Kisah Anak Desa Saat Libur Kuliah

datariau.com
1.676 view
Kisah Anak Desa Saat Libur Kuliah
DATARIAU.COM - Libur semester, merupakan salah satu momen yang pastinya sangat ditunggu-tunggu oleh para pelajar yang ada dimanapun, karena liburan merupakan salah satu momen untuk menenangkan pikiran setelah sekian lama terkuras untuk berpikir karena setiap hari harus bergelut dengan pelajaran.

Saya pun termasuk salah seorang yang sangat menunggu-nunggu yang namanya liburan, karena memang capek, suntuk, bosan, kalau setiap hari yang dipikirkan itu cuma pelajaran, kuliah, duduk di kelas, pulang, apalagi terkadang bertemu dengan dosen yang sangat membosankan.

Akhir November 2018 kemaren, kami sudah mulai libur kuliah, walaupun masih banyak mahasiswa fakultas lain yang masih belum libur karena masih banyak yang belum selesai ujian, bahkan masih banyak yang masih ada jadwal untuk kuliah karena masih banyak mata kuliah yang belum selesai pertemuannya.

Ketika ujian akhir semester di hari terakhir selesai dilaksanakan, muncullah perasaan senang, bahagia, mungkin dapat dikatakan seperti orang yang baru bebas dari penjara, meskipun selama di bangku kuliah saya merasakan bukan seperti orang yang sedang terpenjara, namun ketika dapat waktu luang untuk istirahat panjang dari rutinitas belajar, maka muncullah perasaan yang sangat gembira di dalam diri, seperti mendapat kebebasan yang hakiki.

Tentunya dengan datangnya liburan ini, waktunya haruslah dimanfaatkan sebaik mungkin. Saya sih tidak seperti kebanyakan orang, yang ketika mereka mendapatkan waktu libur mereka malah menghabiskan waktu mereka dengan jalan-jalan, sampai di rumah malah kecapean. Saya lebih memilih menghabiskan waktu liburan saya di kampung halaman saja, berkumpul dengan keluarga, juga membantu ibu bapak kadang ke sawah, kumpul dengan teman-teman setiap malamnya di pondok kecil di depan rumah, yang mungkin suasana itulah yang mungkin sangat kita rindukan, karena keadaan itu sudah lama hilang dimakan waktu.

Teringat ketika masa saya dimana masih SD dulu, setiap pagi mandi bersama di sungai, berenang bersama kawan-kawan, setelah itu pulang dan bersiap-siap untuk pergi ke sekolah, setelah memasang pakaian putih merah, sarapan sebelum kesekolah, lalu jalan kaki bersama-sama dengan teman pergi ke sekolah.

Sepulang sekolah sama-sama lagi jalan kaki melewati jalan yang mungkin cukup menantang, namun itulah keceriaan di waktu kecil yang pastinya sangat kita rindukan sebagai seorang yang pernah merasakan masa kecil di kampung halaman. Momen itulah yang sudah lama hilang semenjak masing-masing diantara kita mulai beranjak dewasa dan fokus menata kehidupan kedepannya di bangku sekolah, karena mungkin tempat sekolah yang berbeda-beda yang membuat pertemuan diantara kami atau mungkin kita semua yang pernah atau mungkin sedang merasakan seperti apa yang saya rasakan saat ini.

Itulah mengapa saya lebih memilih liburan tidak kemana-mana dan lebih memilih untuk di rumah saja, menciptakan kembali momen-momen yang pernah dirasakan 10 tahun terakhir bersma para sahabat-sahabat kecil yang pernah merasakan keceriaan diwaktu mungkin ingus masih menempel di pipi karena tidak memikirkan apa-apa yang penting hidup kita bahagia.

Hal lain yang membuat saya lebih memilih di rumah dalam menghabiskan waktu liburan kuliah saya adalah karena ingin membantu orangtua saya, orangtua yang dari dulu waktu kita kecil sampai dewasa selalu bekerja keras membanting tulang untuk supaya kita bisa untuk bersekolah, dan ketika ada waktu luang, saya ingin juga menghabiskan waktu bersama mereka dan membantu mereka di hari tuanya.

Seminggu dua minggu libur kuliah saya masih merasa happy-happy saja di rumah, namun setelah sebulan, mulai muncul rasa bosan, karena memang ketika kita sudah terbiasa belajar di kelas, dan setelah itu kita liburan, maka akan muncul rasa kangen untuk kembali belajar dalam suasana kelas, selain untuk belajar, juga untuk bercengkrama dengan kawan-kawan yang membuat rasa kangen itu muncul.

Yang lebih membuat jengkel lagi, ternyata kami libur sampai dua bulan lebih, yang awalnya enak dengan suasana kampung, kumpul dengan kawan-kawan dan keluarga, lama kelamaan mulai muncul rasa gelisah, ingin kembali ke kampus untuk melanjutkan perkuliahan, karena memang kawan-kawan saya yang lain mereka sudah pergi ke kampus mereka masing-masing, karena mereka sudah mulai masuk kuliah, namun saya, masih terperangkap di dalam suasana jenuh yang tidak tahu harus berbuat apa.

Akhirnya saya coba untuk pergi menghabiskan waktu liburan saya ke kampung halaman ayah saya, yaitu di Desa Buluh Cina kecamatan Siak Hulu kabupaten Kampar, yang mana desa ini juga disebut dengan desa wisata, saya menginap di rumah kakak ayah saya disana, setiap harinya saya habiskan waktu liburan saya dengan sepupu saya untuk mencari ikan ke sungai, terkadang juga setiap malamnya saya pergi mencari burung.

Dua minggu saya di kampung ayah saya akhirnya saya pulang ke kampung halaman, karena beberapa hari lagi akan kembali ke bangku perkuliahan. Liburan yang tidaklah mewah, hanya diawali dengan menghabiskan waktu di rumah bersama sahabat-sahabat kecil seperjuangan, menghabiskan waktu bersama orangtua, dan menghabiskan sisa hari-hari liburan di kampung halaman ayah saya.

Karena intinya kebahagiaan itu kita yang menciptakannya, tak mesti dengan menghabiskan uang untuk jalan-jalan bahkan keluar negeri, tapi cukup dengan hal-hal sederhana yang bisa membuat kita tertawa dan bahagia dalam memanfaatkan waktu luang yang mungkin kedepannya akan sangat jarang untuk ditemukan.

Itulah mungkin sedikit pengalaman saya selaku anak desa ketika dijumpai oleh masa liburan kuliah, inti dari liburan itu adalah bahagia, karena kalau kita bahagia, jiwa tenang, pikiran kembali menjadi tenang, hingga ketika kembali pada rutinitas yang harus dihadapi, tidak lagi terasa berat untuk melakukannya. (eko)
Penulis
: Eko Wahyu Naldi
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)