BANGKOK, datariau.com - Sebanyak 19 orang ditemukan tewas dan lebih dari 3.000 orang perlu segera diselamatkan setelah bendungan jebol di wilayah terpencil Laos.
Gubernur Bounhom Phommasane menyatakan sebanyak 19 orang ditemukan meninggal dunia dan lebih dari 3.000 orang perlu diselamatkan serta sekitar 2.851 orang telah diselamatkan.
Sebelumnya, pejabat lokal Laos menyatakan puluhan orang diperkirakan tewas setelah bendungan pembangkit listrik yang sedang dibangun itu jebol pada Senin (23/7).
"Kami akan melanjutkan upaya penyelamatan hari ini tapi ini sangat sulit, kondisinya sangat sulit. Puluhan orang tewas. Jumlahnya bisa lebih banyak," kata pejabat di Vientiane itu pada Reuters.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan jumlah korban tewas lima orang dan 34 orang hilang, 1.494 orang diungsikan dan 11.777 orang di 357 desa terkena dampak jebolnya bendungan. "Sebanyak 20 rumah hancur dan lebih dari 223 rumah dan 14 jembatan rusak akibat banjir," papar laporan PBB.
Ratusan orang dilaporkan hilang setelah air menghanyutkan banyak desa. Tim penyelamat melanjutkan pencarian korban selamat dari musibah itu.
Media lokal menunjukkan gambar-gambar warga desa dan anak-anak terjebak di atap rumah mereka yang tergelam banjir. Gambar lain menunjukkan warga desa berupaya naik ke perahu kayu untuk menyelamatkan diri di provinsi Attapeu, wilayah paling selatan Laos.
Sedikitnya tujuh desa tenggelam akibat bencana itu. Gambar media lokal menunjukkan rumah satu lantai tergenang air berlumpur. Lokasi desa-desa yang terpencil itu pun menyulitkan proses pemulihan.
Laos merupakan salah satu dari sedikit negara komunis di dunia dan salah satu negara termiskin di Asia. Negara itu berambisi membangun bendungan untuk menjadi baterai Asia.
Pemerintah Laos tergantung hampir seluruhnya pada para pengembang luar untuk membangun berbagia bendungan itu dengan konsesi komersial untuk ekspor listrik ke negara-negara tetangga termasuk Thailand.
Berbagai kelompok lingkungan berulang kali memperingatkan tentang dampak lingkungan dan manusia akibat pembangunan bendungan yang cepat tersebut, termasuk merusak ekosistem sungai-sungai di kawasan itu.
Tahun lalu, bendungan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Nam Ao 15 megawaat jebol di provinsi Xieng Khuong, Laos, mengakibatkan banjir yang merusak properti dan memaksa warga mengungsi.