DATARIAU.COM - Rumah memang tempat sebaik-baiknya kembali, begitu yang banyak dikatakan oleh orang-orang. Terutama bagi mereka yang merantau dari kampung halaman, untuk bekerja atau pun sedang melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Begitu juga dengan saya, yang memilih merantau untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, serta sebagai bakti oleh anak kepada orangtuanya.
Jarak kampung halaman saya dengan tempat saya merantau, secara matematis tidak terlihat jauh. Hanya berjarak sekitar 120 KM, memakan waktu sekitar 2,5-3 jam perjalanan melalui transportasi darat. Dibandingkan dengan beberapa teman yang jarak kampung halaman bahakan bisa mencapai ribuan KM, untuk mereka yang merantau ke seberang pulau.
Pekanbaru tempat saya mengenyam pendidikan saat ini, dan kota Duri adalah tempat kelahiran saya dan dibesarkan. Kota yang dijuluki sebagai Kota Minyak, karena memang Sumber Daya Alam minyak buminya yang kaya. Hanya sebuah kecamatan secara administrasi, tetapi melihat bagaimana padatnya penduduk, luas wilayahnya, pembangunan dan sebagainya sudah pantas kota saya ini untuk menjadi sebuah Kota Madya atau bahkan Kabupaten.
Sedikit saya bercerita tentang kota kelahiran, salah satu isu atau saya menyebutnya sebagai cita-cita warga kota Duri, adalah ingin memekarkan diri menjadi sebuah kabupaten. Bahkan dari cerita orangtua saya, dari zaman Orba cita-cita ini sudah ada. Kenapa demikian, karena warga Duri sedikit merasa ada kejanggalan. Bagaimana mungkin mereka sebagai warga kota dengan kekayaan Sumber Daya Alam minyak bumi hampir tidak merasakan kenikmatannya.
Itu sedikit gambaran dari kota kelahiran saya, tidak ada parawisata alam yang menarik banyak wisatawan. Sehingga mungkin tidak akan pernah bagi orang-orang luar untuk memasukkan kota Duri sebagai list liburan mereka. Tetapi bagi saya kota Duri adalah daftar pertama yang akan saya tulis dalam list liburan saya.
Begitulah yang saya rasakan tepat setelah Ujian Akhir Semester berakhir, hasrat saya untuk pulang kampung dan bersua dengan keluarga sangat menggebu. Walaupun ada sedikit kesedihan karena harus berpisah sementara dengan teman-teman seperjuangan, dan kampus UIN Suska Riau tempat saya berkuliah.
Setelah pulang dari kampus, saya mempersiapkan beberapa barang dan beberapa potong pakaian untuk dibawa ke kampung. Tidak terlalu banyak, muat hanya dengan satu tas ransel. Dan keesokan harinya saya memulai perjalanan untuk menemui keluarga di rumah.
Berangkat di pagi hari setelah berangkatnya orang-orang kantoran dan anak sekolah, agar tidak terkena macet dari kepadatan lalu lintas. Memacu kendaraan dengan batas kecepatan rata-rata, tidak ingin terburu-buru. Karena keluarga di rumah sudah menanti, maka keselamatan lebih diutamakan dari pada kecepatan.
Sepanjang perjalanan, tidak ada menarik. Baik dari pemandangan yang dinikmati, hanya hamparan sawit-sawit. Tidak seperti jalanan di Sumatra Barat yang sepanjang jalanan kita disuguhi hamparan perbukitan yang memanjakan mata. Walaupun begitu, tetap terasa istimewa hamparan sawit-sawit itu, karena sesuatu yang dituju selepas 120 KM perjalanan.
Setelah melewati hamparan sawit-sawit kurang lebih 3 jam, akhirnya saya sampai di depan pagar rumah. Menuju pintu dan mengucapkan salam, disambut juga dengan jawaban salam. Kebetulan saya sampai ketika hari sudah menunjukkan jam makan siang, artinya Ayah dan Ibu saya, serta adik-adik saya juga sedang berada di rumah. Terkecuali kakak saya yang pada saat itu sedang di berada di perantauan guna menyelesaikan skripsinya.
Salam dengan kedua orangtua, lalu bergegaslah saya untuk mengambil sebuah piring di dapur dan duduk di meja makan menyantap masakan ibu saya, sudah sangat lama tidak merasakan masakan yang digadang-gadang sebagai masakan paling lezat sedunia (berdasarkan presepsi masing-masing). Sembari makan juga mengobrol tentang bagaimana kabar, dan aktivitas di kampus saya.
Perjumpaan setelah sekian lama tidak bertatap muka kepada orang yang kita sangat sayangi, sebenarnya sudah menjadi makna liburan yang menyenangkan bagi saya. Tidak perlu pergi ke tempat-tempat wisata, atau bahkan sampai ke luar negeri. Cukup hanya dengan duduk di meja makan, mengobrol, dan sedikit berdiskusi dengan keluarga.
Aktivitas saya selama menghabiskan waktu liburan, tidak terlalu banyak runtinitas yang saya lakukan. Dari pagi hingga sore, saya habiskan untuk membantu ayah saya di toko. Juga diselingi dengan menjemput adik dari sekolah, dikarenakan cukup jauh baginya untuk berjalan kaki, terlebih lagi dia perempuan. Malam harinya juga lebih banyak menghabiskan waktu beristirahat di rumah, terkadang sesekali keluar untuk sekedar ngopi bersama teman. Sembari mengobrol santai dan bermain game di Gawai secara berkolektif.
Memang selama liburan masih banyak waktu kosong yang saya habiskan hanya untuk berselancar di internet, sedikit saya sayangkan bilamana waktu tersebut harusnya saya alokasikan untuk membaca buku, mungkin sudah lumayan banyak buku yang saya khatam. Terhitung liburan yang cukup lama, hampir mencapai 3 bulan.
Tetapi liburan yang hampir mencapai satu semester perkuliahan itu, tidaklah terasa lama bagi saya. Bahkan sedikit terlintas di benak saya, untuk menambah libur secara pribadi. Namun realita bahwa kuliah saya sudah hampir mencapai tingkat akhir, alangkah baiknya saya sedikit mengurangi rasa kenyamanan.
Tibalah waktunya saya untuk kembali ke Perantauan, menuju ibu kota Provinsi Riau, Pekanbaru. Sehari sebelum saya berangkat, ibu saya menyiapkan bekal lauk untuk beberapa hari, dan beberapa makanan cemilan. Tidak banyak, namun cukup untuk mengobati rasa rindu akan rumah pada saat di Perantauan. Yang biasanya rasa rindu itu muncul, ketika baru-baru memulai aktivitas.
Itulah sedikit cerita dari liburan saya yang terkesan tidak menarik bagi banyak orang, namun istimewa bagi saya pribadi. Kembali kepada presepsi masing-masing, bahwa setiap orang punya cara dalam mengisi dan menikmati liburannya. (ham)