PEKANBARU, datariau.com - Jalur lambat yang berada di Jalan HR Soebrantas Panam, tepatnya di sekitaran Jalan Purwodadi mulai ramai dipadati pedagang kaki lima. Meskipun beberapa waktu lalu rutin dirazia Satpol PP namun saat ini sudah dibiarkan saja.
Pedagang ini berjualan pakaian, sepatu, jam tangan, batu akik hingga binatang, mulai memenuhi jalur lambat di bekas pasar jongkok Jalan Soebrantas ketika sore hari hingga tengah malam.
Akibatnya, arus lalu lintas jalan menjadi terganggu. Karena beberapa pembeli berdiri atau melihat-lihat barang dagangan di pinggir jalan. Kondisi tersebut tentunya membuat pengendara harus berhati-hati sehingga memperlambat laju kendaraan.
Salah satu lokasi pedagang yang banyak dikunjungi masyarakat adalah penjual bahan batu akik. Dengan menggelar dagangannya di atas trotoar Jalan Soebrantas, beberapa calon pembeli tampak mengelilingi lapak pedagang. Kondisi ini juga dinilai cukup menggangu arus lalulintas, pasalnya beberapa pengendara yang penasaran juga terlihat memperlambat laju kendaraan dan berusaha menepi.
Salah seorang pengendara Amril, kepada wartawan, belum lama ini mengeluhakan hal tersebut. Warga Jalan Purwodadi ini mengaku perjalannya cukup terhambat dengan kembali berjulannya para pedagang di jalur lambat yang notabene digunakan kendaraan bermotor untuk melintas.
"Dulu ada Satpol PP yang berjaga, tapi sekarang tidak nampak lagi. Cukup mengganggu lalulintas juga, karena kendaraan pembeli diparkir di pinggir jalan," tuturnya.
Sementara itu, salah seorang pedagang pakaian, Bambang menuturkan, ia terpaksa berjualan di trotoar jalur lambat lantaran tidak mempunyai cukup modal untuk menyewa kios atau lapak di pasar yang telah ditentukan. Diakuinya kalau berjualan di trotoar jalur lambat, lebih banyak pembeli yang mampir meskipun hanya sekedar melihat-lihat.
"Kalau jualan disini tidak perlu menyewa lapak, modal saya hanya sedikit. Takut juga kalau ada Satpol PP, tapi mau bagaimana lagi. Cuma berdagang inilah satu-satunya penghasilan kami untuk menyambung hidup. Seandainya diberi modal untuk menyewa kios di pasar yang telah ditentukan, kami mau saja untuk pindah," tuturnya.
Senada dengan Bambang, Dayat, salah seorang pedagang sepatu mengaku memilih berdagang di trotoar jalur lambat karena lebih ramai jika dibandingkan dengan berjualan di Pasar Purwodadi.
"Kalau disini lebih ramai, dulu pernah jualan di Pasar Purwodadi tapi sepi pembeli hingga sampai tutup pasarnya sekarang. Kalau omset lumayanlah disini, bisa sampai Rp300-500ribu permalam," pungkasnya. (umm)