Menyedihkan, Nenek di Kuansing Ini Tinggal di Gubuk Reot Seorang Diri

datariau.com
1.879 view
Menyedihkan, Nenek di Kuansing Ini Tinggal di Gubuk Reot Seorang Diri
Foto: Riauterkini.com
TELUKKUANTAN, datariau.com - Menjalani hidup susah dan tinggal sebatang kara di gubuk reot, sudah menjadi hal biasa dijalani nenek Umi (80) asal desa Pulau Kumpai Kecamatan Pangean.

Di hari tua yang seharusnya ia nikmati dengan menjalani hidup tenang dengan memperbanyak ibadah kepada Sang Pencipta, ternyata tidaklah demikan. Keinginan itu semua mesti ia buang jauh-jauh. Karena dirinya juga terpaksa berjuang untuk bisa tetap bertahan hidup selain beribadah.

Kondisi ini telah ia jalani sejak puluhan tahun lalu, dan ia tetap tabah dengan keadaan yang menimpa dirinya, tanpa mengeluh sedikitpun. Dan dia pun tidak mau meminta-minta mengharapkan belas kasihan orang lain.

Dia bertahan hidup atas jerih paya dirinya sendiri dengan cara bersawah di ladang, untuk menghidupi keseharian hidupya. Meski ia tidak cukup kuat secara tenaga, mau tak mau ia harus tetap banting tulang turun ke sawah demi menguatkan darah yang mengalir di raganya menyemai bulir-bulir padi.

Cerita nenek Umi ini, tidak hanya tentang kebutuhan hidupnya, yang lebih mirisnya lagi, gubuk yang ia tempati berukuran 2x3 meter kondisinya sangat tidak memungkinkan dan begitu reot, karena dimakan usia.

Dari cerita tokoh muda Pangean, Dolva Suhendra dan Aswanto, ketika mereka berkunjung ke sana, mengantarkan sembako, Ahad sore kemarin, gubuknya ini tidak bisa dimasuki pada posisi berdiri oleh nenek Umi, karena ukurannya yang kecil dan mentok.

"Ya, sangat kasihan kita melihat kondisinya, tinggal sebatang kara. Terutama tempat tinggalnya, yang tidak layak untuk ditempati. Kita berharap adanya perhatian pemerintah untuk mebuatkannya rumah layak huni," ujar dua pemuda Pangean ini, Senin (21/1/2019).

Dari keterangan kedua tokoh muda Pangean ini, rumah nenek Umi ini, hanya terbuat dari kayu sisa pembuangan shawmill, dirakit dengan rotan dan pelepah daun pisang. Kemudian sebagiannya ada juga yang terbuat dari serpihan pohon bambu. Lebihnya sedihnya lagi, kata dua pemuda peduli sosial ini, ternyata rumah yang ditinggali nenek Umi ini, dirangkainya dengan tangan sendiri. Begitu juga lumbung tempat padi hasil pertaniannya.

"Dari keterangan nenek Umi ini, keluarganya sebenarnya masih ada. Namun, ia berada jauh dan perekonomian hidupnya juga tak terlalu baik. Sebagai bentuk kepedulian kita antar sesama, semalam kita mengantar sembako ke kediamannya," kata dua pemuda Pangean ini. (*)
Editor
: Redaksi
Sumber
: Riauterkini.com
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)