Toleransi dalam Bingkai Nataru, Manifestasi Toleransi yang Dipaksakan!

Oleh: E. Maznah Awiyah
datariau.com
1.930 view
Toleransi dalam Bingkai Nataru, Manifestasi Toleransi yang Dipaksakan!
Ilustrasi. (Foto: Internet)

DATARIAU.COM - "Dalam berbangsa kita memang sama, tapi dalam beragama kita tetap berbeda, tidak bisa menyamakan dan tidak bisa disama-samakan. Begitulah toleransi!" (Mat Ali)

Intermezo


Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, Indonesia merupakan negara pluralis yang memiliki diversitas agama dan kultur yang heterogen. Oleh karena itu, toleransi beragama menjadi salah satu pilar krusial kehidupan bermasyarakat dalam ikhtisar menjaga kerukunan antarumat beragama. Namun ironis, dalam implementasinya selalu muncul konfrontasi yang menyimpang dari prinsip-prinsip Islam.

Secara universal, diversitas agama memang diberikan space yang cukup dalam sistem sekuler kapitalis, dimana konstitusi menjamin kebebasan beragama. Bebas untuk membangun tempat ibadah, bebas untuk menjalankan ibadah, dan bebas untuk menyebarkan ajaran agama bagi berbagai kelompok keagamaan.

Dalam konteks merealisasikan lingkungan yang toleran, kebebasan ini memang dapat meminimalisir atau bahkan mengeliminasi berbagai konflik yang mungkin timbul antaragama secara frontal. Namun, toleransi ini seringkali hanya dianggap sebagai aksesoris yang bersifat instrumental dimana kepentingan ekonomi dan pragmatisme dijadikan sebagai desain fondasinya.

Diversitas agama memiliki nilai inheren yang krusial dan perlu dihormati, dan bukan sebaliknya malah dijadikan sebagai komoditas dalam sektor investasi dan turisme, dan bahkan sebagai aset komersil.

Hal inilah yang kemudian dapat disebut sebagai "toleransi paksa," dimana toleransi dipaksakan demi menjaga stabilitas sosial dan ekonomi, dan bukan karena interpretasi dan akseptasi yang tulus.

Toleransi beragama yang salah arah ini dapat menimbulkan berbagai masalah sosial dan konflik di tengah-tengah masyarakat. Apalagi dengan semakin masifnya propaganda kampanye moderasi beragama dan mengatasnamakan HAM, membuat umat semakin terdistorsi dari esensi interpretasi toleransi yang sesungguhnya.

Sistem sekuler kapitalis, seringkali diklaim sebagai pendorong toleransi beragama. Namun, klaim ini perlu dikaji lebih intensif. Apakah realisasi toleransi dalam sistem ini merupakan toleransi autentik yang lahir dari interpretasi dan penghormatan, atau justru manifestasi dari toleransi paksa yang hanya sebatas label?

Baca juga: Bentengi Anak Dari Paham Liberal dan Pluralisme


Toleransi dalam Bingkai Natal dan Tahun Baru (Nataru)

Menteri Agama (Menag) Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga keharmonisan antarumat beragama menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru 2024/2025, radarsampit.jawapos.com (15/12).

Toleransi. Kata krusial ini sering disampaikan menjelang perayaan Nataru, khususnya kepada umat Islam, oleh para pejabat negara termasuk para kepala daerah. Umat Islam akan dianggap toleran ketika mereka berpartisipasi dalam perayaan suatu keagamaan tertentu dan intoleran ketika terjadi yang sebaliknya.

Mengapa hal ini terjadi? Inilah pentingnya bagi para pejabat negara termasuk para kepala daerah untuk memiliki interpretasi konseptual akan tugasnya sebagai pemilik otoritas dalam menjaga urusan umat termasuk dalam penjagaan negara atas akidah umat. Lantas bagaimanakah umat Islam harusnya bersikap?

Interpretasi Toleransi


"Toleransi itu menghargai perbedaan, bukan memaksa untuk menyamakan perbedaan" (Anonim)

Toleransi adalah sikap saling menghargai perbedaan, baik dalam hal perspektif hidup, agama, maupun kultur. Dalam konteks perayaan Nataru, ada banyak pihak yang berupaya untuk menghadirkan vibes harmonis dengan menyebarkan semangat toleransi.

Namun, menjadi sesuatu yang urgensi untuk digarisbawahi bahwa toleransi tidak berarti mengorbankan keyakinan dan nilai-nilai yang kita anut. Toleransi yang sehat harus didasarkan pada penghormatan kepada perbedaan, tanpa memarginalkan jati diri dan kultur masing-masing.

Toleransi Ekstrem


"Toleransi itu Menghormati dan Menghargai, bukan Mengikuti!" (Anonim)

Berikut beberapa contoh toleransi ekstrem yang dipaksakan:

• Menggunakan atribut agama tertentu dalam menghargai perayaan agama tersebut atas nama toleransi. Seharusnya cukup bagi pemeluk agama tersebut saja yang melakukannya

• Beberapa oknum baik nonis maupun umat muslim sendiri yang sekuler liberal, "memainkan" isu propaganda pada setiap perayaan Nataru agar seluruh umat Islam mengucapkan selamat natal kepada para umat Kristiani atas nama toleransi, jika tidak maka akan dicap intoleran. Hal yang selalu membuat gaduh setiap tahunnya, padahal hal tersebut bertentangan dengan syariat Islam dan bahkan tidak perlu karena semua umat Kristiani tetap akan merayakan Nataru, tidak perduli diucapkan ataupun tidak

• Yang berpuasa harus menghormati yang tidak berpuasa saat bulan Ramadhan atas nama toleransi. Seharusnya terbalik, yang tidak berpuasa menghormati yang berpuasa karena Indonesia jumlah muslimnya mayoritas

• Lantunan ayat Al-Qur'an dan Injil di Masjid Istiqlal, Jakarta, dalam rangka menyambut kedatangan pemimpin gereja katolik dunia Paus Fransiskus atas nama toleransi. Seharusnya cukup dilakukan di tempat lain, tempat yang menjadi universal bagi semua orang dan bukan di masjid, karena masjid itu tempat ibadah, tempat suci umat muslim

• Wacana penayangan Adzan Maghrib ditiadakan di saluran TV nasional, saat Misa Agung yang dilakukan secara live oleh Paus Fransiskus di GBK Jakarta atas nama toleransi. Seharusnya tidak perlu karena durasi adzan maghrib cuma 5 menit dan Indonesia ini mayoritasnya umat muslim

• Labeling makanan Halal oleh MUI atas nama toleransi. Seharusnya semua makanan yang akan menjadi konsumsi rakyat Indonesia ini sudah terjamin kehalalannya oleh MUI karena Indonesia mayoritasnya umat muslim. Jadi MUI cukup mengklasifikasi dan meregulasi makanan dengan label haram hanya untuk makanan yang tidak halal saja

Untuk mencegah toleransi yang ekstrem, kita perlu meningkatkan kesadaran akan urgensinya menjaga jati diri dan kultur kita. Caranya melalui edukasi religi yang baik dan diskusi secara transparan dan intensif yang dimulai dari dalam keluarga, sebagai entitas masyarakat terkecil. Maka menjadi penting untuk menyadari risiko dari toleransi yang ekstrem, karena berpotensi membuat batas antara ajaran agama dan kultur menjadi bias.

Baca juga: Penting Diketahui, Cara Menjaga Anak dan Pemuda dari Paham Berbahaya Liberal dan Pluralisme


Toleransi dalam Perspektif Islam


"Toleransi dalam Islam itu “bagimu agamamu dan bagiku agamaku", bukan dengan mengikuti bahkan meramaikan hari ibadah agama lain" (Anonim)

Toleransi dalam Islam bukan berarti berkompromi terhadap akidah. Toleransi sejati dalam Islam adalah menghargai perbedaan tanpa mengorbankan prinsip-prinsip fundamental agama.

Dalam Islam, toleransi dideskripsikan sebagai sebuah attitude untuk saling menghormati dan menghargai adanya perbedaan tetapi bukan memaksa. Refleksi toleransi itu sendiri dalam bentuk perbedaan pendapat, agama, pemikiran, maupun kultur sehingga terealisasi hubungan yang baik dengan sesama manusia (hablun minannas) dan toleransi berlaku bagi semua orang, baik itu sesama muslim maupun non-muslim.

Dalam perspektif Islam, tasamuh (toleransi) beragama diajarkan sebagai toleransi yang aktif dan konstruktif, berakar pada penghormatan terhadap harkat dan martabat manusia serta prinsip-prinsip kasih sayang, serta keadilan dan bukan hanya sekadar toleransi pasif yang membiarkan perbedaan agama eksis secara terpisah.

Menurut Syekh Muhammad Yusuf Al-Qaradhawi, toleransi dalam Islam berakar pada empat prinsip, yaitu:

1. Prinsip diversitas, pluralitas. Meyakini Keesaan Allah Subahanahu wa Ta'ala dan keberagaman ciptaan-Nya untuk saling mengenal dan menghargai. (QS Al-Hujurat:13)

2. Prinsip diversitas terjadi karena kehendak-Nya. Allah Subahanahu wa Ta'ala tentu tidak berkehendak pada sesuatu kecuali ada kebaikan di dalamnya. (QS Yunus:99)

3. Prinsip yang memandang manusia sebagai satu keluarga. Semua orang, dari sisi penciptaan, kembali kepada satu Tuhan, yaitu Allah Subahanahu wa Ta'ala, dan dari sisi nasab, keturunan, ia kembali kepada satu asal (bapak), yaitu Nabi Adam AS (QS An-Nisa:1)

4. Prinsip kemuliaan manusia dari sisi kemanusiannya. Manusia adalah makhluk tertingi ciptaan Allah Subahanahu wa Ta'ala, dimuliakan dan dilebihkan atas makhluk lain (QS al-Isra:70).

Perspektif Islam menekankan toleransi pada pemahaman, penghormatan, dan kerjasama antarumat beragama dengan referensi toleransi yang lebih substansi dan komprehensif. Untuk mencapai toleransi sejati, diperlukan kolaborasi semua elemen masyarakat untuk membangun interpretasi yang benar tentang agama lain, menghormati hak asasi manusia, dan mewujudkan keadilan bagi semua.

Baca juga: Ini Dalil Lengkap Larangan Mengucapkan Selamat Natal


Penutup


Manifestasi toleransi tidak berarti kita wajib berpartisipasi dengan budaya agama lain dan berkompromi terhadap akidah. Kita punya aturan, batasan dan akidah yang konkret. "Lakum dinukum waliyadin", untukmu agamamu dan untukku agamaku. (QS Al-Kafirun:6). Wallaahu'alam bissawab.***

Baca juga: Fatwa MUI: Menggunakan Atribut Keagamaan Non-Muslim Adalah Haram

JIKA MENEMUKAN BERITA KAMI TIDAK SESUAI FAKTA, SEGERA HUBUNGI 0813 3966 1966 (Chat WhatsApp Only)