PEKANBARU, datariau.com - Pasar Tari Kontemporer (Pastakom) ke-IX yang ditaja Yayasan Pusat Latihan Tari Laksemana resmi dibuka oleh Hasan Abud selaku Direktur Hubungan Antar Lembaga Dalam Negeri Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Kamis (28/11/2019) malam di Taman Gemala Dinas Kebudayaan Provinsi Riau, disaksikan Datuk Seri Al Azhar selaku Ketua Lembaga Adat Melayu Riau dan seniman tari serta ratusan masyarakat Riau.
Direktur Yayasan Latihan Tari Laksemana Laksemana, Iwan Irawan Permadi mengatakan, Pastakom yang digelar pada 28 sampai 30 November 2019 yang berpusat di Laman Gemala Dinas Kebudayaan Provinsi Riau dengan tema "Membaca Lokalitas Dalam Tubuh" merupakan kegiatan yang menggunakan ruang terbuka bagi peserta tari.
Adapun Pastakom ke-IX 2019 ini akan diisi Pagelaran dari 15 koreografer asal Aceh, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Lampung, Kepulauan Riau, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat dan Malaysia, yang akan diintip oleh seorang antropolog tari, Renee Sari Wulan.
Setelah malam penampilan, maka dilakukan Workshop Koreografi oleh Penata Tari handal, Ery Mefri dan Penari profesional, Angga Djamar serta bincang tari dan ekologi bersama koreografer, aktifis lingkungan hidup, dan budayawan, sebagai ikhtiar ikut membangun gerakan revolusiekologi dan program karangpohon.
"Selain itu, ada kunjungan akademik kritik seni oleh 80 mahasiswa ISI Padang Panjang. Untuk itu, kita mengajak masyarakat Riau maupun luar Riau untuk menyaksikan Pasar Tari Kontemporer (Pastakom) dan bagi masyarakat yang ingin mengikuti workshop dipersilahkan secara gratis," ungkap Iwan Irawan Permadi.
Direktur Hubungan Antara Lembaga Dalam Negeri Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI, Hasan Abud menambahkan, pihaknya memberikan apresisasi kepada Yayasan Pusat Latihan Tari Laksemana yang begitu kreatif setiap tahunnya sehingga proses Pasar Tari Kontemporer bisa berjalan, walaupun ada keterbatasan.
Kedepan, sambung Hasan, kegiatan ini lebih besar lagi dan mengaung lagi sehingga kegiatan ini bisa menjadi market baik dalam negeri maupun luar negeri. Disamping itu, kehadiran pemerintah daerah harus mendukung penuh serta memberikan suport bagi kantong-kantong seni yang ada didaerah.
"Pemerintah Daerah harus peka juga dengan proses kreatif seniman yang ada di daerah, sehingga proses kreatif tersebut dapat diikuti oleh generasi muda seperti tari tentang asap yang dilakukan oleh anak-anak kecil tadi," ungkap Hasan Abud.
Sementara itu, seniman tari asli padang Ery Mefri menambahkan, Pastakom yang dilaksanakan oleh sebuah kelompok seni Yayasan Tari Laksemana setiap tahunnya, seharusnya pemerintah memberikan dukungan.
"Sebab dengan Pastakom ini lahirlah potensi kesenian yang membuat kita kaya dengan nilai-nilai kesenian," ungkap Ery Mefri.
"Indonesia ini kaya dengan kesenian, tetapi kadang pemerintah lupa melihat itu. Namun saya menilai, bahwa potensi kesenian yang memiliki anak bangsa ini bisa menjadi nilai jual dan prosesnya tersebut harus ada komunikasi untuk membangun sebuah kesenian tersebut," ungkap Ery Mefri.
Dalam pergelaran Pastakom tersebut, tampil beberapa koreografer terbaik seperti, koreografer Sri Duniwati asal PLT Laksemana dari Riau, Koreografer asal Aceh dan Padang. (yus)