Dongkrak Produktivitas UMKM, Mahasiswa Kukerta UNRI Lakukan Promosi Melalui Sosial Media

datariau.com
1.250 view
Dongkrak Produktivitas UMKM, Mahasiswa Kukerta UNRI Lakukan Promosi Melalui Sosial Media

PEKANBARU, datariau.com - Kegiatan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) merupakan salah satu bidang usaha yang dapat berkembang dan konsisten dalam perekonomian nasional.

Berdasarkan informasi Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (Kemenkop UKM) pada bulan Maret 2021 lalu, jumlah pelaku UMKM di Indonesia mencapai 64,2 juta dengan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) sebesar 61,07% atau Rp8.573,89 triliun.

UMKM mampu menyerap 97% dari total angkatan kerja dan mampu menghimpun hingga 60,42% dari total investasi di Indonesia.

Kelurahan Delima adalah salah satu kelurahan yang ada di Kota Pekanbaru. Kelurahan Delima tepatnya di Widya Graha II RW 08 memiliki beberapa UMKM yang telah beroperasi sejak lama. Diantara UMKM tersebut adalah UMKM Patin Jaya dan Keripik Pisang Ibu Rina.

Salah satu bentuk aksi yang dilakukan oleh Mahasiswa Kukerta UNRI dalam membantu pemasaran UMKM yang ada di Kelurahan Delima adalah dengan melakukan promosi menggunakan sosial media terhadap produk UMKM.

KKN Balek Kampung di Kelurahan Delima di bawah bimbingan DPL Dr Mayta Novaliza Isda MSi Kukerta UNRI ini juga terdiri dari 9 orang anggota yang diketuai oleh Muhammad Fajar Nugraha, dimana anggotanya adalah Sarah Novita, Vina Dwi Amanda, Nadia Kristina, Yana Lisa Warni, Diandra Prudentia, Qintara Sahira, Fransisca Elvarina, Syahrul M dan M Rizqy Pratama.

Aksi ini dilakukan karena tim Kukerta UNRI melihat UMKM yang ada di Kelurahan Delima tepatnya di Widya Graha II RW 08 belum memanfaatkan sosial media dalam melakukan proses pemasaran atau promosi, termasuk UMKM Patin Jaya dan Keripik Pisang Ibu Rina.

?UMKM Patin Jaya didirikan pada tahun 2010 oleh saya sendiri. Pada awalnya usaha ini saya jalankan sendiri dan melakukan produksi ketika ada pesanan dari saudara atau tetangga sekitar. Namun, pada tahun 2013 saya mendapatkan informasi bahwa ada bantuan dari pemerintah sebesar 30 juta untuk mengembangkan usaha dan akhirnya saya mengajak ibu-ibu Widya Graha II untuk bergabung dalam kelompok UMKM Patin Jaya dan saat ini anggota UMKM Patin Jaya berjumlah 14 orang yang diketuai oleh saya sendiri,? ujar Bu Wanti.

Baca juga: Mahasiswa Kukerta UNRI Tanamkan Semangat Literasi Kepada Siswa SDN 192 Pekanbaru


Nama Patin Jaya sendiri digunakan sebagai nama UMKM ini karena UMKM berfokus pada pengolahan ikan patin yaitu penolahan ikan patin menjadi bakso dan nugget. Namun, produksi UMKM Patin Jaya saat ini terhambat karena adanya pandemi COVID 19 yang berakibat juga menurunnya penjualan.

Selain itu, pemasaran yang dilakukan secara tradisional tanpa media sosial menghambat penjualan di era new normal yang membatasi distribusi produk nugget dan bakso ke konsumen, tidak adanya pengelolaan dibidang digital dan sosial media juga menjadi salah satu faktor yang menghambat pemasaran Patin Jaya. Selain UMKM Patin Jaya di Widya Graha II terdapat juga UMKM lain yaitu UMKM Keripik Pisang Rina.

?Keripik Pisang Rina telah beroperasi sejak lama, namun baru mendapatkan izin operasi oleh Lembaga OSS pada tahun 2016 saat ini, keripik pisang saya memiliki dua rasa ada rasa yang asin dan juga manis,? ujar Ibu Rina.

Sama halnya dengan UMKM Patin Jaya, Keripik pisang Ibu Rina juga masih melakukan promosi dan pemasaran secara tradisional. Dimana produksi akan dilakukan apabila ada pesanan dari tetangga, kerabat, dan masyarakat sekitar. Selain itu, Ibu Rina juga menitipkan keripik pisang di RS Prima dan Toko Cake dan House Widya.

?Saya pandai membuat keripik pisang ini awalnya diajarkan oleh mertua, karena rasanya yang nikmat membuat saya tertarik untuk membuka usaha. Dan penjualan keripik pisang pada saat itu hanya dari pesanan kerabat dan tetangga sekitar. Dapat dikatakan keripik pisang saya dikenal melalui mulut ke mulut,? sambung Ibu Rina.

Alasan yang sama dilontarkan juga oleh Ibu Rina, yaitu kurangnya pemahaman akan melakukan proses promosi menggunakan sosial media membuat pangsa pasar terhadap keripik pisang yang di produksinya belum terlalu luas. Dan banyak juga tempat-tempat yang sudah menjual produk serupa membuat pemasarannya juga belum luas.

Baca juga: Mahasiswa Kukerta UNRI Desa Kuntu Ikut Membuat Bubur


?Ya, karena saya tidak terlalu pandai dalam menggunakan sosial media jadinya saya belum bisa melakukan promosi melalui sosial media ataupun market place. Hal tersebut juga menjadi hambatan tersendiri dalam proses penjualan keripik pisang,? ujar Ibu Rina.

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)