SMM PANEL INDO

iNaturalist, Cara Baru Belajar Biologi: Dekatkan Siswa dengan Alam Lewat Teknologi Digital

datariau.com
158 view
iNaturalist, Cara Baru Belajar Biologi: Dekatkan Siswa dengan Alam Lewat Teknologi Digital
Foto: Ist.

PEKANBARU, datariau.com - Pembelajaran Biologi tidak harus selalu berlangsung di dalam kelas dengan buku teks dan lembar kerja. Lingkungan sekitar sekolah dapat dimanfaatkan sebagai laboratorium alam untuk mengenalkan peserta didik pada keanekaragaman hayati melalui pengamatan langsung yang dipadukan dengan teknologi digital.

Salah satu platform yang dapat dimanfaatkan adalah iNaturalist, sebuah platform berbasis citizen science yang memungkinkan pengguna mendokumentasikan dan mengidentifikasi berbagai organisme di lingkungan sekitar. Melalui platform ini, peserta didik dapat memotret tumbuhan, serangga, burung, dan organisme lainnya, kemudian mengunggah hasil pengamatan untuk memperoleh bantuan identifikasi dari sistem dan komunitas pengguna.

Dokumentasi tersebut juga dapat menjadi bagian dari pencatatan keanekaragaman hayati. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya mengenal makhluk hidup melalui gambar di buku pelajaran, tetapi juga berinteraksi langsung dengan biodiversitas yang ada di lingkungan mereka.

Jadikan Lingkungan Sekolah sebagai Laboratorium Alam


Dalam pembelajaran Biologi, iNaturalist dapat digunakan untuk mendukung berbagai materi, terutama keanekaragaman hayati, klasifikasi makhluk hidup, ekosistem, konservasi, dan perubahan lingkungan.

Guru dapat mengajak peserta didik melakukan pengamatan di halaman sekolah, taman, lingkungan permukiman, atau ruang terbuka lainnya. Mereka kemudian mendokumentasikan organisme yang ditemukan menggunakan kamera ponsel dan mencatat informasi yang diperlukan, seperti lokasi serta waktu pengamatan.

Kegiatan tersebut dapat dikembangkan menjadi pembelajaran berbasis proyek atau Project-Based Learning (PjBL). Peserta didik dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk mendata keanekaragaman organisme di lingkungan sekolah. Setiap kelompok selanjutnya mengidentifikasi organisme, membandingkan jenis yang ditemukan di lokasi berbeda, serta mempelajari peran organisme tersebut dalam ekosistem.

Hasil pengamatan dapat disajikan dalam bentuk laporan digital, peta biodiversitas sederhana, atau dokumentasi keanekaragaman hayati di lingkungan sekolah.

Melalui pendekatan ini, peserta didik tidak hanya menerima informasi dari guru, tetapi juga membangun pemahaman melalui pengalaman dan pengamatan langsung.

Penelitian Fernández-Llamazares dan rekan-rekannya menunjukkan bahwa iNaturalist dapat dimanfaatkan sebagai sarana kolaboratif untuk pembelajaran biodiversitas di pendidikan menengah. Platform tersebut memungkinkan siswa melakukan pengamatan tumbuhan secara langsung sekaligus mendokumentasikan temuannya dalam bentuk herbarium virtual.

Pendekatan ini membuka peluang bagi guru untuk mengembangkan pembelajaran yang lebih kontekstual, partisipatif, dan berorientasi pada pengalaman nyata.

Sejalan dengan Konsep Pedagogi Hijau


Pemanfaatan iNaturalist juga memiliki keterkaitan dengan pedagogi hijau atau green pedagogy. Pendekatan ini menempatkan lingkungan bukan sekadar sebagai materi yang dipelajari, melainkan juga sebagai bagian penting dari pengalaman belajar.

Peserta didik didorong untuk memahami hubungan antara manusia dan alam, mengenali persoalan lingkungan, serta membangun kesadaran untuk menjaga keberlanjutan ekosistem.

Melalui pengamatan biodiversitas, siswa dapat memahami bahwa lingkungan sekitar sekolah menyimpan berbagai bentuk kehidupan yang saling berhubungan. Tumbuhan liar, kupu-kupu, semut, burung, hingga jamur yang selama ini mungkin dianggap biasa dapat menjadi objek untuk mempelajari hubungan antarmakhluk hidup dan keseimbangan ekosistem.

Dengan demikian, pembelajaran tidak berhenti pada kemampuan menghafal nama organisme. Peserta didik juga diajak mengenali fungsi, memahami peran, dan menghargai keberadaan makhluk hidup di sekitarnya.

Pendekatan tersebut relevan dikembangkan di wilayah yang memiliki kekayaan biodiversitas seperti Riau. Sekolah dan madrasah dapat memanfaatkan lingkungan terdekat sebagai ruang pembelajaran untuk mengenalkan keanekaragaman hayati lokal tanpa harus selalu melakukan perjalanan ke kawasan yang jauh.

Dokumentasi pengamatan biodiversitas di wilayah Riau yang tersedia melalui iNaturalist juga berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber referensi tambahan. Guru dapat menggunakannya untuk memperkaya diskusi mengenai jenis organisme yang ditemukan di lingkungan lokal, dengan tetap memeriksa ketepatan identifikasi dan informasi pendukungnya.

Mengenalkan Citizen Science kepada Peserta Didik


Selain mendukung pembelajaran Biologi, iNaturalist dapat memperkenalkan peserta didik pada konsep citizen science, yaitu keterlibatan masyarakat dalam kegiatan pengumpulan data dan informasi ilmiah.

Dalam penerapannya di sekolah, peserta didik berpartisipasi melalui kegiatan observasi, dokumentasi organisme, pencatatan informasi, dan pengunggahan hasil pengamatan. Data tersebut dapat digunakan untuk membantu mereka memahami bagaimana informasi biodiversitas dikumpulkan dan dimanfaatkan dalam kegiatan ilmiah.

Pengalaman ini juga dapat menumbuhkan pemahaman bahwa kegiatan sains tidak hanya dilakukan oleh peneliti di laboratorium atau lembaga penelitian. Masyarakat, termasuk pelajar, dapat berkontribusi melalui pengamatan yang dilakukan secara sistematis dan bertanggung jawab.

Perangkat digital pun memperoleh fungsi baru dalam proses pembelajaran. Ponsel yang terkadang dianggap mengganggu konsentrasi belajar dapat diarahkan menjadi alat observasi ilmiah. Kamera digunakan untuk mendokumentasikan organisme, platform digital untuk mencatat hasil pengamatan, sedangkan data yang terkumpul menjadi bahan analisis.

Namun, keberhasilan pendekatan ini tidak hanya ditentukan oleh penggunaan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan guru merancang kegiatan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Tantangan Penerapan di Sekolah


Meskipun menawarkan berbagai peluang, penggunaan iNaturalist dalam pembelajaran Biologi tetap memiliki sejumlah tantangan.

Pertama, ketersediaan perangkat dan akses internet. Tidak semua peserta didik memiliki ponsel dengan kamera memadai atau koneksi internet yang stabil. Karena itu, guru perlu menyesuaikan kegiatan dengan fasilitas sekolah dan kondisi peserta didik.

Salah satu alternatifnya adalah menerapkan kerja kelompok sehingga perangkat yang tersedia dapat digunakan bersama. Pengamatan dan pencatatan awal juga dapat dilakukan secara luring, kemudian hasilnya diunggah ketika akses internet tersedia.

Kedua, literasi digital guru dan peserta didik. Penggunaan iNaturalist tidak cukup hanya dengan memotret organisme dan mengunggahnya ke platform. Peserta didik perlu memahami cara melakukan pengamatan, mencatat informasi, membaca hasil identifikasi, serta mengevaluasi ketepatan informasi yang diperoleh.

Guru juga perlu memiliki pemahaman yang memadai agar teknologi benar-benar mendukung capaian pembelajaran, bukan sekadar menjadi aktivitas menggunakan aplikasi.

Ketiga, ketepatan identifikasi organisme. Saran identifikasi dari platform tidak selalu benar dan tidak boleh diterima begitu saja. Hasilnya perlu diperiksa berdasarkan ciri morfologi, dokumentasi yang memadai, serta sumber ilmiah yang relevan.

Kondisi ini justru dapat menjadi kesempatan untuk melatih kemampuan berpikir kritis dan keterampilan proses sains. Guru dapat meminta peserta didik membandingkan hasil identifikasi digital dengan karakteristik organisme yang diamati, kemudian menjelaskan alasan di balik kesimpulan mereka.

Keempat, keamanan dan etika pengamatan lingkungan. Guru perlu menentukan lokasi yang aman, memberikan arahan mengenai organisme yang boleh diamati tanpa disentuh atau diambil, serta memastikan kegiatan tidak mengganggu habitat.

Aspek privasi juga perlu diperhatikan, terutama ketika pengamatan dilakukan di sekitar permukiman. Peserta didik harus diarahkan agar tidak mengunggah foto yang menampilkan identitas pribadi atau informasi lokasi sensitif tanpa pertimbangan yang tepat.

Kelima, pengelolaan waktu pembelajaran. Proses observasi, dokumentasi, identifikasi, pengunggahan data, hingga analisis membutuhkan waktu lebih panjang dibandingkan pembelajaran yang hanya mengandalkan buku teks. Oleh karena itu, guru perlu menyusun tahapan kegiatan secara terstruktur agar tetap sesuai dengan capaian pembelajaran dan alokasi waktu yang tersedia.

Teknologi Digital Harus Tetap Ramah Lingkungan


Penggunaan teknologi digital tidak otomatis menjadikan pembelajaran lebih ramah lingkungan. Perangkat elektronik tetap membutuhkan energi dan sumber daya, sehingga pemanfaatannya perlu dilakukan secara bijak dan efisien.

Dalam konteks iNaturalist, pencatatan dan penyajian hasil pengamatan secara digital dapat mengurangi kebutuhan kertas serta bahan cetak yang tidak diperlukan. Meski demikian, penggunaan perangkat tetap harus disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran, bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi.

Prinsip utama pedagogi hijau adalah membangun hubungan yang bermakna antara proses belajar dan kepedulian terhadap lingkungan. Teknologi menjadi sarana pendukung, sedangkan pengalaman belajar, pemahaman ilmiah, dan pembentukan sikap bertanggung jawab terhadap alam tetap menjadi tujuan penting.

Penelitian mengenai pembelajaran berbasis proyek yang didukung iNaturalist juga menunjukkan adanya peluang pemanfaatan platform tersebut untuk mendukung literasi biodiversitas peserta didik. Meski demikian, hasil pembelajaran tetap bergantung pada desain kegiatan, pendampingan guru, kondisi peserta didik, dan kualitas proses pengamatan.

Dari Mengenali Organisme Menuju Kepedulian terhadap Alam


Pada akhirnya, pembelajaran Biologi berbasis iNaturalist menunjukkan bahwa teknologi tidak harus membuat peserta didik semakin jauh dari alam. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi jembatan yang mendekatkan mereka dengan lingkungan.

Kamera ponsel dapat menjadi alat dokumentasi ilmiah, halaman sekolah dapat menjadi laboratorium alam, dan organisme yang selama ini dianggap biasa dapat menjadi sumber pembelajaran yang bermakna.

Bagi sekolah dan madrasah di Riau, pendekatan ini dapat menjadi alternatif untuk mengintegrasikan teknologi digital, pembelajaran sains, dan kepedulian lingkungan. Peserta didik tidak hanya belajar tentang biodiversitas, tetapi juga berlatih mengamati, mendokumentasikan, menganalisis, dan memahami pentingnya menjaga keberadaan makhluk hidup di lingkungan mereka sendiri.

Dengan perencanaan yang tepat, iNaturalist dapat dimanfaatkan lebih dari sekadar aplikasi untuk mengenali tumbuhan dan hewan. Platform ini berpotensi menjadi jembatan antara teknologi, pembelajaran Biologi, dan pedagogi hijau, sekaligus membantu generasi muda memahami bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab bersama.***

Penulis
: Ghefira Firizti
JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)