Kabut Asap Mematikan, Tabung Oksigen Perlu Disiagakan di Sekolah

3.825 view
Kabut Asap Mematikan, Tabung Oksigen Perlu Disiagakan di Sekolah
Ilustrasi tabung oksigen. (foto: net)
PEKANBARU, datariau.com - Kalangan orang tua di Pekanbaru, Provinsi Riau, meminta pemerintah segera mengirimkan tabung berisi oksigen secara gratis ke sekolah-sekolah guna menekan korban meninggal akibat terpapar risiko kabut asap di daerah itu.

"Akibat terpapar resiko asap, kita bersedih karena korban bertambah lagi yakni seorang pelajar Madrasah Ibtidayah Negri (MIN) Ramadhani Luthfi Aerli (9) meninggal kekurangan oksigen akibat paru-parunya tertutup oleh asap," kata Kepala Sekolah SDN 12 Pekanbaru, Lastriani SPd, Kamis kemarin.

Permintaan tersebut disampaikannya terkait adanya keluhan orang tua wali murid yang tidak semuanya memiliki kesanggupan untuk membeli tabung oksigen tersebut, dan mengantisipasi jatuhnya korban tidak lagi hanya menggunakan masker.

Menurut Lastriani, selain sulit diperoleh karena stok oksigen di toko terbatas, juga harganya Rp45 ribu lebih per unit itu cukup mahal dan tidak bisa terjangkau oleh kalangan orang tua golongan ekonomi lemah.

Ia menyebutkan, tabung oksigen harus disedikan di tiap rumah, karena kondisi asap di Pekanbaru, dan sekitarnya kini dengan tingkat ISPU sudah sangat membahayakan. Seperti data BMKG Pekanbaru menyebutkan rata-rata ISPU di Riau sudah melebihi 500, dan kandungan konsentrasi polutan hampir mencapai 1.000 PM10 (particulate matter)

"Selain pelajar bahkan banyak guru tidak bisa bernafas, lemas dan sakit karena terpapar resiko asap. Kita kini menunggu kebijakan pemerintah dalam hal ini Menteri Kesehatan bersedia turun ke Pekanbaru, melihat sendiri bahaya asap yang terus mengancam keselamatan generasi penerus bangsa itu," katanya.

Oleh karena itu, berdasarkan kebijakan Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru, pelajar yang tadinya mulai belajar pukul 07.30 WIB terpaksa di pulangkan pukul 08.30 WIB.

Kebijakan ini ditempuh guna menghindari korban jiwa  sedangkan soal ujian tengah semester (UTS) diberikan dan anak-anak diberi toleransi menyelesaikan jawabannya di rumah.

Sulastri memandang bahwa bencana asap tahun 2015 merupakan bencana tahun ke-18 di Riau yang terparah sehingga dirinya perlu menyediakan alat penetralisir oksigen secara pribadi seharga Rp1,5 juta per unit.

Menjawab ini, Dinas Pendidikan Kota Pekanbaru akan mengkaji pembiayaan dan efektivitas penempatan tabung oksigen di setiap sekolah dalam mengantisipasi dan menanggulangi korban kabut asap.

"Ini suatu ide yang bagus untuk gawat darurat asap, khususnya para murid yang mendadak terserang sesak saat belajar di sekolah," ungkap Kadisdik Pekanbaru, Prof Zulpadil.

Zulfadil menjelaskan ia juga baru mendapat informasi tentang ide orang tua murid bagi penempatan tabung oksigen di setiap unit kesehatan sekolah.

Diakuinya ide ini bagus dan pantas dipertimbangkan, apalagi tidak ada yang bisa memastikan kabut asap yang mencemari Pekanbaru dan Riau umumnya kapan akan berakhir.

Masalahnya sekarang, semua itu membutuhkan dukungan biaya yang tidak sedikit. Karena pengadaan tabung dan oksigen sangat mahal. Itupun untuk saat ini stoknya menipis karena harus bersaing dengan kebutuhan rutin rumah sakit.

Disinyalir permintaan tabung gas oksigen ini meningkat akibat kabut asap yang melanda ibu kota Provinsi Riau ini hampir 2,5 bulan.

"Persoalannya mau dibeli pakai dana apa, tidak mungkin sekolah menggunakan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS)," tutur Prof.

Ia tidak memungkiri, dengan status tanggap darurat asap yang dicanangkan Provinsi Riau, maka ada dana yang bisa digulirkan dari pusat melalui tanggap darurat.

Tetapi untuk mendapatkannya butuh proses dan perjuangan.

"Namun demikian kami akan pelajari ini dulu, bagaimana bisa pengadaannya. Dengan mengkoordinasikannya dengan Disdik Provinsi Riau," sebutnya.

Prof Zulfadil menilai, pengadaan tabung oksigen pada tiap sekolah tidak meski banyak minimal setiap UKS memiliki satu tabung yang disiagakan dalam kondisi asap seperti saat ini.

"Jadi ketika ada murid yang mendadak alami sesak nafas akibat asap bisa dilakukan pertolongan pertama di UKS dengan bantuan oksigen," tandasnya.

Sebelumnya diberitakan, seorang pelajar Madrasah Ibtidayah Negeri (MIN) Ramadhani Luthfi Aerli (9) tahun meninggal dunia karena kekurangan oksigen akibat papaan asap, Rabu. (gus)