Murid SDN 017973 Juara 1 Lomba Biografi

Datariau.com
632 view
Murid SDN 017973 Juara 1 Lomba Biografi
Foto Fran Manurung

ASAHAN, datariau.com - Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Asahan, beberapa waktu lalu, menyelenggarakan berbagai lomba dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Asahan  ke-73 tahun yang diperuntukkan bagi siswa/i, mulai dari tingkat PAUD sampai SMA/sederajat, di Jalan Cokroaminoto Kisaran.


Dalam perlombaan tersebut, ada cerita yang membuat sebagian orang terperangah. Adalah Meisya Kirana Ayu, siswi kelas 5 Sekolah Dasar Negeri (SDN) 017973 Kisaran Kota yang berhasil menyabet juara 1 dan menyingkirkan 25 peserta utusan lainnya dalam lomba bercerita biografi Pahlawan Nasional tingkat Kabupaten Asahan.


"Alhamdulillah, anak didik kami berhasil mendapat juara 1 lomba biografi Pahlawan Nasional tingkat Kabupaten Asahan," ujar Kepala SDN 017973, Zulkifli Sitorus S.Pd, pada Senin (1/4/2019) sekira pukul 10.00 wib.


Selain itu, lanjut Zulkifli, pencapaian tersebut merupakan hasil kerja keras seluruh dewan guru dan warga sekolah dalam memberi dukungan baik moril dan materil kepada Meisya Kirana Ayu selaku utusan sekolah.


"Ini semua dapat terwujud berkat kerja sama dan dukungan dari seluruh warga sekolah dan dewan guru," sebutnya.


Sementara itu, Masita, guru SDN 017973 yang menjadi guru khusus pendamping Meisya Kirana Ayu, menyebutkan, bahwa siswinya tergolong anak yang aktif dan pintar.


"Meisya ini adalah sosok anak yang aktif dan pintar, terbukti sejak kelas satu Meisya selalu mendapat juara satu sampai dengan sekarang," jelas Masita.


Lebih lanjut, Masita menambahkan, meski Meisya termasuk kategori siswi yang pintar, namun saat melatih untuk tampil dan menguasai panggung, Masita awalnya mengalami kesulitan.


"Dengan bekal yang cukup matang dan kesabaran dalam mendidik akhirnya pencapaian itupun berbuah maksimal," tambahnya.


Ketika awak media ini menemuinya, Meisya menyebutkan, bahwa ia menampilkan tentang biografi perjuangan Soekarno dalam merebut kemerdekaan RI, pada tahun 1945, namun pada saat itu Soekarno tidak bersedia mengumumkan kemerdekaan, dikarenakan bulan suci ramadhan jatuh tepat pada tanggal 17 Agustus 1945.


Disinggung tentang pengalaman saat tampil diatas panggung, ia mengatakan cukup merasa gerogi karena harus dihadapkan dengan penonton dan dewan juri, namun ia berusaha untuk tetap tampil terbaik dengan kepercayaan diri yang kuat.


"Berceritanya juga sambil dipraktekan, waktu adegan Soekarno dikeroki karena masuk angin ada suara keluar angin, disitu semuanya pada ketawa, Meisya mau ketawa tapi ditahanlah om," terang Meisya sumringah.


Dimata keluarga, putri pasangan Julianto dan OK Aditya Wulandari Prihatin ini merasa bersyukur karena telah membuat bangga keluarga dan lingkungan sekitarnya.


"Ia mempunyai cita-cita ingin menjadi dokter, dan kami akan dukung selagi kami mampu, dan yang terpenting kami selalu berpesan agar anak kami ini jangan cepat berpuas diri," tutup sang ayah, Julianto.(ran)

Penulis
: Fran Manurung
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)