INHU, datariau.com - Dua kapal perang milik Belanda datang dari arah Tembilahan tiba-tiba merapat di Sungai Indragiri, Senin 5 Januari 2015 sekitar pukul 09.00 Wib. Dari dalam kapal perang bernama Gajah Merah, ratusan pasukan baret merah Belanda atau sering disebut Korp Spesialie Tropen (KST) di bawah komando Kapten Skendel keluar dan membakar Markas Kodim, Markas Polisi, stasiun radio, sentral telepon, gudang pelabuhan hingga Rumah Sakit di daerah itu.
Kedatangan dua kapal perang Gajah Merah tersebut setelah sebelumnya pesawat Belanda membombardir Kota Rengat dan menerjunkan pasukan payung. Seketika bunyi bom yang meledak di tanah bersatu dengan pekik histeris warga yang panik.
Dengan senjata otomatis dan modern, pasukan Belanda semakin ganas dan kejam. Mereka tidak bisa lagi membedakan yang mana TNI, tentara perjuangan rakyat serta masyarakat sipil yang tidak berdosa. Tentara Belanda menembaki anak-anak, ibu hamil dan orangtua.
Tidak puas sampai di situ, tentara Belanda kemudian mengumpulkan lebih 2.000 penduduk dari segala penjuru Rengat. Mereka kemudian dibariskan di pinggir Sungai Indragiri dan setelah itu terjadilah pembantaian massal. Sungai Indragiri yang kala itu tengah banjir berubah warna menjadi merah.
Bupati Indragiri Tulus yang mendapatkan laporan tentang penyerbuan tentara Belanda memilih tetap bertahan di Kota Rengat. Namun ia kemudian ditembak oleh tentara Belanda di depan istri dan anak-anaknya. Jasadnya dibuang di Sungai Indragiri bersama jasad ajudannya Tandean yang turut ditembak tentara Belanda.
Itulah sepenggal visualisasi kilas balik peristiwa 5 Januari 1949 yang ditampilkan sekitar 250 orang pemain dari berbagai latar belakang pada peringatan peristiwa bersejarah di Kota Rengat, Senin (5/1/2015) pagi tadi.
Visualisasi ini terasa lebih nyata dan menyentuh karena langsung menggunakan peralatan perang seperti senjata milik TNI, tagboad yang sudah didesain menyerupai kapal Belanda serta dentuman bunyi bom dan meriam yang memekakkan telinga.
Bahkan saking terharu dan sedihnya menyaksikan visualisasi peristiwa 5 Januari 1949 tersebut, Bupati Inhu H Yopi Arianto, Danrem 031 Wirabima Brigjend TNI Prihadi Agus Irianto serta pelaku sejarah Imron Suherman serta saksi sejarah Dwi Yana yang merupakan cucu dari Bupati Tulus meneteskan airmata.
Bupati H Yopi Arianto beberapa kali terlihat menghapus airmatanya dengan menggunakan tisu. Hal itu juga dilakukan Danrem 031 Wirabima Brigjend TNI Prihadi Agus Irianto hingga matanya sembab. Bahkan cucu Bupati Tulus, Dwi Yana tertunduk sembari terisak ketika melihat adegan kakeknya dibunuh dengan kejam oleh Belanda dan jasadnya dibuang ke Sungai Indragiri.
Sebelum penampilan visualisasi tersebut, terlebih dahulu dilaksanakan upacara peringatan peristiwa 5 Januari 1949 tepat di depan tugu agresi. Usai pagelaran visualisasi tersebut dilakukan tabur bunga di Sungai Indragiri oleh Bupati Inhu H Yopi Arianto, Danrem 031 Wirabima Brigjend TNI Prihadi Agus Irianto, Wakil Bupati Inhu H Harman Harmaini, Ketua DPRD Inhu Miswanto, Sekda Inhu Raja Erisman serta pelaku dan saksi sejarah.
Bupati Inhu H Yopi Arianto mengakui ia menangis ketika menyaksikan visualisasi peristiwa 5 Januari 1949 tersebut. Ia merasakan bagaimana situasi yang terjadi pada saat itu hingga ribuan masyarakat menjadi korban kekejaman Belanda.
"Ini merupakan yang pertamakalinya kita tampilkan visualisasi peristiwa 5 Januari 1949. Saya punya cita-cita, mudah-mudahan tahun depan, kita bisa tampilkan juga visualisasi terjun payung pasukan Belanda dengan menggunakan pesawat Hercules," ucapnya.
Bupati juga menyampaikan permohonan maaf jika dalam visualisasi peristiwa 5 Januari 1949 ada yang tidak sesuai dan ia berharap peristiwa bersejarah tersebut bisa menjadi pelajaran bersama untuk generasi muda mengisi pembangunan.
Danrem 031 Wirabima Brigjend TNI Prihadi Agus Irianto mengungkapkan bahwa dari visualisasi peristiwa 5 Januari 1949 tersebut tergambar begitu banyak pejuang yang gugur. Karena itu, bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai jasa para pahlawannya. "Luar biasa visualisasi yang ditampilkan, saya terharu dan sampai sekarang mata saya masih sembab," tuturnya.
Sementara itu, salah seorang pelaku sejarah peristiwa 5 Januari 1949, Imron Suherman mengungkapkan bahwa visualisasi peristiwa 5 Januari 1949 kembali membuka ingatannya. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa bagaimana rakyat dibantai dan dibunuh oleh tentara Belanda.
"Kita doakan semoga arwah para pejuang diterima di sisi Allah taala dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Saya berpesan kepada generasi muda untuk mengisi kemerdekaan dengan berbagai kegiatan positif," pesannya. (her)