Ketergantungan Like di Medsos Bisa Picu Depresi Remaja

Najwa
335 view
Ketergantungan Like di Medsos Bisa Picu Depresi Remaja
Foto: unsplash.com

DATARIAU.COM - Ketergantungan pada like dan validasi di media sosial dapat memicu gangguan mental serius pada remaja, mulai dari stres, FOMO (Fear of Missing Out), hingga depresi akibat tekanan sosial untuk tampil sempurna di dunia maya.

Psikolog Anak, Remaja, dan Keluarga Ayoe Sutomo menjelaskan bahwa banyak remaja saat ini mengalami tekanan sosial untuk terus mendapat pengakuan dari media sosial. "Rasanya menyenangkan saat banyak yang menyukai unggahan kita. Ini mengaktifkan sistem reward di otak yang membuat kita ingin terus mendapatkan validasi itu," kata Ayoe kepada Health Liputan6.com melalui aplikasi pesan singkat, Selasa (10/6/2025).

Media sosial memicu pelepasan dopamin, zat kimia di otak yang menimbulkan rasa senang saat pengguna menerima like, komentar, atau respons positif dari unggahannya. "Dopamin membuat otak merasa senang, dan karena itu pengguna jadi ingin terus mengulang perilaku yang menghasilkan respons positif tersebut," jelas Ayoe.

Namun ketika respons yang diterima tidak sesuai harapan, seperti jumlah like sedikit atau komentar negatif, pengguna bisa merasa kecewa, sedih, bahkan kehilangan kepercayaan diri. Jika terjadi terus-menerus, kondisi ini dapat memicu gangguan mental seperti cemas berlebihan, stres, hingga depresi.

Fenomena FOMO atau rasa takut tertinggal juga menjadi dampak negatif lain dari penggunaan media sosial. Menurut Ayoe, FOMO berakar dari teori perbandingan sosial saat remaja melihat pencapaian, gaya hidup, atau kebahagiaan orang lain di media sosial.

"Kita melihat kehidupan orang lain tampak lebih menarik, lalu muncul keinginan untuk seperti mereka. Dari sinilah FOMO itu berasal," kata Ayoe Sutomo. FOMO membuat remaja terdorong terus mengikuti tren, bahkan melakukan berbagai cara demi mendapatkan validasi yang bertentangan dengan etika dan norma sosial.

Paparan konten media sosial yang mengandung konflik, narasi negatif, atau informasi menimbulkan ketakutan juga bisa membentuk pola pikir cemas dan tidak sehat. Otak jadi terbiasa dalam kondisi waspada terus-menerus yang lama-kelamaan mengubah cara berpikir dan bersikap seseorang.

"Ketika otak terus-menerus terpapar informasi bernuansa konflik dan ketakutan, maka otak akan berlatih untuk selalu waspada. Ini bisa memicu kecemasan kronis," ungkap Ayoe. Remaja yang belum memiliki kemampuan regulasi emosi matang menjadi kelompok paling rentan karena cenderung belum bisa membedakan mana yang nyata dan manipulatif di media sosial.

Ayoe menekankan pentingnya pendampingan orang tua dan edukasi literasi digital bagi anak dan remaja. Remaja perlu dibekali pemahaman bahwa nilai diri mereka tidak ditentukan oleh jumlah like atau komentar di media sosial, serta pentingnya keluarga menciptakan ruang diskusi terbuka agar anak merasa aman berbagi perasaannya.***

Sumber: Liputan6.com

Penulis
: Najwa
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)