PEKANBARU, datariau.com - Keberadaan imigran gelap di Kota Pekanbaru yang jumlahnya hampir seribuan, kini semakin meresahkan. Masyarakat mulai merasa terganggu dengan keberadaan imigran yang secara bergerombolan berkeliaran di wilayah Kota Pekanbaru.
Salah seoarang warga Ine, yang ditemui di Purna MTQ Jalan Jendral Sudirman, Senin sore kemarin mengaku tidak nyaman lagi berolahraga di lokasi tersebut. Sebab, lokasi ini telah dipenuhi imigran yang juga berkeliaran tidak tentu arah.
"Gimana tidak takut, rata-rata mereka sering ngumpul disana. Kami yang berolahraga merasa jadi tidak nyaman dengan keberadaan mereka yang sering bergerombolan," ujar Ine.
Dijelaskannya, dari pengalamannya selama adanya imigran yang juga memenuhi kompleks purna MTQ yang selama ini menjadi sarana olahraga dan rekreasi masyarakat Kota Pekanbaru, para imigran juga kerap menggoda wanita yang ada di sana tidak terkecuali dirinya.
"Kami digangguin, digodain, diminta nomor kontaklah dan lain sebagainya. Kami merasa tidak nyaman aja berolahraga di MTQ itu, apalagi kami tahu imej imigran yang berada di Kota Pekanbaru ini sudah menjadi permasalahan serius yang harus diwaspadai dari pengaruh buruk yang mereka bawa," papar Ine.
Imigran yang rata-rata pria kulit putih dengan tubuh tinggi tegap ini, sebenarnya mengundang perhatian beberapa remaji di Kota Pekanbaru. Namun tidak dengan Ine yang mengaku malah tidak simpati sedikitpun melihat imigran tersebut.
"Karena menurut informasi yang saya terima, mereka membawa ajaran sesat. Saya juga takut mereka menularkan penyakit berbahaya untuk warga kita," tukasnya.
Diakui Ine, para imigran memang saat ini berusaha untuk mendekatkan diri dengan masyarakat setempat terutama para wanita. Bahkan melalui media sosial wechat, Ine sempat berkenalan dengan imigrasi.
"Awalnya saya kira dia orang Indonesia, gak tahunya imigran. Karena saya merasa ingin tahu, saya pun menerimanya jadi teman di wechat. Dan saya berkomunikasi dengan bahasa Indonesia, tapi ajaibnya dia paham pula bahasa Indonesia," ungkap Ine.
Ine juga menceritakan perbincangan dalam komunikasi tersebut, bahwa imigran itu berasal dari Timur Tengah. Ia tidak begitu ingat namanya karena Ine sudah menghapus kontaknya dari pertemanan begitu ada pernyataan aneh yang diterimanya dari imigran tersebut.
"Saya sempat menanyakan ke dia, kenapa dia tidak pulang saja ke negara asalnya. Tapi dia bilang bahwa kalau dia pulang, dia akan dibunuh atau dipenggal kepalanya oleh orang-orang di negaranya," sebut Ine.
Dengan demikian, Ine berasumsi bahwa para imigran ini bukan orang baik-baik karena mereka memiliki masalah di negara mereka masing-masing. "Saya minta pemerintah segera berbuat untuk Kota Pekanbaru ini. Saya khawatir nanti jadi seperti di Bogor dan di Bandung. Masa kawin saja bisa dikontrak-kontrak, emangnya rumah kok bisa dikontrak. Saya takut dengan aliran yang mereka bawa," pungkasnya. (kur)