir semakin memburuk, sebagian didorong oleh pemompaan air tanah secara luas," tulis Adam Voiland, seorang ilmuwan dan juga penulis sains di NASA Earth Observatory.


Foto satelit kota Jakarta diambil 11 September 2019. (Foto: NASA)

Analisis NASA, sejak tahun 1990, banjir besar telah terjadi setiap beberapa tahun di Jakarta, dengan puluhan ribu orang sering mengungsi. Musim hujan pada tahun 2007 membawa banjir yang sangat merusak, dengan lebih dari 70 persen kota terendam.

NASA juga menampilkan dua foto satelit kota Jakarta yang diambil dengan jarak waktu yang berbeda. Foto pertama diambil pada tahun 1990 dan kedua tahun 2019. Dalam foto dari NASA itu menampilkan wajah Jakarta selama satu dekade belakangan.

Dokumen foto itu menjadi bukti perubahan penggunaan lahan dan pertumbuhan penduduk telah memperburuk masalah kota Jakarta. Dengan populasi wilayah kota lebih dari dua kali lipat antara tahun 1990 dan 2020, lebih banyak orang memadati dataran banjir yang berisiko tinggi.

Selain itu, banyak saluran sungai dan kanal yang menyempit atau tersumbat secara berkala oleh sedimen dan sampah, sehingga sangat rentan terhadap luapan air.