PEKANBARU, datariau.com - Menyusul larangan terhadap impor pakaian bekas oleh Kementerian Perdagangan beberapa waktu lalu karena adanya bakteri mematikan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pekanbaru melakukan razia ke pasar Senapelan (Pasar Kodim), Kamis kemarin.
"Sebetulnya Disperindag sudah turun pada hari Rabu lalu. Namun kita tidak menemukan pakaian bekas impor, yang ada kita temui itu mereka membeli dari Selat Panjang, Tembilahan, dan Tanjung Balai Karimun. Belum ada kita temui secara langsung yang dari luar negeri," kata Kepala Disperindag Pekanbaru El Sabrina.
Diakui El, sebetulnya Disperindag belum menerima pemberitahuan, baik melalui surat, maupun dalam bentuk e-mail terkait larangan itu. Namun, untuk antisipasi hal buruk Disperindag melakukan pengecekan.
"Secara tertulis belum ada pemberitahuan dari Kementerian. Saya juga sudah ditelepon oleh Walikota, beliau perintahkan untuk kita turun hari ini. Makanya kita turun lagi. Sejauh ini kita belum temukan pakaian impor yang dimaksud," jelasnya.
Namun begitu, jika memang Disperindag kedepan menemui adanya pakaian bekas asal luar negeri tindakan yang dilakukan bisa saja melarang pedagang untuk berjualan. Tapi untuk tindak awal, Disperindag masih mencoba secara persuasif saja.
"Kalau ada yang impor dari luar negeri, kita imbau mereka untuk tidak menjual. Intinya pemerintah, secara persuasif dulu," kata Kepala Disperindag El Sabrina menambahkan.
Sementara itu, salah seorang pedagang pakaian bekas yang berada di Pasar Kodim Jerni Boru Silalahi mengaku sangat dirugikan dengan kebijakan ini.
"Kayak mananya, semua dilarang di negara ini, mau cari makan aja payah kali, kalau mau dirazia terus ditarik pulak barang kita, ya rugilah kami, kami kan pakai modal belinya" kata Jerni.
Sementara itu, Yuli Maidi (41) salah seorang peminat pakaian bekas mengatakan agak kecewa dengan kebijakan pemerintah pasalnya dia mengaku dengan adanya pakaian bekas ini dirinya merasa terbantu, karna harga yang terjangkau dan barang berkwalitas baik.
"Ada-ada saja kebijakan pemerintah nih, kita ini bukannya orang berduit semua, kalau mau beli barang ber-merk dan berkwalitas baik pastilah harus punya duit banyak, kalau dibeli pakaian monja (bekas) kan barang ber-merk harganya murah, meskipun barang bekas, kan masih bagus dan layak pakai," kata perempuan yang bekerja di sebuah apotik swasta ini. (wan)